Analis Memperingatkan Dominasi Bitcoin Terancam Stablecoin

Analis menilai, dominasi tether semakin meningkat ketimbang bitcoin.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 14 Februari 2026, 14:00 WIB
Ketika pasar kripto berjuang kembali mendapatkan momentum, analis mengamati sinyal tak bisa yakni kenaikan stablecoin yang stabil. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Ketika pasar kripto berjuang kembali mendapatkan momentum, analis mengamati sinyal tak bisa yakni kenaikan stablecoin yang stabil. Hal ini akan mempengaruhi bitcoin (BTC).

Mengutip Yahoo Finance, Sabtu (14/2/2026), stablecoin merupakan kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai yang stabil, biasanya dipatok pada mata uang fiat seperti dolar Amerika Serikat (AS).

Senior Commodity Strategist Bloomberg Intelligence, Mike McGlone menuturkan, tren paling tahan lama di kripto bukan token spekulatif tetapi dominasi tether yang semakin meningkat. "Tether pada akhirnya akan melampaui bitcoin,” kata dia.

Tether terus meningkat, dan melampaui kripto lainnya dalam kapitalisasi pasar. Menurut McGlone, stablecoin USDT Tether telah melampaui sebagian besar altcoin. Hanya Ethereum (ETH) dan bitcoin (BTC) yang masih unggul.

Pada 13 Februari 2026, kapitalisasi pasar USDT mencapai USD 184,6 miliar atau Rp 3.108 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.840.).

Untuk memberikan gambaran, total kapitalisasi pasar stablecoin adalah USD 307,1 miliar atau Rp 5.710 triliun, dan stablecoin yang berada di urutan kedua setelah USDT adalah USDC milik Circle dengan nilai USD 73,2 miliar atau Rp 1.232 triliun.

Signifikansinya bukan tentang apresiasi harga, tetapi tentang pertumbuhan pasokan dan posisi modal. Ketika kapitalisasi pasar stablecoin meningkat sementara aset berisiko melemah, hal itu sering kali menandakan perilaku defensif.

McGlone mengaitkan hal ini langsung dengan penurunan teknis Ether baru-baru ini. Setelah kehilangan titik pivot USD 2.500 yang telah bertahan sejak 2024, ETH sekarang mengincar USD 1.500 sebagai level support kunci berikutnya.

Jika Ether turun menuju USD 1.500 sementara pasokan USDT terus meningkat, Tether dapat melampaui Ethereum dalam kapitalisasi pasar, menjadi aset kripto terbesar kedua.

 

Skenario Analis

Ilustrasi Stablecoin. (Foto by AI)

Pergeseran seperti itu akan bersifat simbolis. Stablecoin yang melampaui Ethereum akan menggarisbawahi pelestarian modal daripada pengambilan risiko.

Ia berpendapat jika Bitcoin jatuh mendekati USD 10.000 sementara pasokan Tether terus meningkat, USDT pada akhirnya dapat melampaui Bitcoin dalam kapitalisasi pasar.

Bitcoin telah mengalami aksi jual yang sering terjadi sejak Oktober 2025. Dari puncak USD 124.000, kini berada di sekitar USD 68.741, penurunan lebih dari 44%.

Skenario McGlone akan berarti pasar bearish yang dalam yang ditandai dengan sentimen penghindaran risiko yang berkelanjutan, permintaan yang terus-menerus untuk likuiditas yang didukung dolar, dan investor lebih menyukai stabilitas daripada volatilitas.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Tether Kini jadi Pemegang Bitcoin Terbesar ke-5

Stablecoin Stock Market Cryptocurrency. (iqoncept/depositphotos.com)

Sebelumnya, Tether kini menjadi pemegang bitcoin terbesar kelima di dunia.Hal ini setelah tether mengakuisisi 8.888 bitcoin (BTC) pada kuartal IV 2025. Dengan akuisisi bitcoin itu membuat total kepemilikan Tether di bitcoin menjadi 96.185 senilai USD 8,42 miliar atau Rp 140,61 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.700)

Pembelian BTC senilai USD 876 juta atau Rp 14,62 triliun memperkuat komitmen penerbit stablecoin untuk mengkonversi keuntungan menjadi bitcoin. Pembelian ini terjadi juga saat minat institusional terhadap kripto tetap kuat meski pasar melemah baru-baru ini, terutama menjelang akhir kuartal IV 2025.

Penerbit USDT mentransfer 961 BTC senilai USD 97,18 juta atau Rp 1,62 triliun dari Bitfinex pada 7 November, diikuti oleh 8.888,8 BTC senilai USD 778 juta atau Rp 12,99 triliun pada 1 Januari, menurut perusahaan analisis blockchain EmberCN.

Tether mempertahankan rata-rata harga akuisisi sekitar USD 51.117 di seluruh kepemilikannya, menghasilkan keuntungan yang belum terealsasi sebesar USD 3,524 miliar pada valuasi saat ini sekitar USD 88.700 per koin.

 

Pembelian ETF Bitcoin

Bitcoin (Foto: Jievani Weerasinghe/Unsplash)

Selain Tether, Goldman Sachs mengungkapkan pembelian ETF bitcoin senilai USD 1,7 miliar atau Rp 28,39 triliun. Sementara itu, Strategy menambah 1.229 bitcoin senilai USD 108,8 juta atau Rp 1,81 triliun selama pekan yang berakhir pada 28 Desember 2025. Dengan demikian,asetnya menjadi 672.497 bitcoin yang diperoleh dengan nilai USD 50,44 miliar.

Pembelian itu ketika bitcoin merosot menuju USD 88.000 setelah gagal mempertahankan level tertinggi baru-baru ini di dekat USD 93.000, terutama didorong oleh tekanan harga jangka pendek.

Strategy menandai akuisisi terbaru sepenuhnya melalui penjualan saham. Hal itu menghasilkan pendapatan yang setara dengan penyebaran bitcoin tanpa menerbitkan saham preferen.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya