Danantara Bakal Operasikan KRL di 5 Kota, Termasuk Jakarta-Cikampek dan Sukabumi

Danantara menyiapkan peta jalan elektrifikasi KRL di lima kota besar, termasuk perpanjangan rute Jabodetabek hingga Cikampek dan Sukabumi.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 04 Februari 2026, 21:35 WIB
Rangkaian kereta listrik Commuter Line atau KRL saat melintas di Stasiun Jatinegara, Jakarta, Senin (2/1/2023). Sebagai informasi, tarif asli KRL adalah sekitar Rp 10.000-Rp 15.000 untuk sekali perjalanan. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah menyusun peta jalan (roadmap) untuk membuka rute baru pengoperasian KRL Commuter Line. Rencananya itu akan dikembangkan di 5 kota, termasuk perpanjangan rute Commuter Line Jabodetabek untuk jalur Jakarta-Cikampek hingga Jakarta Sukabumi.

COO Danantara Dony Oskaria menyampaikan, masterplan itu sejalan dengan roadmap yang disiapkan pemerintah, untuk mengembangkan transportasi massal berbasis kereta api.

"Termasuk di dalamnya kami melakukan elektrifikasi di Jakarta-Cikampek, Jakarta-Rangkas, Jakarta-Sukabumi. Kami juga melakukan elektrifikasi di 5 kita di Indonesia," ujar dia dalam rapat kerja dan rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (4/2/2026).

Selain itu, Danantara juga bakal memperkuat hilirisasi industri perkeretaapian di level manufaktur. Dengan mengembangkan pabrik milik PT INKA (Persero), sehingga Indonesia bisa memproduksi gerbong kereta api di dalam negeri.

"Berkaitan dengan PT INKA, ini juga ada tiga manufaktur yang kita miliki. Satu ada di Madiun, satu di Banyuwangi, dan kita akan menambah lagi di Banyuwangi," imbuh Dony.

"Ini kami juga mewajibkan bahwa seluruh perbaikan daripada industri perkeretaapian, ke depan itu akan diwajibkan di PT INKA, termasuk juga manufakturnya," dia menekankan.

Menurut dia, peta jalan itu sesuai dengan masterplan hilirisasi dari sisi hulu industri baja. "Hubungannya dengan baja, kami mewajibkan ini tentu kita harapkan dengan munculnya industri hilirisasi ini, kita harapkan itu milik kita sendiri. Karena ini merupakan industri strategis ke depannya," tuturnya.

 

Bangun Pabrik Baja Kapasitas 3 Juta Ton

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Ditambahkan Dony, BPI Danantara tengah gencar melakukan hilirisasi dari sisi hulu industri baja. Untuk melengkapi visi tersebut, rencana akan segera dibangun pabrik baja dengan kapasitas produksi mencapai 3 juta ton.

"Salah satu project hilirisasi yang dilakukan Danantara tahun ini adalah pengembangan upstream daripada industri baja kita, yang akan segera kita groundbreaking bulan depan untuk penambahan kapasitas 3 juta ton daripada baja kita," ujarnya pada kesempatan sama.

Dony mengatakan, pembangunan pabrik baja baru itu bertujuan untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Pasalnya, Indonesia saat ini masih terlalu bergantung terhadap produk baja impor.

 

 

Keberpihakan Pemerintah

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

"Tentu harus ada keberpihakan pemerintah untuk melindungi industri yang sedang kita kembangkan. Karena tanpa daripada keberpihakan tentu industri ini akan sulit bersaing ke depan," tegas dia.

Di sisi lain, Danantara juga berkomitmen untuk melakukan pembenahan terhadap produsen baja terbesar di Indonesia, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Dony mengutarakan, perusahaan berkode saham KRAS tersebut saat ini sudah masuk menuju sehat.

"Krakatau Steel saat ini sudah masuk menuju fase sehat. Secara finansial, Danantara telah melakukan intervensi dan juga penyegaran terhadap Krakatau Steel," ungkap dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya