Liputan6.com, Jakarta - Istri Hoegeng, Meriyati Roeslani meninggal dunia pada Selasa (3/2/2026). Eyang Meri itu wafat dalam usia 100 tahun. Meriyati mengembuskan napas terakhir pada pukul 13.24 WIB setelah menjalani perawatan akibat sakit.
Meriyati dikenal sebagai pendamping Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, Kapolri ke-5 yang dikenang luas karena kejujuran dan integritasnya dalam menegakkan hukum.
Advertisement
Meri setia menemani Hoegeng sejak masih menjadi perwira dengan hidup pas-pasan, menjabat Kapolri, hingga akhir hayat suaminya. Hoegeng meninggal dunia pada 14 Juli 2004 karena menderita stroke.
Semasa menemani Hoegeng, Meriyati paham betul sosok suaminya yang dikenal haram menerima uang suap atau pemberian di luar gaji dan tunjangan. Hoegeng selalu menanamkan nilai kejujuran kepada keluarga. Bagi Hoegeng, kejujuran dan integritas adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar.
Satu cerita yang paling diingat Meri adalah ketika diminta menutup toko bunga miliknya ketika Hoegeng menjabat Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia. Padahal saat itu, toko bunga itu cukup laris dan terus berkembang. Meri membuka toko bunga tersebut untuk menambah pemasukan keluarga yang hidup pas-pasan.
Permintaan itu disampaikan satu hari sebelum Hoegeng akan dilantik menjadi Kepala Jawatan Imigrasi (kini jabatan ini disebut dirjen imigrasi) tahun 1960.
Tentu saja hal ini menjadi pertanyaan istrinya. Apa hubungannya dilantik menjadi kepala jawatan imigrasi dengan menutup toko bunga. Rupanya Hoegeng khawatir orang-orang yang membeli bunga nantinya merupakan relasinya di Imigrasi. Dia tak mau itu terjadi. Akhirnya Meri bersedia menutup toko bunganya.
"Nanti semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang ibu, dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya," jelas Hoegeng.
Meri selalu mendukung suaminya untuk hidup jujur dan bersih memahami maksud permintaan Hoegeng. Dia rela menutup toko bunga yang sudah maju dan besar itu.
"Bapak tak ingin orang-orang beli bunga di toko itu karena jabatan bapak," kata Merry.
Imigrasi Sarang Korupsi
Sejak awal kemerdekaan jawatan imigrasi dikenal sebagai sarang korupsi dan penyelundupan. Itulah alasan Presiden Soekarno mengkaryakan Hoegeng di posisi tersebut.
Benar saja, Hoegeng tak memanfaatkan jabatannya untuk mengeruk kekayaan. Padahal imigrasi dikenal sebagai 'lahan basah' bagi para PNS untuk memperkaya diri.
Semasa dikaryakan sebagai kepala jawatan Imigrasi, Hoegeng masih tetap mengenakan seragam polisi. Dia hanya mau mengambil gajinya dari kepolisian. Gaji dan tunjangan sebagai kepala jawatan imigrasi tak disentuh.
Tahun 1965, Hoegeng berhenti menjabat kepala jawatan imigrasi. Dia diangkat menjadi menteri iuran negara (kini disebut bea dan cukai). Di sinilah Hoegeng membongkar kasus penyelundupan tekstil besar-besaran.
Tahun 1966, setelah bertugas di luar Polri selama enam tahun, Hoegeng kembali ke Korps Bhayangkara. Dia menjabat Wakapolri yang pada saat itu bernama Deputi Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian.
Tahun 1968, Hoegeng dilantik menjadi Kapolri. Lagi-lagi dia masih mempertahankan gaya sederhananya. Hoegeng menolak mobil dinas sedan mewah dan memilih jip.