Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik melemah pada perdagangan saham Jumat, (6/2/2026). Koreksi bursa saham Asia Pasifik terjadi di tengah indeks Kospi di Korea Selatan anjlok hingga 5%. Indeks Kospi memimpin penurunan di bursa saham Asia setelah aksi jual saham teknologi di wall street.
Mengutip CNBC, indeks Korea Selatan kurangi koreksi dan terakhir turun 3,86%. Sementara, indeks Kosdaq merosot 5,26%.
Advertisement
Saham-saham unggulan indeks, Samsung Electronics dan SK Hynix, masing-masing turun 3,08% dan 3,56%, sementara Hyundai Motor turun 5,42%. Saham unggulan sektor pertahanan, Hanwha Aerospace, turun 5,87%, sedangkan LG Energy Solution kehilangan 3,67%. Pasar Korea Selatan, yang sangat didominasi oleh perusahaan-perusahaan di industri chip dan otomotif, telah mengalami fluktuasi tajam dalam seminggu terakhir karena sentimen terhadap saham-saham teknologi memburuk.
Lalu indeks Nikkei 225 di Jepang turun 1,22%. Indeks acuan itu turun dalam tiga hari berturut-turut. Indeks Topix melemah 0,74%.
Indeks ASX 200 di Australia juga menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Indeks ASX 200 turun 1,84%. Indeks Hang Seng berjangka di Hong Kong berada di posisi 26.510, di bawah penutupan terakhir di 26.885,24.
Di sektor komoditas, harga perak spot terus mengalami penurunan, anjlok 1,63% setelah merosot sekitar 13% pada Kamis.
Kinerja Wall Street
Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street anjlok pada perdagangan saham Kamis, 5 Februari 2026. Koreksi wall street terjadi seiring investor mengambil sikap menghindari risiko menyebabkan perdagangan sektor saham teknologi dan bitcoin tersungkur.
Mengutip CNBC, Jumat pekan ini, indeks Dow Jones anjlok 592,58 poin atau 1,2% menjadi 48.908,72. Indeks S&P 500 terpangkas 1,23% ke posisi 6.798,40 dan berada di zona negative. Indeks Nasdaq melemah 1,59% dan menetap ke posisi 22.540,59.
Dalam titik terendah, indeks Dow Jones turun hampir 700 poin atau sekitar 1,4%. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah 1,5% dan 1,9%.
Saham Alphabet Melemah
Alphabet memproyeksikan peningkatan tajam dalam pengeluaran kecerdasan buatan yang membuat sejumlah investor khawatir. Hal ini di tengah kekhawatiran perkiraan pengeluaran modal hingga USD 185 miliar pada 2026. Saham Alphabet susut 0,5%.
Selain itu, saham Broadcom naik hampir 1% setelah berita tentang rencana pengeluaran Alphabet, menawarkan sedikit harapan bagi perdagangan kecerdasan buatan.
“Fakta bahwa beberapa perusahaan ini merilis dan mengumumkan pengeluaran modal tambahan, dan jumlahnya sangat besar saat ini , kami sebenarnya melihatnya sebagai tanda positif bagi kesehatan pasar secara umum, karena ini lebih menunjukkan bahwa pasar sedang melakukan penilaian yang cermat daripada sekadar euforia yang tidak rasional,” kata Direktur Investasi di Modern Wealth Management, Stephen Tuckwood.
Bersama dengan Alphabet, Qualcomm juga berada di bawah tekanan, merosot lebih dari 8% setelah mengeluarkan perkiraan yang lebih lemah dari yang diharapkan karena kekurangan memori global.
Di tempat lain, aksi jual di pasar mata uang kripto terus meningkat, karena bitcoin jatuh di bawah USD 64.000 setelah merosot di bawah ambang batas USD 70.000 — yang dianggap sebagai level support kunci. Di sektor logam mulia, tekanan pada perak kembali berlanjut. Harga logam tersebut mengakhiri kenaikan selama dua hari dan turun hingga 16%. Harga perak telah anjlok hampir 30% pada Jumat lalu.
Sentimen pesimistis semakin meningkat setelah perusahaan penempatan kerja Challenger, Gray & Christmas melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan di AS mengumumkan 108.435 PHK pada bulan Januari, angka tertinggi pada Januari sejak krisis keuangan global.
The Fed Berpotensi Pangkas Suku Bunga
Selain itu, klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir pada 31 Januari meningkat lebih dari yang diperkirakan, dan lowongan pekerjaan pada Desember turun ke level terendah sejak September 2020.
Hal ini terjadi menjelang rilis laporan pekerjaan Januari dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) pekan depan, yang ditunda akibat penutupan sebagian pemerintah yang berakhir pada Selasa.
"Rasanya kita sedang beralih dari periode tanpa perekrutan dan tanpa pemecatan yang telah kita alami selama beberapa bulan terakhir,” kata Tuckwood.
Ia menambahkan, laporan pekerjaan BLS yang akan datang “kemungkinan akan mengkonfirmasi apa yang kita lihat di sini dengan laporan lainnya, di mana angka pemecatan dan PHK mulai negatif.”
Jika hal itu terbukti benar, ia yakin Federal Reserve akan menurunkan suku bunga setidaknya pada akhir salah satu pertemuan Maret atau April.
Wall Street baru saja melewati sesi perdagangan yang bergejolak, yang menyaksikan aksi jual saham perangkat lunak dan chip yang mendorong S&P 500 mengalami kerugian untuk hari kedua berturut-turut. Saham-saham tersebut terpukul karena kekhawatiran akan gangguan AI di industri tersebut membuat investor beralih dari sektor teknologi secara massal ke bagian pasar lain yang bernilai lebih menarik.