Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM Perluas Kawasan Rendah Emisi di Yogyakarta

Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM mencanangkan gerakan Kawasan Rendah Emisi di DIY sebagai langkah untuk mengurangi dampak lingkungan.

oleh Nikmah Laily HawaDiterbitkan 05 Februari 2026, 16:00 WIB
Mantan Ketua Pustral UGM Ikaputra dalam kegiatan peresmian gerakan Kawasan Rendah Emisi di kawasan Jeron Beteng, Kota Yogyakarta pada Minggu (2/2/2026). (Dok.UGM)

Liputan6.com, Jakarta - Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) meresmikan gerakan Kawasan Rendah Emisi (KRE) di kawasan Jeron Beteng, Kota Yogyakarta, pada Minggu 2 Februari 2026 untuk mengurangi dampak lingkungan, meningkatkan kualitas udara, dan menata sistem transportasi yang lebih berkelanjutan.

Gerakan tersebut diimplementasikan secara bertahap melalui proyek percontohan di Jeron Beteng sebagai upaya mendukung target iklim nasional sekaligus melindungi kawasan warisan dunia.

Kegiatan ini bertajuk “Nyawiji tanpa emisi, Tradisi luwih Lestari”, yang berarti menjaga kebersamaan dan tradisi dengan cara yang ramah lingkungan, supaya tradisi dapat terus hidup hingga generasi berikutnya.

Peresmian kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah pihak, mulai dari pihak akademisi, pemerintahan, tenaga ahli, hingga masyarakat umum.

Mantan Ketua Pustral UGM Ikaputra mengatakan, emisi merupakan salah satu penyebab terbesar munculnya climate change

Ia mengatakan, kawasan perkotaan khususnya cagar budaya seperti Jeron Beteng, memiliki peran strategis untuk berkontribusi mengurangi emisi karbon, terutama dari aktivitas transportasi.

"Perubahan iklim adalah masalah nyata di dunia, dan salah satu penyebab utamanya berasal dari emisi sektor transportasi," ujar Ikaputra, dilansir Liputan6.com dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM) www.ugm.ac.id, Selasa 3 Februari 2026.

"Sebagai kawasan warisan dunia Unesco, Yogyakarta juga didorong untuk ikut mengurangi emisi dan menjadi contoh upaya penanganan perubahan iklim," imbuhnya.

Alasan Dipilihnya Jeron Beteng

Aktivitas pembongkaran jalur pedestrian di kawasan Kota Tua, Jakarta, Rabu (23/3/2022). Pemprov DKI Jakarta merevitalisasi pedestrian Kota Tua menjadi plaza pedestrian untuk mendukung program zona rendah emisi di destinasi wisata sejarah tersebut. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Ikaputra menjelaskan alasan dipilihnya Jeron Beteng sebagai lokasi awal inisiasi ini karena sebagai cagar budaya, Jeron Beteng memiliki daya tarik serta mudah dikenali oleh publik.

Ia berharap, setelah inisiasi ini dapat berjalan dengan lancar, penerapan prinsip KRE mampu dikenal dan menyebar ke arah luar Beteng. 

"Cagar budaya menjadi branding karena orang-orang akan datang ke sini, namun bukan berarti tempat lain tidak membutuhkan. Justru sangat membutuhkan, tetapi cagar budaya dapat menjadi teladan karena sudah dikenal, sehingga setelah ada contoh penerapannya dapat diperluas, misalnya dari Keraton ke Pasar Ngasem, ke pinggiran benteng, dan bahkan ke luar kawasan cagar budaya," paparnya.

Ia menilai inisiatif bersama di tingkat lokal merupakan kunci utama agar Indonesia dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan emisi karbon secara global. 

"Inisiasi lokal merupakan kunci agar Indonesia dapat menyumbangkan peran tersendiri dalam pengurangan emisi tingkat global," terang Ikaputra.

Ia berharap, gerakan ini dapat berkelanjutan untuk mewujudkan Yogyakarta yang ramah lingkungan.

Dukungan dari Berbagai Lapisan

Peresmian gerakan Kawasan Rendah Emisi di kawasan Jeron Beteng, Kota Yogyakarta pada Minggu (2/2/2026). (Dok.UGM)

Gerakan perbanyak Kawasan Rendah Emisi ini mendapatkan respon positif dari berbagai pihak, termasuk pihak pemerintah, komunitas, dan masyarakat daerah. 

Dukungan tersebut dinilai mencerminkan persamaan visi untuk menuju tahapan pengurangan emisi di daerah Jeron Beteng. 

"Respons dari pemerintah luar biasa. Hari ini ada kepala dinas perhubungan DIY, perwakilan kepala dinas kebudayaan DIY, masyarakat, dan komunitas yang berkumpul disini tanpa ada status resmi bahwa ini adalah Kawasan Rendah Emisi yang akan kita kembangkan," ungkap Ikaputra.

Selain itu, melalui Deklarasi KRE Jeron Beteng ini, Ikaputra menggarisbawahi upaya untuk mewujudkannya hanya dapat berhasil melalui kolaborasi antara pihak pemerintah, masyarakat, dan Keraton.

Kolaborasi ini ditujukan sebagai tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlanjutan bumi dan cagar budaya. 

"Gerakan ini menjadi proyek percontohan yang mendorong kehidupan rendah emisi dan nol sampah, sebelum diperluas dan distandarkan melalui komitmen bersama," pungkasnya.

Infografis 10 Kota Dunia dengan Kualitas Udara yang Buruk akibat Polusi

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya