Liputan6.com, Jakarta - Menyusul Goldman Sachs dan UBS, lembaga keuangan Nomura menurunkan peringkat saham Indonesia pada Senin, (2/2/2026). Salah satu pertimbangannya yakni peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Mengutip laman Financial Post, Nomura Strategist Chetan Seth menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi netral dari sebelumnya overweight. Hal ini alasan risiko investability dan arus keluar dari dana pasif.
Advertisement
“Peringatan MSCI tentang penurunan peringkat menjadi status frontier market merupakan kejutan bagi kami dan pasar,” ujar dia.
“Sikap positif kami sebelumnya didasarkan pada valuasi relatif yang menarik, ekspektasi kami akan stabilisasi ekonomi dan laba perusahaan serta harapan pasar yang rendah setelah kinerja buruk berkepanjangan,”
Ia menyebutkan, saham dan mata uang berpotensi menciptakan profil risiko imbalan yang menarik bagi investor yang sabar.
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga penutupan perdagangan saham Senin, 2 Februari 2026. Namun, tekanan IHSG berkurang meski sudah meninggalkan posisi 8.000 dan seluruh sektor saham memerah.
Mengutip data RTI, IHSG turun 4,88% ke posisi 7.922,73. Indeks saham LQ45 terpangkas 3,27% ke posisi 806,24. Seluruh indeks saham acuan tertekan.
Pada awal pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 8.313,05 dan level terendah 7.820,22. Sebanyak 720 saham memerah sehingga bebani IHSG. 58 saham menguat dan 36 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan 2.948.948 kali dengan volume perdagangan saahm 50 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 29 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.785.
Seluruh sektor saham memerah. Sektor saham basic terpangkas 10,74%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi turun 7,66%, sektor saham industri melemah 5,88%, sektor saham consumer nonsiklikal susut 1,73%, sektor saham consumer siklikal melemah 7,67%.
Lalu sektor saham kesehatan terpangkas 1,28%, sektor saham keuangan turun 2,33%, sektor saham properti melemah 6,27%, sektor saham teknologi merosot 6,04%, sektor saham infrastruktur turun 6,06%, dan sektor saham transportasi tergelincir 6,18%.
Goldman Sachs dan UBS Turunkan Peringkat Saham Indonesia
Sebelumnya, pasar saham Indonesia kembali terguncang setelah dua lembaga keuangan global, Goldman Sachs Group Inc dan UBS AG, kompak menurunkan rekomendasi terhadap saham Indonesia. Langkah ini diambil menyusul peringatan dari MSCI Inc terkait risiko keterinvestasian pasar, yang langsung memicu tekanan besar di bursa.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 10 persen pada perdagangan Kamis, bahkan memaksa otoritas bursa menghentikan perdagangan sementara selama 30 menit. Tekanan jual semakin dalam setelah analis global memangkas penilaian mereka terhadap aset Indonesia.
Mengutip The Edge Singapore, Kamis (29/1/2026), Goldman Sachs menyebut bahwa dalam skenario ekstrem, penurunan minat investor dapat memicu arus dana keluar lebih dari USD 13 miliar dari pasar saham domestik. Risiko tersebut dinilai muncul apabila Indonesia mengalami penurunan status pasar menyusul evaluasi MSCI.
UBS AG juga mengambil sikap serupa dengan memangkas rekomendasi saham Indonesia. Dalam catatan risetnya, UBS menilai tekanan terhadap pasar masih akan berlanjut hingga ada kepastian kebijakan dan hasil peninjauan ulang dari MSCI.
Penurunan rekomendasi dari dua raksasa keuangan dunia ini mempertegas meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap kondisi struktural pasar saham Indonesia, terutama terkait transparansi dan likuiditas.
Soroti Free Float
Goldman Sachs dan UBS menyoroti persoalan rendahnya porsi saham beredar bebas (free float) di pasar Indonesia. Banyak emiten berkapitalisasi besar dinilai memiliki saham yang diperdagangkan secara terbatas dan dikendalikan oleh segelintir pemegang saham utama. Kondisi ini dianggap berpotensi mendistorsi pergerakan indeks dan meningkatkan risiko volatilitas.
“Kami menilai tekanan terhadap pasar secara keseluruhan kemungkinan akan terus berlanjut sampai ada kejelasan terkait regulasi dan penilaian ulang dari MSCI,” tulis analis UBS, termasuk Sunil Tirumalai, dalam laporan mereka.
Dampak dari penurunan rekomendasi tersebut juga terasa pada nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda tercatat melemah hingga 0,5 persen terhadap dolar AS, menjadi penurunan harian terbesar sejak Oktober, sekaligus tertinggal dibandingkan mata uang utama Asia lainnya.
Di tengah tekanan pasar, regulator Indonesia menyatakan komitmennya untuk meningkatkan transparansi. Indonesia memiliki waktu hingga Mei, ketika MSCI akan kembali menilai aksesibilitas pasar saham nasional. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi faktor penting bagi persepsi investor global.