Liputan6.com, Bogota - Presiden Kolombia Gustavo Petro mengklaim dirinya lolos dari upaya pembunuhan saat melakukan perjalanan dengan helikopter bersama putri-putrinya di wilayah pesisir Karibia. Pernyataan itu disampaikan Petro di tengah meningkatnya ketegangan politik dan keamanan menjelang pemilu nasional.
Dalam pernyataan yang disiarkan Radio Nacional de Colombia pada Selasa, Petro mengatakan helikopter yang ditumpanginya tidak dapat mendarat di lokasi tujuan karena adanya ancaman penembakan, dikutip dari laman Al Jazeera, Rabu (11/2/2026).
Advertisement
“Tadi malam saya tidak bisa mendarat karena diberi tahu bahwa helikopter yang saya tumpangi bersama putri-putri saya akan ditembak,” ujar Petro. Ia menambahkan bahwa lampu di lokasi pendaratan yang telah dijadwalkan juga tidak dinyalakan, sehingga memperkuat kekhawatiran akan ancaman keamanan.
Petro menyampaikan hal itu saat menghadiri rapat Dewan Menteri di Departemen Cordoba, wilayah utara Kolombia yang tengah dilanda hujan lebat dan banjir hingga memicu keadaan darurat kemanusiaan. Menurutnya, ancaman tersebut memaksanya mengubah rencana perjalanan secara drastis.
“Saya berusaha menghindari pembunuhan. Itu sebabnya saya tidak bisa tiba tepat waktu. Saya juga tidak dapat mendarat pagi ini di lokasi yang direncanakan karena ada informasi bahwa helikopter akan ditembak,” katanya.
Helikopter presiden dilaporkan terbang ke arah laut selama beberapa jam sebelum akhirnya mendarat di titik alternatif dengan pengamanan dari angkatan laut Kolombia. Rute perjalanan dan pengaturan keamanan kemudian diubah.
Petro menyatakan insiden tersebut membuatnya tetap dalam kewaspadaan tinggi. Ia juga mengaitkan peristiwa ini dengan dugaan ancaman lain yang, menurutnya, telah muncul sejak Oktober tahun lalu. Sejak menjabat pada Agustus 2022, Petro beberapa kali mengklaim menjadi target kartel narkoba. Pada 2024, ia juga melaporkan dugaan upaya pembunuhan terhadap dirinya.
Kontestasi Pedro di Kolombia
Insiden terbaru ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan politik menjelang pemilihan legislatif pada 8 Maret dan pemilihan presiden pada 31 Mei. Secara konstitusional, Petro tidak dapat mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua.
Pada hari yang sama, Senator Aida Quilcue, aktivis masyarakat adat dan pejuang hak asasi manusia, dilaporkan diculik oleh orang tak dikenal di Cauca, wilayah barat daya Kolombia yang dikenal sebagai daerah penghasil koka dan basis kelompok pembangkang FARC.
Quilcue, 53 tahun, diculik sekitar tengah hari saat bepergian menggunakan SUV bersama dua pengawalnya, menurut keterangan putrinya, Alejandra Legarda. Kendaraan tersebut kemudian ditemukan oleh unit penjaga adat tanpa penumpang di dalamnya.
Menteri Pertahanan Pedro Sanchez memperingatkan para pelaku agar segera membebaskan Quilcue dan menyebut penculikan itu sebagai pelanggaran “garis merah”. Tak lama kemudian, pemerintah mengonfirmasi bahwa sang senator dan kedua pengawalnya telah dibebaskan dalam keadaan selamat. Foto-foto pembebasan mereka beredar luas di media sosial militer Kolombia.
Kekerasan politik juga terjadi pekan lalu ketika dua pengawal seorang senator tewas ditembak dalam serangan terhadap konvoi di wilayah Arauca, dekat perbatasan Venezuela. Senator tersebut tidak berada di dalam kendaraan saat insiden terjadi.
Sebuah lembaga pemantau nasional pekan lalu memperingatkan bahwa lebih dari 300 kotamadya—sekitar sepertiga wilayah Kolombia—berisiko mengalami kekerasan terkait pemilu. Lonjakan insiden keamanan ini menambah kekhawatiran atas stabilitas negara menjelang pesta demokrasi tahun ini.