Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (1/2/2026) menyatakan pihaknya tengah melakukan perundingan dengan pimpinan Kuba untuk mencapai sebuah kesepakatan. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa hari setelah ia mengancam perekonomian Kuba yang tengah terpuruk dengan langkah yang disebut sebagai blokade minyak.
Berbicara kepada wartawan di resor pribadinya, Mar-a-Lago, di Palm Beach, Florida, Trump mengatakan bahwa Kuba telah lama berada dalam kondisi gagal sebagai sebuah negara. Menurutnya, situasi tersebut kini semakin memburuk karena Kuba tidak lagi mendapat dukungan dari Venezuela.
Advertisement
"Kuba adalah negara yang gagal. Sudah lama demikian, tetapi sekarang mereka tidak lagi memiliki Venezuela untuk menopang mereka. Jadi kami sedang berbicara dengan orang-orang dari Kuba, orang-orang paling atas di Kuba, untuk melihat apa yang akan terjadi," ujar Trump, seperti dikutip dari CNA. "Saya rasa kita akan mencapai kesepakatan dengan Kuba."
Pemerintahan Trump periode kedua diketahui telah meningkatkan tekanan terhadap negara kepulauan berhaluan komunis yang terletak di selatan Florida itu sejak 3 Januari, setelah AS menggulingkan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro. Venezuela sebelumnya merupakan sekutu dekat Havana sekaligus pemasok utama ekspor minyaknya.
Pada Kamis lalu, Trump menandatangani sebuah perintah eksekutif yang mengancam akan mengenakan tarif tambahan terhadap negara-negara yang menjual minyak ke Kuba. Sehari setelah kebijakan tersebut diumumkan, warga Kuba terlihat mengantre panjang di stasiun pengisian bahan bakar di Havana.
Sementara itu, kuasa usaha AS untuk Kuba sejak 2024 Mike Hammer mengatakan bahwa saat melakukan kunjungan ke Provinsi Trinidad di Kuba tengah pada akhir pekan, ia menemui sekelompok warga yang meneriakinya dengan sejumlah hinaan. Pernyataan tersebut disampaikan Hammer melalui sebuah video yang diunggah di platform X.
"Saya pikir mereka berasal dari partai tertentu, tetapi saya tahu mereka tidak mewakili rakyat Kuba, warga Kuba biasa," kata Hammer, merujuk pada Partai Komunis Kuba.
Menanggapi insiden tersebut, Biro Urusan Belahan Barat Kementerian Luar Negeri AS menyampaikan pernyataan di X yang menegaskan bahwa rezim Kuba yang mereka sebut tidak sah harus segera menghentikan tindakan represif berupa pengiriman individu untuk mengganggu pekerjaan diplomatik Hammer dan anggota tim Kedutaan Besar AS di Kuba.
"Para diplomat kami akan terus bertemu dengan rakyat Kuba meskipun rezim ini melakukan intimidasi yang gagal," tulis pernyataan tersebut.
Ancaman Trump
Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang lahir di Miami sebagai putra pengungsi Kuba, secara terbuka menyatakan keinginan mereka untuk mendorong perubahan rezim di Havana. Setelah jatuhnya Maduro di Venezuela, Trump bahkan memperingatkan pemerintah Kuba agar segera membuat kesepakatan atau menghadapi konsekuensi yang tidak dirinci.
Sebelumnya, Trump menulis pernyataan keras dengan mengatakan, "TIDAK ADA LAGI MINYAK ATAU UANG UNTUK KUBA: NOL!"
Ia juga mengklaim bahwa Kuba "siap untuk jatuh".
Di sisi lain, pemerintah Kuba menuduh Trump berupaya mencekik perekonomian negara tersebut. Tuduhan itu muncul di tengah kondisi dalam negeri Kuba yang semakin sulit, ditandai dengan pemadaman listrik harian yang kian intensif serta antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar yang terus bertambah.