Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) atau harga perak Antam turun pada perdagangan Senin, (2/2/2026). Harga perak Antam ini berlawanan dengan harga emas Antam.
Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini turun Rp 250 menjadi Rp 54.500. Sebelumnya, harga perak Antam dipatok Rp 54.750.
Advertisement
Mengutip Yahoo Finance, harga emas dan perak dunia kompak turun. Harga emas dunia susut menyusul koreksi terbesar dalam lebih dari satu dekade.
Sedangkan harga perak berfluktuasi tajam dalam perdagangan yang bergejolak setelah alami penurunan dramatis dari rekor tertinggi.
Harga emas spot melemah hingga 6,3% pada Senin pekan ini. Sementara itu, harga perak berfluktuasi tajam, turun menjadi USD 75 per ounce setelah naik hingga 3,3%. Logam putih itu mencatat kerugian intraday terbesar sepanjang masa pada sesi sebelumnya.
Harga emas turun 4,4% menjadi USD 4.680,76 per ounce pada pukul 09.21 waktu Singapura. Harga perak terpangkas 2,2% menjadi USD 83.2965. Platinum dan paladium juga tergelincir.
“Ini belum berakhir,” ujar mantan trader JPMorgan Chase & Co, Robert Gottlieb.
Ia menambahkan, keengganan untuk mengambil risiko lebih lanjut akan membatasi likuiditas pasar.
"Kita harus melihat apakah harga akan menemukan titik dukungan. Intinya adalah perdagangan terlalu ramai,” ujar dia.
Selama tahun lalu, logam mulia telah naik ke level tertinggi sepanjang masa yang mengejutkan bahkan para pedagang berpengalaman. Reli tersebut meningkat tajam pada bulan Januari, karena investor berbondong-bondong membeli emas dan perak karena kekhawatiran baru tentang gejolak geopolitik, penurunan nilai mata uang, dan independensi Federal Reserve. Gelombang pembelian dari spekulator China menambah gelembung pada reli tersebut.
Sentimen Aksi Jual
Pemicu aksi jual dramatis pada Jumat adalah berita kalau Presiden AS Donald Trump akan menominasikan Kevin Warsh untuk memimpin The Fed, yang membuat dolar AS menguat dan melemahkan sentimen di antara investor yang telah bertaruh pada kesediaan Trump untuk membiarkan mata uang melemah.
Para pedagang menganggap Warsh sebagai pejuang inflasi terkuat di antara kandidat final, meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang akan mendukung dolar dan melemahkan harga emas yang dihargai dolar AS.
Sentimen Lainnya
Namun, logam mulia memang sudah siap untuk pergerakan ekstrem, karena harga yang melonjak dan volatilitas telah membebani model risiko dan neraca keuangan para pedagang.
Gelombang pembelian opsi beli (call option) yang memecahkan rekor kontrak yang memberi pemegang hak untuk membeli dengan harga yang telah ditentukan—secara mekanis memperkuat momentum kenaikan harga, kata Goldman Sachs Group Inc. dalam sebuah catatan, karena para penjual opsi tersebut melindungi diri dari risiko kenaikan harga dengan membeli lebih banyak.