Badai Salju di AS Tekan Penambang Bitcoin, Produksi Anjlok Tajam

Badai musim dingin di AS membuat penambangan Bitcoin terganggu. Produksi anjlok, harga BTC dan Ethereum ikut tertekan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 02 Februari 2026, 11:00 WIB
Seseorang memegang payung saat salju turun di Central Park, Kota New York pada Minggu 25 Januari 2026. Badai besar musim dingin menerjang Amerika Serikat (AS) sejak Sabtu 24 Januari 2026. (TIMOTHY A. CLARY/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Badai musim dingin yang melanda Amerika Serikat (AS) pada Januari kemarin berdampak signifikan terhadap operasional penambangan Bitcoin. Cuaca ekstrem membuat sejumlah penambang menghentikan atau mengurangi aktivitas, sehingga produksi Bitcoin harian turun tajam.

Badai tersebut menyoroti kerentanan industri penambangan Bitcoin terhadap kondisi pasar energi. Dampaknya terlihat jelas dari penurunan produksi para penambang serta tekanan terhadap harga Bitcoin dan aset kripto lainnya, yang ikut memengaruhi sentimen investor.

Dikutip dari Coinmarketcap, Senin (2/2/2026), selama badai musim dingin berlangsung, perusahaan penambangan Bitcoin yang tercatat di bursa saham AS mencatat penurunan produksi harian secara signifikan. Akumulasi salju dan es memaksa para penambang mengurangi operasi demi menjaga stabilitas jaringan listrik yang berada di bawah tekanan.

Data CryptoQuant menunjukkan, produksi Bitcoin yang biasanya berada di kisaran 70 hingga 90 BTC per hari anjlok menjadi hanya sekitar 30 hingga 40 BTC pada puncak badai.

Reaksi pasar pun terjadi dengan cepat. Pada 1 Februari, harga Bitcoin sempat turun di bawah USD 77.000 atau melemah sekitar 5,32 persen. Ethereum juga mengalami tekanan, dengan harga sempat menyentuh level USD 2.300.

Trader kripto Eugene Ng Ah Sio turut menanggapi kondisi tersebut.

“Sepertinya kali ini kitalah yang sedang ‘dipermainkan’. Lebih baik kita mundur sejenak,” ujarnya.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Ketergantungan Energi Jadi Sorotan

Badai menyebabkan ribuan penerbangan dibatalkan hingga pemadaman listrik besar-besaran. Tampak dalam foto, orang-orang berjalan melintasi Sixth Avenue saat salju turun di distrik Manhattan, Kota New York, pada Minggu 25 Januari 2026. (CHARLY TRIBALLEAU/AFP)

Badai musim dingin ini kembali menegaskan ketergantungan besar industri penambangan Bitcoin pada pasokan energi yang stabil. Meski cuaca ekstrem sebelumnya pernah memengaruhi aktivitas penambangan di AS, dampak kali ini dinilai jarang terjadi dalam skala sebesar ini.

Mengutip CoinMarketCap, harga Bitcoin saat ini berada di level USD 77.511,94 dengan kapitalisasi pasar mencapai USD 1,55 triliun. Volume perdagangan 24 jam tercatat sebesar USD 53,46 miliar, turun 23,93 persen. Dalam 90 hari terakhir, harga Bitcoin telah terkoreksi sekitar 27,18 persen.

Tim riset Coincu menilai dampak badai ini bisa mendorong evaluasi lebih lanjut terkait stabilitas jaringan listrik dan penggunaan energi oleh industri kripto. Ke depan, kondisi tersebut berpotensi memicu peninjauan regulasi sekaligus menekankan pentingnya strategi darurat bagi industri yang sangat bergantung pada energi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya