Moody's Pertahankan Peringkat Indonesia tapi Outlook Turun jadi Negatif

Lembaga pemeringkat global Moody's mempertahankan peringkat Indonesia di Baa2. Akan tetapi, outlook atau prospek dipangkas. Berikut ulasannya.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 05 Februari 2026, 20:30 WIB
Lembaga pemeringkat internasional Moody’s mempertahankan peringkat kredit Indonesia tetapi memangkas prospek atau outlook menjadi negatif. (Liputan6.com/Angga Yuniar

Liputan6.com, Jakarta - Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings telah menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dari stabil.  Moodys menilai, perubahan prospek ini karena berkurangnya prediktabilitas dalam pembuatan kebijakan. Akan tetapi, Moody’s mempertahankan peringkat Indonesia di peringkat Baa2.

Peringkat obligasi senior tanpa jaminan mata uang lokal dan asing ditegaskan pada Baa2 dan obligasi senior tanpa jaminan jangka menengah atau medium term notes (MTN) dan obligasi senior tanpa jaminan dalam mata uang asing. Adapun peringkat Baa2 termasuk dalam kategori investment grade yang artinya negara atau entitas yang dinilai masih dianggap layan sebagai tujuan investasi. Namun, peringkat ini tidak sekuat peringkat lebih tinggi dan menunjukkan tingkat risiko moderat.

Mengutip the Edge Malaysia, Kamis (5/2/2026), Moody’s mempertahankan peringkat di Baa2 dengan outlook menjadi negatif dari stabil mencerminkan risiko terhadap efektivitas kebijakan dan tanda-tanda melemahnya tata kelola.

“Jika berlanjut, tren ini dapat mengikis kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah mapan, yang telah mendukung pertumbuhan ekonomi yang solid dan stabilitas makroekonomi, fiskal dan keuangan,” kata Moody’s.

Kementerian Keuangan Indonesia mengatakan, pihaknya menghargai peringkat berkelanjutan Moody’s dan pemerintah sedang melakukan transformasi ekonomi untuk kembali mendorong pertumbuhan.

“Pemerintah terus memastikan semua potensi risiko dikelola dengan baik,”

 Moody’s menuturkan akan menurunkan peringkat jika terjadi pergeseran berkelanjutan ke kebijakan fiskal yang lebih ekspansi tanpa disertai reformasi pendapatan, penurunan signifikan dalam posisi eksternal karena arus keluar modal dan pelemahan material dalam kesehatan perusahaan negara atau badan usaha milik negara.

 

Prospek Pertumbuhan Ekonomi

Pernyataan tersebut menanggapi pandangan fraksi terhadap asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen hingga 5,7 persen dalam Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) RAPBN Tahun 2024. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, dalam keterangan resmi Bank Indonesia disebutkan, Moody's memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada pada kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah, dengan ketahanan ekonomi yang terjaga. Moody's menilai defisit fiskal diperkirakan tetap akan berada di bawah 3% PDB, sementara kebijakan moneter dipandang akan terus mendukung stabilitas inflasi.

Moody's juga memperkirakan rasio utang Pemerintah terhadap PDB akan tetap akan terjaga rendah di bawah peers. Namun demikian, menurut Moody's, Indonesia masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan basis penerimaan, yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas makro dan keuangan.

Dalam hal ini, Moody's mengapresiasi upaya Pemerintah untuk mendorong penerimaan antara lain melalui peningkatan efisiensi administrasi perpajakan dan kepabeanan

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya