Liputan6.com, Jakarta - Kabar kurang sedap datang dari bursa saham Hong Kong. Indeks saham teknologi China di sana resmi memasuki wilayah bearish pada perdagangan Kamis waktu setempat. Anjloknya saham-saham raksasa ini menandai pembalikan tajam dari reli optimis yang sempat terjadi pada tahun lalu.
Berdasarkan data pasar, Indeks Hang Seng Tech yang menjadi rumah bagi perusahaan teknologi raksasa China daratan merosot lebih dari 1%. Penurunan ini menggenapi pelemahan indeks sebesar 20% sejak mencapai puncaknya pada Oktober lalu, indeks tersebut turun selama enam sesi berturut-turut. Demikian mengutip CNBC, Jumat (6/2/2026).
Advertisement
Kemungkinan Kenaikan Pajak
Pemicu utama aksi jual massal ini adalah kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada layanan internet. Isu ini mencuat setelah pemerintah setempat menerapkan kenaikan PPN pada layanan telekomunikasi tertentu.
Investor khawatir platform internet akan menjadi target regulasi berikutnya. Spekulasi sempat meluas ke sektor game online dan transaksi digital lainnya, yang dianggap sebagai hambatan baru bagi sektor yang baru saja mencoba pulih dari pengetatan regulasi bertahun-tahun.
"Aksi jual dipicu oleh kekhawatiran kenaikan PPN pada layanan internet, game online, dan transaksi online lainnya," kata Analis UOB Kay Hian, Qi Wang,.
Meskipun demikian, otoritas setempat pada Selasa lalu sempat menepis rumor mengenai pengenaan pajak baru pada industri game untuk menenangkan pasar.
Efek Domino AI Global
Selain faktor domestik, sentimen negatif global turut memperkeruh suasana. Gejolak di sektor teknologi dunia yang dipicu oleh kekhawatiran Kecerdasan Buatan (AI) terhadap perusahaan perangkat lunak ikut menekan harga saham.
Analis Ekuitas Senior Morningstar, Phelix Lee, menyebutkan ada rentetan berita negatif secara global yang memengaruhi psikologi pasar, Peluncuran plugin AI oleh Anthropic yang mengotomatiskan pekerjaan hukum memicu kekhawatiran pada perusahaan legaltech, serta munculnya laporan keretakan hubungan antara dua raksasa teknologi, Nvidia dan OpenAI.
Koreksi Sehat atau Awal Kejatuhan?
Meski terlihat mengkhawatirkan, tidak semua analis memandang tren ini sebagai sinyal bahaya jangka panjang. Beberapa pakar menilai penurunan ini merupakan bagian dari "koreksi sehat".
"Saya menganggap aksi ini sebagai koreksi yang sehat dan sebagian besar terkonsentrasi di sektor-sektor yang mungkin telah melampaui nilai wajarnya," ujar Direktur Riset Ekuitas Asia di Morningstar, Lorraine Tan.
Senada dengan Tan, Vey-Sern Ling dari Union Bancaire Privee menilai fundamental perusahaan teknologi China sebenarnya belum memburuk secara signifikan. "Valuasi terus mendukung, pendapatan sektor berpotensi pulih, dan AI justru dapat memberikan katalis positif di masa mendatang," pungkas Ling.