Liputan6.com, Tokyo - Partai Demokrat Liberal Jepang (LDP) yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi meraih kemenangan telak bersejarah dalam pemilihan dini Majelis Rendah Jepang yang digelar pada Minggu. Proyeksi NHK menunjukkan LDP berhasil mengamankan mayoritas dua per tiga secara mandiri di Majelis Rendah yang beranggotakan 465 kursi.
Hasil awal pada Senin (9/2/2026) menunjukkan LDP, yang sebelum pemilu memiliki 198 kursi, berhasil memenangkan 316 kursi. Jumlah tersebut memberi LDP proporsi perwakilan tertinggi di Majelis Rendah dibandingkan partai mana pun sepanjang era pascaperang Jepang.
Advertisement
Bersama mitra koalisinya, Partai Inovasi Jepang (JIP), blok penguasa tersebut meraih total 352 kursi, meningkat signifikan dari mayoritas sebelumnya yang berjumlah 233 kursi.
Kemenangan ini pada dasarnya memungkinkan koalisi yang dipimpin LDP untuk mengesampingkan hambatan yang muncul akibat tidak dimilikinya mayoritas di Majelis Tinggi. Jika rancangan undang-undang penting atau anggaran ditolak di Majelis Tinggi, keputusan tersebut dapat dibatalkan melalui pemungutan suara ulang di Majelis Rendah dengan dukungan mayoritas dua per tiga.
Sementara itu, oposisi Aliansi Reformasi Sentral (CRA), yang dibentuk oleh Partai Demokrat Konstitusional Jepang (CDP) dan Komeito menjelang pemilu, mengalami penurunan drastis jumlah kursi. Dari kekuatan sebelum pemilu, CRA kini hanya meraih 49 kursi. Kekalahan ini membuka kemungkinan pengunduran diri Yoshihiko Noda, ketua CRA yang mempertaruhkan karier politiknya pada pembentukan aliansi tersebut.
Hasil pemilu kali ini mengingatkan pada pemilu tahun 2012, ketika LDP—setelah kekalahan telak pada pemilu 2009 yang membuatnya kehilangan kekuasaan—kembali menguasai Majelis Rendah dengan meraih 294 kursi. Kemenangan tersebut menjadi landasan bagi hampir delapan tahun pemerintahan mantan PM Shinzo Abe. Capaian terbaik LDP sebelumnya terjadi pada 1986, ketika pemilu Majelis Tinggi digelar bersamaan dan partai itu mengamankan 300 kursi di bawah kepemimpinan presiden partai saat itu, Yasuhiro Nakasone.
Setelah hampir dipastikan memperoleh mandat publik yang kuat, Takaichi mengatakan dalam sebuah program televisi pada Minggu malam bahwa ia berencana semakin mempererat hubungan partainya dengan JIP.
"Kami menyusun perjanjian kebijakan bersama baris demi baris dengan JIP, yang memiliki pandangan serupa tentang negara, ketika kami terpojok setelah Komeito keluar dari koalisi," ujar presiden LDP tersebut seperti dikutip dari Japan Times.
Sambil mendorong JIP untuk memiliki perwakilan dalam kabinetnya, Takaichi juga membuka pintu bagi partai-partai lain.
"Jika ada partai lain yang ingin bekerja sama dengan kami, saya ingin menyambut mereka dengan tangan terbuka," katanya.
Faktor di Balik Kemenangan
Kemenangan besar koalisi penguasa jauh melampaui ambang batas mayoritas dua per tiga, yakni 261 kursi, yang memberi LDP dan JIP keunggulan dalam pengesahan undang-undang penting. Dengan jumlah kursi minimum tersebut, koalisi berhak memimpin seluruh 17 komite tetap di Majelis Rendah.
Penguasaan setidaknya 290 kursi juga memungkinkan para anggota koalisi membentuk mayoritas di berbagai komite, termasuk komite-komite utama.
Profesor ilmu politik Universitas Tokyo Yu Uchiyama menuturkan bahwa tingginya popularitas Takaichi menjadi faktor utama di balik kemenangan besar LDP.
"Terpilihnya Takaichi sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang memberinya citra yang sangat segar dan baru," jelasnya. "Sementara itu, CRA—bahkan hingga ke nama partainya—terkesan agak kuno atau ketinggalan zaman, yang kemungkinan menyulitkan mereka menarik pemilih."
Dengan mayoritas dua per tiga, pemerintah kini memiliki opsi untuk menerapkan taktik parlementer yang agresif dengan mengesampingkan keputusan Majelis Tinggi melalui pemungutan suara ulang di Majelis Rendah.
Namun, meskipun agenda yang secara luas populer seperti pemotongan pajak konsumsi untuk bahan makanan mungkin dengan mudah memperoleh dukungan oposisi, isu-isu yang lebih kontroversial—termasuk undang-undang anti-spionase yang telah lama diperjuangkan Takaichi—menurut Uchiyama akan menghadapi perlawanan dari partai-partai oposisi.
Membungkam Suara Anti-Takaichi
Takaichi diperkirakan akan kembali dikukuhkan sebagai PM pada 18 Februari di kedua majelis parlemen. Ia mengatakan pada Minggu bahwa tidak ada rencana untuk melakukan perombakan kabinet.
Hasil pemilu dini berisiko tinggi ini memberi Takaichi cukup suara untuk meloloskan proposal anggaran pemerintah dengan relatif mudah.
Meskipun keputusan Takaichi untuk membubarkan Majelis Rendah hanya beberapa bulan setelah menjabat sebagai perdana menteri sempat menuai kritik di internal LDP, kemenangan telak pada Minggu tersebut secara efektif membungkam suara-suara anti-Takaichi, setidaknya untuk sementara waktu.