Harga Bitcoin Bergejolak Setelah Rilis Data Pekerjaan AS, Inflasi jadi Perhatian

Analis menyebutkan, setelah rilis data tenaga kerja, perhatian investor tertuju kepada data inflasi AS. Sentimen ini akan bayangi harga bitcoin (BTC).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 12 Februari 2026, 15:18 WIB
Setelah Amerika Serikat (AS) merilis data tenaga kerja, berikut pergerakan harga bitcoin (BTC) pada Kamis, (12/2/2026). (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga bitcoinkripto kapitalisasi pasar terbesar (BTC) bergerak di zona merah pada Kamis sore, (12/2/2026) pukul 14.53 WIB. Analis menilai, koreksi harga bitcoin didorong kekhawatiran investor terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) usai data tenaga kerja AS lebih kuat.

Mengutip data Coinmarketcap.com, harga bitcoin (BTC) turun tipis dalam 24 jam terakhir. Namun, harga bitcoin berbalik arah menghijau. Harga BTC naik 0,14% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga bitcoin anjlok 4,94%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi USD 67.168 atau Rp 1,12 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.780).

Harga Ethereum (ETH) menguat 0,90% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga Ethereum merosot 5,6%. Kini, harga Ethereum berada di posisi USD 1.968 atau Rp 33,02 juta.

Kapitalisasi pasar kripto global bertambah 0,65% menjadi USD 2,29 triliun dalam 24 jam terakhir. Saat ini, kapitalisasi pasar kripto global mencapai Rp 38.431 triliun.

Financial Expert Ajaib Panji Yudha menuturkan,pasar aset digital alami koreksi merata setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang jauh lebih kuat dari harapan. Harga bitcoin sempat tergelincir ke level USD 65.756 atau Rp 1,10 miliar, mengakhiri fase konsolidasi empat hari di kisaran USD 68.000-USD 72.000.

“Penurunan ini dipicu kekhawatiran investor kalau pemangkasan suku bunga lebih awal akan sulit terwujud mengingat kondisi pasar tenaga kerja AS yang terbukti sangat resilien,” ujar dia dikutip dari keterangan resmi, Kamis pekan ini.

Berikut sejumlah data ekonomi AS:

Lonjakan Nonfarm Payrolls (NFP): Bureau of Labor Statistics melaporkan kenaikan lapangan kerja non-pertanian sebesar 130.000 pada Januari. Angka ini melonjak tajam dari 48.000 pada Desember dan jauh melampaui prakiraan Dow Jones yang hanya sebesar 50.000.

Indikator Ekonomi Utama: Tingkat pengangguran AS turun tipis menjadi 4,3% (dari 4,4% bulan sebelumnya), sementara Average Hourly Earnings bertahan stabil di angka 3,7% secara tahunan.

 

 

Potensi Harga Bitcoin

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Respons Indeks Dolar (DXY): DXY diperdagangkan di zona 96,80. Meskipun data tenaga kerja kuat, sentimen dovish untuk paruh kedua tahun ini masih menekan penguatan dolar lebih lanjut.

Antisipasi Data Inflasi (IHK): Pasar kini mengalihkan perhatian pada laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) Jumat.

“Jika angka inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, hal ini berpotensi memperkuat dolar namun berdampak negatif bagi aset berisiko seperti kripto,” ujar Panji.

Ketahanan Arus Kas ETF: Di tengah volatilitas harga, instrumen ETF Bitcoin Spot melanjutkan tren positifnya. Setelah mencatatkan inflow USD 145 juta di awal pekan, pada Selasa, 10 Februari 2026 tercatat tambahan net inflow sebesar USD 166,56 juta yang memberikan dukungan likuiditas di tengah tekanan jual pasar spot.

“Hari ini, Bitcoin berpotensi bergerak di sekitar USD 66.000 – USD 69.000. Ethereum berpotensi bergerak di sekitar USD 1.900 – USD 2.200,” kata dia.

 

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya