Arief Hidayat Jelang Purna Tugas sebagai Hakim MK: Cerita soal PDIP, Bung Karno, dan Jaket Merahnya

Arief Hidayat jelang purna tugasnya, memilih menengok kembali perjalanan hidup yang membawanya ke kursi hakim konstitusi.

oleh Putu Merta Surya PutraDiterbitkan 03 Februari 2026, 11:10 WIB
Arief Hidayat jelang masa purnanya sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) saat meluncurkan buku terkait kiprahnya di Aula Gedung 1 MK, Jakarta. (Foto: Dokumentasi MK).

Liputan6.com, Jakarta - Arief Hidayat akan resmi purnatugas setelah 13 tahun mengabdi sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) pada Selasa (3/2/2026) pukul 24.00 WIB.

Jelang masa pensiunnya, pada Senin 2 Februari 2026, Arief Hidayat meluncurkan buku mengenai 13 tahun kiprahnya sebagai hakim MK.

"Pada buku itu ada hal-hal yang agak krusial sedikit dan memerlukan penjelasan," kata Arief di Aula Gedung 1 MK, Jakarta.

Arief menengok kembali perjalanan hidupnya sebelum dipercaya menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi. Sebuah posisi yang menurut pengakuannya, tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ia pun mengawali kisahnya dengan mengutip pesan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Satjipto Rahardjo, yang menyebut bahwa puncak pengabdian seorang dosen adalah mencapai jabatan guru besar.

"Maka pada tahun 1998 sebetulnya sudah diajak oleh teman-teman, tokoh-tokoh di Jawa Tengah melalui partai PDI, Pak Prof Dimyati Hartono mengajak saya untuk mencalonkan sebagai anggota DPR pada tahun 1998. Tapi waktu itu saya izin ke Prof Satjipto, dia tidak mengizinkan, karena pesan ibu saya karena beliau kenal dekat, 'Arief harus menjadi seorang guru besar'," cerita Arief Hidayat.

Dia pun menceritakan, waktu menjadi dosen muda, memasang foto Presiden pertama RI Soekarno atau Bung Karno di ruangannya. Pada saat itu, seorang guru besar mengomentari hal tersebut. "Arief kalau kamu masih ikut foto itu terus, enggak mungkin bisa cari makan, tolong tinggalkan dan ikut saya," cerita Arief menirukan nasehat guru besar yang tak disebutkan namanya.

Namun, Arief tak mengindahkan nasehat tersebut. "Mohon maaf prof, saya tetap setia dengan beliau (Bung Karno) dalam arti setia dengan ajaran-ajaran beliau, sehingga sampai hari ini saya masih menggunakan jaket yang paling saya suka adalah jaket merah. Karena jaket merah itu PA GMNI dan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro juga merah," tutur dia.

"Dan warna merah kayaknya membekas di hati saya sejak kecil," sambung Arief.

 

Arief Hidayat dan Taufiq Kiemas

Arief Hidayat jelang masa purnanya sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) saat meluncurkan buku terkait kiprahnya di Aula Gedung 1 MK, Jakarta. (Foto: Dokumentasi MK).

Arief juga menceritakan kedekatannya dengan politikus senior PDIP, almarhum Taufiq Kiemas, saat ia mulai menapaki kancah politik nasional.

"Setelah saya ke Jakarta, saya dipungut menjadi anak pungut Bapak Taufiq Kiemas. Waktu itu Bapak Taufiq Kiemas Ketua MPR menyampaikan kepada saya; 'Arief Hidayat pemikiran-pemikirannya kayaknya berguna di tingkat nasional jangan hanya di tingkat Undip,' kata beliau," ungkap dia.

"Sejak saat itu maka Pak Taufiq Kiemas sering mengajak diksusi saya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan konsepsi negara hukum yang berwatak Pancasila. Kebetulan waktu menunggu Ketua MPR saya di ruang Fraksi PDIP, di ruang Prof Yasonna Laoly, dikasih makan disitu," sambungnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya