Liputan6.com, Jakarta - Seekor lutung liar menghebohkan warga Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, setelah muncul di pemukiman penduduk pada siang hari. Kehadiran primata tersebut pertama kali diketahui oleh sejumlah ibu-ibu yang sedang beraktivitas di kolam umum.
Peristiwa ini bermula pada Kamis siang (29/1/2026). Sigit (40), salah seorang warga setempat, menceritakan bahwa teriakan emak-emak menjadi awal mula warga mengetahui adanya satwa yang tidak biasa masuk ke lingkungan mereka.
Advertisement
"Itu pertama dilihat oleh warga, oleh ibu-ibu yang lagi nyuci, biasa kan suka di kolam. Sekitaran jam 13.00 WIB ramai ibu-ibu itu ada binatang serupa kaya monyet tapi bentuknya beda. Dari teriakan ibu-ibu tersebut mengundang warga untuk datang, akhirnya diketahui bahwa binatang tersebut seekor lutung," ujar Sigit, saat dimintai keterangan pada Jumat (30/1/2026).
Diduga karena lapar, lutung tersebut sempat mendekati salah satu rumah warga yang sedang kosong untuk mengincar sisa makanan di tumpukan sampah.
Namun, karena banyaknya warga yang datang melihat, lutung tersebut melarikan diri dan dilaporkan berpindah ke arah Kampung Cibolang Kidul, Desa Cibatu.
"Dugaan warga, itu dari Situ Gunung. Biasanya kalau musim hujan lutung itu suka ke bawah, kalau musim panas nggak pernah kelihatan," tambah Sigit.
Tanggapan Taman Nasional Gunung Gede
Menanggapi laporan tersebut, Kepala Resort Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Asep Suganda, memberikan pandangan lain.
Menurutnya, kecil kemungkinan lutung liar dari dalam hutan melakukan invasi ke rumah penduduk karena stok makanan di alam masih sangat melimpah.
"Bisa jadi itu dibawa, ada yang bawa. Atau dari lokasi lain ditangkap, dipelihara kemudian lepas. Kalau di Situ Gunung, populasi memang meningkat, tapi mereka tidak akan invasi keluar karena makanan banyak di alam dan belum terhabituasi (terbiasa dengan manusia)," jelas Asep.
Ia juga menegaskan bahwa lutung adalah satu dari lima jenis primata yang dilindungi. Asep meminta warga untuk tidak menangkapnya secara mandiri, apalagi untuk dipelihara.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak menangkap untuk dipelihara, itu akan menyulitkan diri sendiri. Biarkan di alam. Biasanya kasusnya iseng, tertarik dipelihara, lalu dilepas," sambung dia.
Pihaknya juga telah menginformasikan kejadian ini kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk penanganan di luar wilayah taman nasional.