Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan penambang bitcoin (BTC) , Cango mengatakan telah menjual 4.451 bitcoin (BTC) pada akhir pekan lalu. Aksi jual bitcoin itu menghasilkan dana USD 305 juta atau Rp 5,12 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.810). Hal ini sebagai upaya untuk mengurangi utang yang terkait dengan pinjaman yang dijamin dengan bitcoin.
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Selasa (10/2/2026), Cango mengatakan transaksi tersebut diselesaikan dalam stablecoin USDT Tether dengan seluruh jumlah itu dipakai untuk melunasi utang yang didukung oleh kepemilikan bitcoinnya.
Advertisement
Langkah ini dilakukan karena ekonomi penambangan tetap bergejolak dan mencerminkan apa yang digambarkan perusahaan sebagai penyesuaian neraca daripada penarikan diri dari operasi penambangan.
Cango menyatakan, penjualan itu dilakukan setelah peninjauan kondisi pasar dan telah disetujui oleh dewan direksinya. Perseroan berkomitmen pada operasi bitcoinnya sambil memperioritaskan disiplin modal.
Adapun penambangan bitcoin adalah proses penggunaan sistem komputasi khusus untuk memecahkan teka-teki kriptografi kompleks untuk memverifikasi dan menambahkan blok yang berisi transaksi BTC ke dalam rantai.
Sebagai imbalannya, penambang menerima hadiah berupa BTC. Namun, beberapa kali peristiwa halving bitcoin, meningkatnya biaya listrik, dan jatuhnya harga bitcoin baru-baru ini tidak lagi menjadikan penambangan bitcoin sebagai usaha yang menguntungkan.
Penambang bitcoin telah menemukan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang menarik dan mengingat infrastruktur mereka yang sudah siap, transisi ini tidak sulit. Hal yang sama juga berlaku untuk Cango.
Fokus pada Operasi AI
Selain pengurangan utang, Cango mengatakan hasil penjualan saham diharapkan dapat mendukung ekspansinya ke bidang AI. Perusahaan ini melakukan perubahan strategis dengan memanfaatkan infrastruktur yang terhubung ke jaringan listrik dan dapat diakses secara global untuk menyediakan kapasitas komputasi terdistribusi bagi industri AI.
Masuk Penambangan Bitcoin pada 2024
Fase awal akan fokus pada penyediaan kapasitas inferensi untuk usaha kecil dan menengah. Fase selanjutnya diharapkan akan berpusat pada pengembangan perangkat lunak untuk mengkoordinasikan sumber daya GPU terdistribusi Cango.
Untuk mendukung upaya ini, Cango menunjuk Jack Jin sebagai Chief Technology Officer (CTO) lini bisnis AI-nya. Menurut perusahaan, Jin sebelumnya memimpin infrastruktur GPU skala besar dan sistem di Zoom Communications.
Cango memasuki sektor penambangan bitcoin pada akhir 2024 dan menutup 2025 dengan cadangan bitcoin melebihi 7.500 BTC. Perseroan mengatakan untuk terus menyeimbangkan skala dan efisiensi penambangan sambil memajukan strategi AI-nya.
Penambangan Bitcoin Diam-Diam Kembali Marak di China
Sebelumnya, penambangan bitcoin (BTC) diam-diam kembali marak di China meski telah dilarang empat tahun lalu. Penambang bitcoin secara individu dan korporat eksploitasi listrik murah dan lonjakan pusat data di beberapa provinsi yang kaya energi.
Demikian berdasarkan data penambang dan industri, dikutip dari Yahoo Finance, Selasa (25/11/2025).
China pernah menjadi negara dengan penambangan kripto terbesar di dunia. Namun, pemerintah China melarang semua perdagangan dan penambangan kripto pada 2021. Langkah itu dilakukan China karena ancaman terhadap stabilitas keuangan dan konservasi energi.
Setelah pangsa pasar penambangan bitcoin globalnya merosot akibat larangan itu, China kembali merangkat ke posisi ke-3 dengan pangsa pasar 14% pada akhir Oktober. Hal ini menurut Hashrate Index yang melacak aktivitas penambangan bitcoin (BTC).
Kebangkitan penambangan bitcoin yang juga telah diperkuat oleh penjualan produsen rig Canaan Inc yang melonjak pesat di China dapat bertindak sebagai penopang permintaan dan harga untuk kripto terbesar di dunia.
Penambang swasta di Xinjiang, Wang menuturkan mulai menambang akhir tahun lalu di provinsi yang kaya energi itu.
"Banyak energi yang tidak dapat ditransmisikan keluar dari Xinjiang, jadi Anda mengonsumsinya dalam bentuk penambangan kripto," kata Wang.
"Proyek-proyek penambangan baru sedang dibangun. Yang bisa saya katakan adalah orang-orang menambang di tempat yang listriknya murah."
Badan perencanaan negara China, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, yang mengeluarkan larangan tersebut pada 2021, dan pemerintah Xinjiang tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters melalui faks.
Sinyal Aktivitas Kembali Penambangan Bitcoin
Tindakan keras China terhadap sektor ini pada 2021 menyebabkan para penambang menutup operasi lokal dan melarikan diri ke pasar luar negeri seperti Amerika Utara dan Asia Tengah.
Rebound dalam penambangan bitcoin bertepatan dengan aset digital yang mencapai rekor tertinggi pada Oktober berkat kebijakan pro-kripto Presiden AS Donald Trump, dan meningkatnya ketidakpercayaan terhadap dolar AS, yang membuat penambangan kripto lebih menguntungkan. Namun, kripto tersebut turun sekitar sepertiga dari puncaknya pada Oktober karena selera risiko global menurun.
CEO Perpertuals.com, penyedia infrastruktur kripto, Patrick Gruhn menuturkan, fleksibilitas kebijakan China muncul ketika insentif ekonomi kuat di wilayah tertentu.
"Kebangkitan kembali aktivitas penambangan di China merupakan salah satu sinyal terpenting yang dilihat pasar selama bertahun-tahun."