Liputan6.com, Jakarta - Mengikuti MSCI, FTSE Russell menunda pelaksanaan peninjauan atau review indeks untuk pasar Indonesia yang semula dijadwalkan pada Maret 2026. Lalu apa saja perbedaan penyedia indeks global MSCI dan FTSE ini?
FTSE Russell mengambil keputusan menunda pelaksanaan peninjauan atau review indeks untuk pasar Indonesia usai mempertimbangkan masukan dari External Advisory Committees serta adanya ketidakpastian dalam menentukan porsi free float saham emiten Indonesia di tengah rencana reformasi pasar modal yang sedang berlangsung.
Advertisement
Melansir pengumuman resmi FTSE,penundaan tersebut juga mempertimbangkan potensi lonjakan transaksi (turnover) yang dapat terjadi akibat perubahan komposisi indeks di tengah proses pembenahan regulasi.
FTSE Russell menyatakan langkah ini sejalan dengan aturan Exceptional Market Disruption dalam kebijakan indeks mereka, yang diterapkan ketika pelaku pasar menghadapi hambatan dalam memperdagangkan efek secara normal.
Sebagai konsekuensi langsung, FTSE Russell tidak akan menerapkan sejumlah aksi korporasi terhadap saham-saham Indonesia yang tercatat di dalam indeksnya hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Adapun MSCI dan FTSE Russel memiliki kesamaan menyediakan indeks acuan global. FTSE yang memiliki kepanjangan Financial Time Stock Exchange (FTSE) ini dikelola FTSE International dan Russell Investment Index Division yang merupakan anak usaha London Stock Exchange Group (LSEG). Oleh karena itu, FTSE juga disebut FTSE Russell.
Mengutip laman Ajaib, Morgan Stanley Capital International (MSCI) pertama kali dikenalkan sekitar 1969. Penyedia indeks saham global ini menilai kinerja sama di berbagai negara dan sektor. indeks MSCI mengelompokkan saham berdasarkan negara, kapitalisasi pasar, likuiditas hingga tema tertentu. Dana pensiun, manajer aset, dan ETF memakai indeks MSCI sebagai acuan utama. Oleh karena itu, perubahan komposisi dalam indeks saham MSCI sangat mempengaruhi arus modal global.
Apabila saham masuk MSCI, berarti perusahaan itu telah dianggap memiliki investability tinggi. Hal itu termasuk likuiditas memadai, kapitalisasi pasar besar dan free float yang cukup.
Seiring hal itu apa saja perbedaan MSCI dan FTSE? Berikut ulasannya dikutip dari sejumlah sumber, Selasa (10/2/2026):
Klasifikasi Pasar
Mengutip justetf.com, perbedaan terbesar antara kedua penyedia indeks ini mengenai klasifikasi negara. Hal ini berkaitan dengan anggapan penyedia indeks terhadap negara-negara tertentu sebagai pasar negara maju dan pasar negara berkembang.
Misalnya Korea Selatan diklasifikasikan sebagai emerging market atau pasar negara berkembang oleh MSCI. Akan tetapi, FTSE melihat Korea Selatan sebagai developed market atau pasar negara maju.
Oleh karena itu, Korea Selatan termasuk dalam indeks pasar negara maju FTSE, tetapi tidak dalam indeks pasar negara berkembang, dan sebaliknya untuk MSCI.
Perbedaan: Klasifikasi Pasar
Perbedaan komposisi indeks lebih jelas terlihat di pasar negara berkembang karena Korea Selatan membuat perbedaan besar di level ini. Korea Selatan adalah negara terbesar keempat dalam indeks MSCI Emerging Markets, sehingga ketidakhadirannya dalam indeks FTSE cenderung memusatkan kepemilikannya pada pemain utama lainnya.
Perusahaan kapitalisasi kecil juga menyebabkan perbedaan material lain antara indeks-indeks tersebut. Indeks global MSCI mencakup 85% dari aset yang layak investasi berdasarkan kapitalisasi pasar dan mengecualikan 15% terbawah sebagai perusahaan kapitalisasi kecil.
Namun, indeks global FTSE melacak 90% kapitalisasi pasar dan mengecualikan 10% terbawah sebagai perusahaan kapitalisasi kecil.
Pada dasarnya, FTSE mengambil beberapa perusahaan yang didefinisikan MSCI sebagai perusahaan berkapitalisasi kecil yang menjelaskan mengapa indeks FTSE biasanya berisi lebih banyak perusahaan.
Jumlah Saham
Jumlah Saham MSCI vs FTSE pada 2024
MSCI
- All World: 2.647
- Developed Markets: 1.395
- Emerging Markets: 1.252
- Eropa: 414
- Jepang: 191
- Asia Pasifik kecuali Jepang: 103
FTSE:
- All-World: 4.247
- Devoloped Markets: 2.148
- Emerging Markets: 2.231
- Eropa: 519
- Jepang: 495
- Asia-Pasifik kecuali Jepang: 381
Asal Negara:
MSCI, penyedia indeks global dari Amerika Serikat
FTSE, dibuat dan dikelola oleh perusahaan FTSE Russell bagian dari London Stock Exchange dari Inggris, demikian dikutip dari laman Ajaib.co.id.
Indeks yang Populer
FTSE
Mengutip laman Ajaib.co.id, FTSE memiliki sejumlah banyak produk antara lain FTSE 100, FTSE 250, FTSE All-Share, FTSE Global Equity Index Series (GEIS).
FTSE 100: Indeks yang berisi 100 perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Inggris antara lain HSBC, AstraZenecca, dan Shell.
FTSE 250: Indeks yang berisi 250 perusahaan menengah setelah FTSE 100. Indeks ini juga dinilai lebih mencerminkan ekonomi domestik Inggris.
FTSE All-Share: Gabungan dari hampir semua saham yang diperdagangkan di bursa London dan memberikan gambaran pasar yang paling menyeluruh
FTSE Global Equity Index Series: Indeks ini yang paling relevan untuk investor di Indonesia. FTSE GEIS merupakan serangkaian indeks raksasa yang mencakup ribuan saham dari 49 negara dari negara maju dan berkembang. Pasar Indonesia masuk dalam kategori emerging market.
MSCI:
Mengutip laman mstock.miraeasset.co.id, sejumlah indeks dikembangkan oleh MSCI yang disesuaikan dengan fokus dan kebutuhan investor. Adapun kategori utama yang sering digunakan antara lain:
Indeks global yang terdiri dari saham perusahaan-perusahaan besar di berbagai negara maju di seluruh dunia. Contohnya MSCI World Index. Kemudian indeks regional yang dibuat untuk mencerminkan kondisi pasar di wilayah tertentu yakni Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Indeks yang salah satunya populer yakni MSCI Emerging Market Idex yang terdiri dari negara-negara dengan pasar berkembang antara lain Brasil, India dan Indonesia.
Kemudian ada juga indeks negara yang mengukur kinerja pasar saham dari negara tertentu. Salah satunya MSCI Indonesia yang terdiri dari saham-saham dari perusahaan besar di Indonesia.
Lalu indeks sektoral yang fokus pada industri tertentu antara lain teknologi, keuangan dan kesehatan. Salah satunya MSCI World Information Technology Index yang berisi saham perusahaan teknologi global. Selanjutnya indeks faktor. Kategori ini dirancang berdasarkan karakteristik khusus saham antara lain nilai (value), volatilitas rendah, pertumbuhan tinggi dan ukuran perusahaan. Salah satunya MSCI USA Minimum Volatility Index.