Liputan6.com, Jakarta - Perpindahan orang terkaya dunia kini terjadi dengan lebih cepat. Para miliarder dan keluarga ultra-kaya semakin aktif berpindah lintas negara, menciptakan fenomena yang oleh para ahli disebut sebagai migrasi kekayaan pribadi terbesar dalam sejarah modern.
Hal ini tidak hanya terlihat dari data perbankan global, tetapi juga dari melonjaknya permintaan layanan relokasi internasional, perencanaan tempat tinggal, hingga konsultasi kewarganegaraan. Ketegangan geopolitik, perubahan kebijakan yang cepat, serta ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor utama pendorongnya.
Advertisement
Dikutip dari CNBC, Rabu (11/2026), dalam laporan bank investasi multinasional Swiss, UBS, menunjukkan bahwa 36% dari klien miliarder yang disurvei telah pindah tempat tinggal setidaknya satu kali sepanjang 2025. Sementara itu, 9% lainnya masih mempertimbangkan relokasi. Di kelompok miliarder berusia di bawah 54 tahun, angkanya bahkan lebih tinggi, dengan 44% telah berpindah negara dalam satu tahun terakhir.
Fenomena ini diperkuat data dari Henley & Partners, perusahaan konsultan migrasi investasi global. Sepanjang 2025, mereka menerima permintaan dari lebih dari 218 kewarganegaraan, dengan lonjakan volume aplikasi mencapai 28% dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika dahulu orang kaya memilih negara berdasarkan stabilitas politik, pajak rendah, dan kualitas hidup, kini pendekatannya jauh lebih strategis. Risiko yurisdiksi diperlakukan layaknya risiko keuangan yang harus didiversifikasi.
Tempat tinggal dan kewarganegaraan tidak lagi dianggap sekadar status hukum, tetapi bagian dari strategi perlindungan aset dan kekayaan lintas generasi. Perubahan kebijakan yang dulu membutuhkan waktu puluhan tahun, kini bisa terjadi hanya dalam satu periode politik. Hal inilah yang membuat keluarga-keluarga kaya semakin waspada dan defensif dalam mengambil keputusan relokasi.
Salah satu contoh nyata adalah Inggris Raya. Penghapusan rezim pajak non domisili pada April 2025 memicu evaluasi ulang dari kalangan orang kaya.
Henley & Partners memperkirakan Inggris mengalami kehilangan bersih sekitar 16.500 jutawan pada 2025, dengan total kekayaan yang berpindah diperkirakan mencapai US$92 miliar.
Pola Migrasi Berubah, Fokus pada Perlindungan Aset
Jika gelombang migrasi sebelumnya didorong oleh optimisme dan pencarian peluang baru, maka saat ini lebih bersifat protektif. Tujuan relokasi bukan hanya pertumbuhan aset, tetapi juga perlindungan kekayaan, keamanan keluarga, stabilitas hukum, serta fleksibilitas operasional global.
Pola ini mencerminkan menurunnya kepercayaan terhadap stabilitas sistem politik dan keuangan di sejumlah negara besar, sekaligus meningkatnya kesadaran akan pentingnya keamanan jangka panjang.
Meski bersifat global, arus migrasi kekayaan terkonsentrasi di sejumlah negara dengan kebijakan yang dinilai stabil dan pro investor.
Uni Emirat Arab menjadi tujuan utama migrasi orang kaya dunia. Negara ini menarik minat karena pajak penghasilan pribadi nol persen, tidak adanya pajak kekayaan dan pajak keuntungan modal, serta keberadaan program Golden Visa yang fleksibel. Program ini memungkinkan warga asing memperoleh izin tinggal jangka panjang melalui investasi properti, obligasi, atau bisnis lokal.
Henley & Partners mencatat sekitar 9.800 jutawan masuk ke UEA sepanjang 2025, menjadikannya negara dengan arus masuk orang kaya terbesar di dunia.
Jalur Eropa
Di Eropa, jalur visa emas di Portugal dan Yunani tetap diminati, sementara Italia, Monako, dan Swiss menjadi pilihan keluarga kaya yang mengincar stabilitas jangka panjang dan kepastian hukum.
Singapura juga tetap menjadi magnet, terutama bagi keluarga kaya Asia, berkat stabilitas regulasi, sistem keuangan yang kuat, serta infrastruktur kelas dunia. Namun, tingginya ambang batas masuk membuat akses ke negara ini relatif terbatas.
Selain itu, destinasi baru mulai mencuri perhatian, seperti Arab Saudi melalui Program Residensi Premium, serta negara-negara Karibia seperti Antigua dan Barbuda, Grenada, serta St. Kitts dan Nevis melalui program kewarganegaraan berbasis investasi. Program-program ini kerap digunakan sebagai strategi pelengkap untuk akses residensi di kawasan Eropa.
Migrasi kekayaan pribadi kini bukan lagi fenomena pinggiran. Ia telah berkembang menjadi strategi global dalam mengelola risiko, menjaga aset, dan mempertahankan fleksibilitas hidup di tengah dunia yang semakin tidak pasti.