Liputan6.com, Jakarta - Pasar kripto dinilai memasuki wilayah lebih bearish meski baru 30 hari memasuki 2026 .Harga bitcoin (BTC) dan kripto lainnya mulai merosot dan jatuh.
Mengutip Yahoo Finance, Sabtu (31/1/2026), pada 30 Januari, bitcoin diperdagangkan di USD 81.847,15 atau Rp 1,37 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.770). Ini merupakan penurunan 21% dalam setahun.
Advertisement
Koreksi harga terjadi karena sentimen bitcoin terus menurun. Analis prediksi kondisi pasar bearish atau turun akan berlangsung lebih lama dan target harga lebih rendah.
Berdasarkan data CoinGlass, total likuidasi mencapai USD 1,38 miliar dalam 24 jam. Bitcoin mengambil bagian terbesar USD 563,95 juta.
Berdasarkan trader dan analis Daan Crypto Trades, pasar akan menguji ulang rata-rata pergerakan 200 minggu yang sering kali dinilai menjadi area nilai yang bagus untuk pembelian jangka panjang.
Moving average 200 minggu (200 WMA) adalah indikator teknis jangka panjang yang menghaluskan data harga dengan merata-ratakan harga penutupan aset selama 200 minggu terakhir.
Di pasar kripto dan saham, indikator ini membantu mengidentifikasi tren jangka panjang, level support dan zona pembalian potensial untuk aset utama seperti bitcoin.
“Semakin dekat Anda dapat mengakumulasi aset di dekat MA ini, semakin baik nilai yang Anda dapatkan,” ujar analis tersebut dalam sebuah postingan di platform X dahulu bernama Twitter.
“Ingatlah, harga ini naik beberapa ratus dolar per minggu, jadi seiring waktu harga dapat mencapai moving average meskipun bergerak mendatar.”
Saat ini, 200 WMA berada di USD 57.651,15 atau Rp 967,03 juta, menurut CoinGlass.Pergerakan seperti itu akan berarti penurunan 30,23% dari harga saat ini dan penurunan 34,4% dari harga tertinggi sepanjang masa pada USD 126.000.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
BlackRock Kembali Ajukan ETF Bitcoin Baru
Sebelumnya, BlackRock, manajer aset terbesar di dunia telah mengajukan permohonan untuk meluncurkan produk yang diperdagangkan di bursa atau exchange traded fund (ETF) kedua yang fokus pada bitcoin (BTC). Produk ini akan memberikan eksposur investor terhadap kripto itu bersama dengan sedikit imbal hasil.
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Selasa (27/1/2026), ETF iShares Bitcoin Premium Income akan menampilkan bitcoin, dana tunai, dan saham dari ETP Bitcoin BlackRokc yang berusia dua tahun, iShares Bitcoin Trust atau IBIT.
Berdasarkan pengajuan itu, untuk menghasilkan pendapatan premium bulanan untuk ETP baru ini, BlackRock akan menjual opsi beli atau call option pada saham IBIT.
"Meskipun Saham [dalam ETF iShares Bitcoin Premium Income] bukanlah investasi langsung dalam bitcoin atau dalam ETP bitcoin spot, saham tersebut memberikan investor metode alternatif untuk mencapai eksposur investasi terhadap bitcoin melalui pasar sekuritas, sambil menghasilkan pendapatan premium," demikian bunyi pengajuan tersebut.
Ada Permintaan
IBIT BlackRock telah meraih kesuksesan besar sejak diluncurkan pada 2024. Ini adalah ETF yang berfokus pada kripto terbesar, yang memegang Bitcoin senilai hampir USD 70 miliar atau Rp 1.172 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.750), menurut data DefiLlama. Pesaing terdekat kedua adalah ETF Bitcoin milik Fidelity, dengan hanya USD 17 miliar atau Rp 284,79 triliun dalam Bitcoin.
Pengajuan ini merupakan perkembangan terbaru yang mengisyaratkan permintaan besar untuk produk Bitcoin yang ditawarkan oleh raksasa keuangan tradisional. Awal bulan ini, Morgan Stanley mengumumkan akan meluncurkan ETF Bitcoin spot miliknya sendiri.
"Belum pernah terjadi sebelumnya bagi produk ETF biasa untuk diluncurkan dua tahun setelah yang pertama memasuki pasar telah mengamankan tahta likuiditas,” ujar kepala investasi di ProCap BTC, Jeff Park saat itu.