Optimalkan Potensi Mangrove di Bintan Berkelanjutan, Kawasan Budidaya hingga Wisata

Hutan mangrove Bintan berpotensi besar dikembangkan jadi kawasan budidaya dan wisata berkelanjutan yang dukung ekonomi lokal serta pelestarian lingkungan.

oleh Ahmad KhuzaifiDiterbitkan 13 Februari 2026, 13:03 WIB
Pecinta mangrove asal Jepang Naoto Akune (kiri) dan Ketua Komunitas Jurnalis Kepri Ady Indra Pawennari di Bintan, Selasa, 10 Februari 2026. (Dok.Antara)

Liputan6.com, Jakarta - Kawasan mangrove Bintan yang terletak di pesisir Sungai Tiram, Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, kini mulai dilirik sebagai lokasi strategis untuk pengembangan kawasan budidaya sekaligus wisata yang berkelanjutan. 

Potensi besar ekosistem ini menarik perhatian Naoto Akune, seorang pecinta mangrove asal Jepang, yang memperkenalkan konsep budidaya perikanan berbasis silvofishery. 

Metode ini dikenal sebagai pendekatan ramah lingkungan yang memadukan pelestarian hutan bakau dengan aktivitas ekonomi perikanan produktif. 

Kehadiran Akune di Bintan merupakan bagian dari kegiatan penanaman mangrove bersama Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026.

Akune menjelaskan bahwa silvofishery adalah metode tradisional yang terbukti efektif di berbagai negara, termasuk Jepang dan wilayah Asia Tenggara lainnya. 

Dalam konsep yang ditawarkannya, tata ruang lahan diatur secara proporsional sekitar 60 hingga 80 persen area tetap dijaga sebagai hutan mangrove alami, sedangkan 20 hingga 40 persen sisanya dimanfaatkan menjadi kolam atau parit untuk budidaya komoditas seperti ikan, udang, atau kepiting. Integrasi ini menciptakan simbiosis mutualisme antara alam dan ekonomi.

"Kawasan mangrove ini potensial dikembangkan menjadi model budidaya berkelanjutan yang mampu menjaga ekosistem sekaligus menghasilkan nilai ekonomi dengan sistem silvofishery,” kata Akune di Bintan, dikutip dari Antara, Kamis 12 Februari 2026.

Menurut pandangannya, mangrove memiliki fungsi vital sebagai biofilter alami yang mampu menjaga kualitas air, menyediakan pakan alami, serta melindungi kawasan pesisir dari abrasi. Dengan ekosistem yang terjaga, ketergantungan pada bahan kimia dapat dikurangi drastis.

"Mangrove ini sangat penting karena berfungsi sebagai penyaring alami, menjaga kualitas air, dan menyediakan nutrisi bagi biota. Dengan sistem ini, kebutuhan pakan tambahan dan obat-obatan bisa ditekan, sehingga budidaya menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan," ucap Akune.

Solusi Ekonomi Hijau bagi Masyarakat Pesisir

Romana Rebo memantau bibit mangrove yang ia tanam bersama puluhan ibu-ibu di Desa Berakit, Kabupaten Bintan. (Liputan6/ Novia Harlina)

Respons positif terhadap konsep ini datang dari Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri (KJK), Ady Indra Pawennari. Ia menilai bahwa penerapan silvofishery merupakan solusi paling tepat dan ideal untuk diterapkan di kawasan mangrove seperti Sungai Tiram. 

Wilayah ini dinilai memiliki karakteristik yang mendukung potensi ganda, yakni pelestarian ekologis dan keuntungan ekonomis secara bersamaan. Ady merujuk pada keberhasilan implementasi sistem serupa yang telah berkembang pesat di wilayah Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. 

Di daerah-daerah tersebut, metode ini terbukti tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi tinggi bagi pembudidaya, tetapi juga efektif dalam menjaga kelestarian vegetasi mangrove dari ancaman kerusakan lingkungan.

Dengan penerapan yang tepat, Sungai Tiram diharapkan bisa bertransformasi menjadi model percontohan nasional untuk pengelolaan mangrove berbasis ekonomi hijau di wilayah Kepulauan Riau. 

Hal ini penting agar masyarakat pesisir tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku aktif yang mendapatkan kesejahteraan dari lingkungan sekitarnya. 

Ady menekankan pentingnya manfaat langsung yang dapat dirasakan oleh warga lokal dari upaya konservasi ini.

"Sungai Tiram dapat menjadi percontohan pengelolaan mangrove berbasis ekonomi hijau di Kepri, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari upaya pelestarian lingkungan," ujarnya.

Transformasi Konservasi Lewat Wisata Menanam

Ilustrasi penanaman hutan mangrove. (Ilustrasi/Liputan6.com)

Seirama dengan upaya pengembangan budidaya, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kepri turut mengembangkan inovasi pelestarian melalui program Planting Tourism atau wisata menanam mangrove. 

Inisiatif ini bertujuan menggeser paradigma lama konservasi yang sekadar kegiatan seremonial penanaman pohon, menjadi atraksi wisata berbasis ekologi yang bernilai ekonomi.

Kepala BPDAS Kepri, Haris Sofyan Hendriyanto, menjelaskan bahwa program ini adalah buah kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Kehutanan, Dinas Pariwisata, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kepri. Tujuannya adalah menciptakan pengalaman wisata yang edukatif dan berdampak positif bagi alam.

"Fokus utamanya adalah mengajak wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga berkontribusi langsung melalui aktivitas menanam mangrove," ujarnya.

Saat ini, BPDAS telah memetakan sedikitnya sembilan lokasi pionir di Bintan, termasuk Pengudang, Gudi Farm, dan kawasan Pandang Tak Jemu, yang melibatkan komunitas lokal serta dukungan sektor perhotelan untuk promosi paket wisata. 

Haris menekankan bahwa keunikan karakteristik Kepri harus dimanfaatkan secara optimal untuk pembangunan kehutanan.

"Karakteristik Kepri ini unik, potensinya adalah wisatawan dan mangrove. Kami ingin pembangunan kehutanan dapat memanfaatkan potensi daerah tersebut secara optimal," ucap Haris.

Infografis Daftar tumbuhan dan satwa dilindungi di Indonesia. (Liputan6.com/Tri Yasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya