Penularan Virus Nipah Lebih Dekat dari yang Dikira, Kenali Jalur Penyebarannya

Penularan Virus Nipah ternyata dekat dengan aktivitas sehari-hari. Simak jalur penyebaran, gejala, dan langkah pencegahannya.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 04 Februari 2026, 14:58 WIB
Penularan Virus Nipah bermula dari hewan dan dapat menyebar antarmanusia. Ketahui cara penularan dan upaya pencegahannya. (Foto dibuat oleh AI)

Liputan6.com, Jakarta - Penularan virus Nipah kembali menjadi perhatian karena penyakit ini memiliki tingkat kematian yang tinggi dan dapat menyebar dari hewan ke manusia, bahkan antarmanusia. Meski kasusnya belum dilaporkan ada di Indonesia, potensi risikonya tetap ada mengingat virus ini dibawa oleh kelelawar pemakan buah yang tersebar luas di Asia, termasuk Asia Tenggara.

Virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada 1999 saat terjadi wabah di Malaysia dan Singapura. Kala itu, ratusan orang terinfeksi setelah terjadi penularan dari babi yang sebelumnya tertular dari kelelawar.

Sejak saat itu, sejumlah negara seperti Bangladesh, India, dan Filipina melaporkan wabah serupa dengan pola penularan virus Nipah yang beragam, seperti dikutip dari CDC pada Rabu, 4 Februari 2026.

Hewan Apa Saja yang Membawa Virus Nipah?

Salah satu jalur utama penularan virus Nipah adalah dari hewan ke manusia. Kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus dikenal sebagai reservoir alami virus ini. Virus dapat berpindah ketika air liur, urine, atau kotoran kelelawar mencemari buah atau minuman.

Di beberapa negara, penularan virus Nipah terjadi akibat konsumsi buah yang telah digigit kelelawar atau minum nira kurma mentah yang terkontaminasi. Ketika manusia mengonsumsi makanan atau minuman tersebut tanpa pengolahan yang aman, virus bisa masuk ke dalam tubuh. Peristiwa ini dikenal sebagai spillover event, yaitu perpindahan virus dari hewan ke manusia.

Selain kelelawar, hewan ternak seperti babi juga dapat menjadi perantara. Babi yang terinfeksi bisa menularkan virus ke manusia melalui kontak langsung, terutama pada peternak atau pekerja yang sering bersentuhan dengan hewan sakit.

Penularan Virus Nipah Antarmanusia Tak Bisa Diabaikan

Yang membuat Virus Nipah semakin berbahaya adalah kemampuannya menyebar dari manusia ke manusia. Penularan ini terjadi melalui kontak erat dengan penderita, terutama melalui cairan tubuh seperti darah, air liur, atau cairan pernapasan.

Tenaga kesehatan dan anggota keluarga yang merawat pasien Nipah menjadi kelompok paling berisiko. Tanpa perlindungan yang memadai, virus dapat berpindah dengan cepat, terutama di lingkungan perawatan.

 

Gejala Penularan Virus Nipah seperti Apa?

Penularan Virus Nipah bermula dari hewan dan dapat menyebar antarmanusia. Ketahui cara penularan dan upaya pencegahannya. (Foto dibuat oleh AI)

Gejala Virus Nipah biasanya muncul 4 hingga 14 hari setelah terinfeksi. Pada awalnya, penderita mengalami demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, dan sesak napas.

Namun, pada kondisi berat, virus dapat menyebabkan pembengkakan otak atau ensefalitis, yang ditandai dengan kebingungan, kejang, penurunan kesadaran, hingga koma dalam waktu singkat.

Tingginya angka kematian membuat deteksi dini dan pencegahan menjadi kunci utama.

 

Cara Mengurangi Risiko Penularan Virus Nipah

Penularan Virus Nipah bermula dari hewan dan dapat menyebar antarmanusia. Ketahui cara penularan dan upaya pencegahannya. (Foto dibuat oleh AI)

Hingga kini belum tersedia obat khusus atau vaksin untuk Virus Nipah. Penanganan masih bersifat suportif, seperti menjaga hidrasi, istirahat, dan penanganan gejala.

Untuk menekan risiko penularan Virus Nipah, masyarakat diimbau menjaga kebersihan tangan, menghindari konsumsi buah yang tidak dicuci bersih, serta tidak mengonsumsi minuman mentah yang berpotensi terkontaminasi hewan. Kontak dengan hewan sakit atau kelelawar juga sebaiknya dihindari.

Penularan Virus Nipah memang terdengar jauh, tapi jalur penyebarannya sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari. Kewaspadaan dan pola hidup bersih menjadi langkah sederhana tapi penting untuk mencegah ancaman penyakit mematikan ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya