Liputan6.com, Jakarta - Pasar modal Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan hasil tinjauan indeks terbarunya untuk Februari 2026. Perombakan ini membawa dampak bagi beberapa saham emiten di Indonesia. Keputusan ini akan berlaku efektif setelah penutupan perdagangan pada 27 Februari 2026.
Rebalancing indeks MSCI saham kali ini melibatkan perubahan kategori untuk PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) serta pengeluaran dua saham lainnya dari indeks. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mengalami penurunan kategori dari MSCI Global Standard Indexes ke MSCI Global Small Cap Indexes.
Advertisement
Selain INDF, dua emiten lainnya juga harus terdepak dari daftar indeks MSCI. PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes.
Lalu bagaimana gerak saham INDF, ACES, dan CLEO pada perdagangan saham Kamis, (12/2/2026)?
Mengutip data RTI, harga saham ACES melemah 1,47% ke posisi Rp 402 per saham. Harga saham ACES dibuka turun dua poin ke posisi Rp 406 per saham. Saham ACES berada di level tertinggi Rp 406 dan level terendah Rp 400 per saham. Total frekuensi perdagangan 2.276 kali dengan volume perdagangan saham 174.039 saham. Nilai transaksi Rp 7 miliar.
Sementara itu, saham CLEO naik 1,51% ke posisi Rp 404 per saham. Harga saham CLEO dibuka stagnan di posisi Rp 398 per saham. Saham CLEO berada di level tertinggi Rp 412 dan terendah Rp 398 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.015 kali dengan volume perdagangan saham 55.793 saham. Nilai transaksi Rp 2,3 miliar.
Di sisi lain, saham INDF menguat 1,12% ke posisi Rp 6.775 per saham. Harga saham INDF dibuka menguat 25 poin ke posisi Rp 6.725 per saham. Saham INDF berada di level tertinggi Rp 6.800 dan level terendah Rp 6.700 per saham. Total frekuensi perdagangan 9.311 kali dengan volume perdagangan 133.880 saham. Nilai transaksi Rp 90,5 miliar.
Mengenal Lebih Dekat MSCI
MSCI, singkatan dari Morgan Stanley Capital International, adalah sebuah perusahaan riset global yang menyediakan berbagai indeks dan data pasar saham. Indeks MSCI berfungsi sebagai acuan krusial bagi investor institusional maupun individu dalam mengambil keputusan investasi strategis. Perusahaan ini dikenal sebagai standar global untuk mengukur pergerakan pasar saham internasional secara objektif, yang pertama kali diperkenalkan pada 1969 dan terus berkembang pesat.
Indeks-indeks yang disediakan oleh MSCI dirancang untuk mengukur kinerja pasar saham di berbagai negara, wilayah, dan sektor di seluruh dunia. Bagi Indonesia, terdapat dua indeks utama yang sangat relevan. Pertama, MSCI Indonesia Index, yang mengukur kinerja segmen kapitalisasi besar dan menengah di pasar Indonesia, mencakup sekitar 85% dari keseluruhan ekuitas Indonesia dengan 18 konstituen per 30 Januari 2026.
Kedua, MSCI Emerging Markets Index, yang mencakup representasi saham berkapitalisasi besar dan menengah di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Indeks ini mencakup sekitar 85% dari kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float di setiap negara, dengan Indonesia menjadi salah satu dari 24 negara Emerging Markets yang dicakup per Januari 2026.
Secara berkala, MSCI melakukan peninjauan ulang atau rebalancing indeks sebanyak empat kali setahun, yaitu pada Februari, Mei, Agustus, dan November. Tujuan utama dari rebalancing ini adalah untuk memperbarui bobot dan komposisi saham agar tetap mencerminkan realitas pasar yang dinamis. Proses ini melibatkan evaluasi kapitalisasi pasar, likuiditas saham, dan karakteristik relevan lainnya.