Bacaan Sholawat Busyro sang Pembawa Kabar Gembira, Makna dan Fadhilahnya

Selain sebagai pujian dan ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW, bacaan sholawat Busyro diyakini memiliki hikmah dan fadhilah luar biasa

oleh Muhamad RidloDiterbitkan 13 Februari 2026, 14:20 WIB
Ilustrasi sholawat (Foto: Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah maraknya fenomena spiritualitas urban, bacaan sholawat Busyro hadir sebagai oase ketenangan yang tidak hanya populer di media sosial, tetapi juga mengakar kuat dalam praktik sehari-hari masyarakat. Sholawat ini memiliki keunikan tersendiri karena secara spesifik diniatkan sebagai obat segala penyakit, baik penyakit fisik, psikis, maupun problematika kehidupan.

Merujuk studi dalam Skripsi Pembacaan Shalawat Busyra sebagai Obat Segala Penyakit (Studi Living Ḥadīs di Yayasan Taman Pendidikan Nahdlatul Ulama’, Desa Jatirejo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan), oleh Usaylatul Rizqiyah, selain sebagai bentuk cinta kepada Nabi Muhammad SAW, sholawat ini diyakini memiliki fadhilah (keutamaan) khusus sebagai wasilah kesembuhan dan pembuka pintu kabar gembira

Sholawat Busyro merupakan sholawat ghairu ma’tsurah yang sangat populer di Nusantara. Dalam riwayat disebutkan, sholawat ini diijazahkan langsung Rasulullah SAW melalui mimpi salah satu putra Habib Hasan Baharun pada malam Asyura 10 Muharram.

Berikut ini adalah ulasan lengkap mengenai bacaan sholawat Busyro, makna dan hikmahnya.

Teks Bacaan Sholawat Busyro

Dalam skripsi ini, Sholawat Busyro yang dimaksud adalah sholawat yang diijazahkan oleh Habib Segaf bin Hasan Baharun. Berikut adalah teks lengkap dalam bahasa Arab, Latin, dan terjemahannya:

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الْبُشْرَى صَلَاةً تُبَشِّرُنَا بِهَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَجَمِيْعَ مَشَايِخِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا وَطُلَّابَنَا وَطَالِبَاتِنَا مِنْ يَوْمِنَا هَذا اِلَى يَوْمِ الْآخِرَةِ

Latin: Allāhumma shalli wa sallim ‘alā Sayyidinā Muhammadin Shāhibil Busyrā, shalātan tubasysyirunā bihā wa ahlanā wa aulādanā wa jamī’a masyeikhinā wa mu’alliminā wa thullābanā wa thālibātinā min yauminā hādzā ilā yaumil ākhirah.

Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah sholawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, Sang Pemilik Kabar Gembira (Busyrā), dengan sholawat yang dengannya Engkau berikan kabar gembira kepada kami, keluarga kami, anak-anak kami, seluruh guru-guru kami, para pengajar kami, serta siswa-siswi kami, mulai hari ini hingga hari akhirat."

Sejarah dan Asal Usul (Sanad)

Berdasarkan penelitian Usaylatul Rizqiyah, sejarah pengamalan Sholawat Busyro memiliki sanad dan latar belakang yang kuat:

1. Sumber Asli

Sholawat ini berasal dari Habib Segaf bin Hasan Baharun (Bangil). Beliau mendapatkan sholawat ini melalui mimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah mengajarkan sholawat ini sebagai bentuk "Busyrā" (kabar gembira) bagi umatnya.

2. Masuknya ke Lokasi Penelitian

Pengamalan di Yayasan ini bermula ketika Ustadz Achmad Ridlwan Cholil (Pengasuh Yayasan) sowan kepada Habib Segaf Baharun. Saat itu, Ustadz Ridlwan sedang ditimpa musibah besar: cucunya yang bernama Neng Luluk mengalami pendarahan hebat dan tidak sadarkan diri pasca operasi.

3. Ijazah Khusus

Habib Segaf memberikan ijazah Sholawat Busyro ini untuk dibaca sebagai ikhtiar kesembuhan. Biidznillah, setelah diamalkan, diberikan kesembuhan. Sejak tahun 2010, sholawat ini kemudian diinstruksikan untuk dibaca secara rutin sebagai "obat segala penyakit" di yayasan tersebut.

Mengapa Disebut Sholawat Busyro?

Nama "Busyro" memiliki makna filosofis yang dalam:

1. Sang Pemilik Kabar Gembira (Sahibil Busyro)

Nabi Muhammad SAW disebut sebagai Sahibil Busyro karena beliau adalah pembawa kabar gembira bagi seluruh alam. Membaca sholawat ini adalah bentuk tawassul kepada Rasulullah untuk mendapatkan bisyarah (berita baik) dari Allah SWT.

2. Psikoterapi Islam

Penulis skripsi mengaitkan pengamalan ini dengan teori kesehatan mental Islam (seperti teori Abu Zaid al-Baihaki). Penyakit fisik seringkali bermula dari hati yang resah dan pikiran yang kalut. Sholawat Busyro berfungsi menenangkan hati (tuma'ninah). Ketika hati tenang karena kabar gembira dari sholawat, sistem imun tubuh meningkat dan mempercepat kesembuhan penyakit

Sholawat ini adalah ghairu ma'tsurah, yakni shalawat yang disusun oleh sahabat, tabi’in, atau auliya’. Disusun/disampaikan melalui ilham atau mimpi, dan secara kaidah ushul fiqh, mengamalkannya diperbolehkan bahkan disunnahkan selama tidak bertentangan dengan syariat.

Makna Mendalam dan Filosofi

1. Pengharapan (Raja’)

Kata Busyrā (kabar gembira) mengandung pesan optimisme. Dalam konteks living hadis di YTPNU, shalawat ini dibaca bukan hanya sebagai ritual, tetapi sebagai deklarasi keyakinan bahwa kesembuhan datang dari Allah. Sikap optimis ini, menurut teori psikologi Ahmad Ibn Sahl Al-Baihaki yang dikutip dalam skripsi, memberikan efek positif bagi sistem imun tubuh.

2. Pengetahuan

Sanad dan BarokahMasyarakat Nahdliyin memandang bahwa amalan yang memiliki sanad jelas (ijazah) memiliki nilai spiritual lebih. Proses ijazah dari Habib Baharun ke Ustadz Ridlwan Cholil, lalu ke seluruh guru YTPNU, menciptakan rantai keberkahan. Hal ini memperkuat kohesi sosial dan rasa memiliki terhadap tradisi keagamaan.

3. Tawassul dan Obat

Penelitian ini menemukan bahwa para pengamal memandang shalawat sebagai bentuk tawassul (perantara) kepada Allah. Mereka tidak meyakini shalawat sebagai penyebab langsung (kausalitas medis), melainkan sebagai sarana spiritual untuk mendatangkan pertolongan Allah. “Kita berikhtiar, Allah yang menyembuhkan” [citation:skripsi:60].

4. Doa

Doa dalam shalawat ini mencakup keluarga, anak-anak, guru, dan murid. Ini mencerminkan semangat pendidikan dan keberkahan kolektif, bukan sekadar kesalehan individual. Di YTPNU, doa ini dipanjatkan untuk seluruh civitas akademika [citation:skripsi:56].

Keutamaan dan Hikmah Sholawat Busyro

Berikut adalah 7 Keutamaan dan Hikmah Sholawat Busyro yang dirangkum dari hasil penelitian Skripsi berjudul "Pembacaan Shalawat Busyrā sebagai Obat Segala Penyakit (Studi Living Ḥadīs di Yayasan Taman Pendidikan Nahdlatul Ulama’)" karya Usaylatul Rizqiyah:

1. Obat Segala Penyakit (Syifa')

Keutamaan utama yang menjadi fokus penelitian ini adalah sebagai wasilah kesembuhan. Sholawat Busyro diyakini mujarab untuk menyembuhkan penyakit medis yang parah (seperti pendarahan hebat atau pasca operasi) hingga penyakit spesifik lainnya (seperti disfungsi ereksi/impoten). Selain fisik, ia juga menjadi obat bagi "penyakit hati" seperti kegelisahan dan ketidaktenangan.

2. Membawa Kabar Gembira (Al-Busyrā)

Sesuai namanya, hikmah membaca sholawat ini adalah mendatangkan kegembiraan dan optimisme bagi pembacanya. Pembacaan ini menjadi sugesti positif bahwa pertolongan Allah akan datang membawa berita baik bagi diri sendiri, keluarga, dan anak keturunan.

3. Dikabulkannya Hajat yang Mendesak

Dijelaskan bahwa barang siapa yang memiliki hajat besar atau keinginan mendesak (seperti ingin sukses dengan baik), disarankan membacanya sebanyak 41 kali secara istiqomah (khususnya setelah Subuh). Hal ini diyakini menjadi perantara turunnya pertolongan Allah untuk mengabulkan hajat tersebut.

4. Menenangkan Hati dan Pikiran (Psikoterapi)

Secara psikologis, hikmah rutin mengamalkan sholawat ini adalah memberikan ketenangan jiwa (tuma'ninah). Bacaan ini berfungsi menghilangkan keruwetan pikiran dan rasa resah yang berlebihan, sehingga hati menjadi lebih damai dan tidak mudah stres memikirkan beban hidup.

5. Melancarkan Rezeki

Salah satu manfaat praktis yang dirasakan oleh para pengamal di lokasi penelitian adalah kemudahan dalam aspek ekonomi. Membaca Sholawat Busyro dipercaya menjadi pembuka pintu rezeki, sehingga aliran rezeki menjadi lebih lancar dan berkah.

6. Dimudahkan Segala Urusan

Hikmah lainnya adalah kemudahan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Pengamal merasakan bahwa urusan-urusan yang terasa sulit atau buntu menjadi lebih ringan dan menemukan jalan keluarnya berkat keberkahan sholawat kepada Nabi Sang Pembawa Kabar Gembira.

7. Perlindungan Sosial (Dijauhkan dari Permusuhan)

Dalam temuan wawancara di lapangan, terungkap sebuah hikmah sosial yang unik, yaitu pengamal merasa dijauhkan dari permusuhan tetangga atau orang sekitar. Sholawat ini menjadi benteng spiritual yang menjaga keharmonisan hubungan dengan lingkungan.

Cara Mengamalkan Sholawat Busyro (Kaifiyah)

Berdasarkan tradisi yang diteliti di Yayasan Taman Pendidikan NU, berikut adalah cara pengamalannya:

1. Untuk Hajat Mendesak/Penyakit Parah

Disarankan membaca sebanyak 41 kali setiap selesai sholat Subuh. Jumlah 41 kali ini ditekankan sebagai bilangan untuk istiqomah bagi mereka yang memiliki hajat besar atau ingin sukses dengan baik.

2. Untuk Harian

Dapat dibaca secukupnya atau secara berjamaah (seperti yang dilakukan siswa-siswi sebelum masuk kelas atau saat Dhuha) sebagai benteng diri dan doa harian.

3. Adab

Hendaknya diawali dengan niat yang suci, tawassul kepada Rasulullah SAW, dan yakin sepenuhnya kepada Allah SWT bahwa sholawat ini adalah wasilah doa yang mustajab.

People Also Ask:

Bagaimana bunyi shalawat Busyro?

Sholawat Busyro Arab, Latin, Arti, Lengkap dengan Keutamaan ...Sholawat busyro latin: "Allahumma Sholli wa sallim ala sayyidina muhammadin sohibil busyro sholatan tubassiruna bihaa wa ahlana wa awlaadanaa wa jamii'a masya'khinaa wa muallimiinaa wa tholabatanaa wa tholibatinaa min waumina hadza ilaa yaumil akhiroh."

Sholawat shohibul busyro untuk apa?

Secara umum, Sholawat Busyro bermakna "sholawat kabar gembira". Lafaznya berisi doa agar Allah memberikan rahmat kepada Nabi Muhammad SAW serta memohon kemudahan, keberkahan, dan rezeki dari Allah.

Apa bunyi shalawat Jibril penarik rezeki paling kuat dari segala arah?

“Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma a'thinii tsawaaba shollallahu 'alaa Muhammad an tarzuqonii syai'an asta 'iinu bihi 'alath-thoo 'ah subhaana robbika robbil 'izzati 'ammaa yashifuun wasalaamun 'alal mursaliin walhamdulillahi robbil 'aalamiin.”

Sholawat Busyro kapan dibaca?

Sholawat Busyro paling utama dibaca 41 kali setelah salat Subuh setiap hari, sesuai anjuran dalam mimpi Habib Segaf bin Hasan Baharun. Namun, sholawat ini juga bisa dibaca kapan saja, seperti setelah salat fardhu, malam Jumat, sepertiga malam terakhir (tahajud), sebelum tidur, saat ada kesulitan, di bulan Ramadhan, atau saat bepergian untuk memohon pertolongan dan kelancaran rezeki.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya