Pasar Modal Indonesia Bakal Satu Kelas dengan Negara Ini Jika Degradasi MSCI

Pandu Sjahrir peringatkan potensi dana keluar (outflow) dari pasar modal Indonesia hingga USD 50 miliar jika MSCI turunkan status Indonesia jadi frontier market

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 29 Januari 2026, 19:40 WIB
Sebelumnya, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (29/1/2026) pagi dibuka melemah 357,76 poin atau 4,30 persen ke posisi 7.962,79. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menyoroti konsekuensi yang dapat muncul apabila MSCI menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi frontier market. Jika klasifikasi turun posisi pasar modal Indonesia akan sejajar dengan negara-negara seperti Bangladesh hingga Nigeria dari sisi pengelompokan indeks global.

“Saya lagi baca list frontier market karena kan persiapannya ke frontier market sekarang. Pada negara seperti Bangladesh, Burkina Faso, Niger, Pakistan, Senegal, Togo, Tunisia,” kata Pandu dalam Prasasti Economic Forum 2026 di Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Pandu menyebut wacana tersebut bukan hal baru dan sudah dibahas dalam beberapa bulan terakhir. Ia bahkan mengaku telah bertemu langsung dengan jajaran direksi MSCI untuk mendengar berbagai masukan yang diberikan.

“Saya sendiri sudah bertemu dengan Direksi MSCI. Masukan-masukan yang menurut saya sangat clear. At the end regulator harus bisa bertindak,” ujar Pandu.

Menurut Pandu, kondisi ini menjadi sinyal penting bagi regulator karena implikasinya tidak hanya pada persepsi, tetapi juga terhadap arus modal dan kedalaman pasar keuangan. Ia menilai MSCI telah menyampaikan informasi secara terbuka dan pasar pun sudah mulai bereaksi.

“Kalau untuk perubahan dari market sekarang ke frontier market kurang lebih Pak Burhan ijin itu kurang lebih 25-50 billion US outflow. Saya serahkan balik kepada regulator bagaimana mereka mau bekerja di sini,” kata dia.

Dari sisi Danantara, Pandu menegaskan pihaknya tetap berkomitmen berinvestasi di pasar modal Indonesia. Namun, strategi investasi akan menyesuaikan dengan kondisi likuiditas yang terbentuk apabila terjadi perubahan klasifikasi tersebut.

Danantara Ungkap Penyebab MSCI Turunkan Kasta Pasar Modal Indonesia

Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 98,791 miliar senilai Rp67,823 triliun. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menyoroti potensi risiko penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI dari emerging market menjadi frontier market. 

“Kalau untuk perubahan dari market sekarang ke frontier market kurang lebih Pak Burhan ijin itu kurang lebih USD 25-50 billion outflow. Saya serahkan balik kepada regulator bagaimana mereka mau bekerja di sini,” kata dia Pandu dalam Prasasti Economic Forum 2026 di Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (29/1/2026).

 Pandu mengungkapkan dirinya telah bertemu langsung dengan jajaran direksi MSCI untuk membahas berbagai masukan yang diberikan lembaga penyedia indeks global tersebut. Ia menilai sejumlah catatan yang disampaikan MSCI sudah jelas dan kini berada di ranah otoritas untuk meresponsnya.

“Saya sendiri sudah bertemu dengan Direksi MSCI. Masukan-masukan yang menurut saya sangat clear. At the end regulator harus bisa bertindak,” ujar Pandu.

 

Kewenangan Regulator

Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG melemah 8,0 persen ke level 7.654,66. Tampak dalam foto, pengunjung berfoto di depan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Ia juga menyinggung daftar negara yang masuk kategori frontier market sebagai bagian dari upaya memahami kemungkinan perubahan klasifikasi tersebut. Menurutnya, langkah dan arah kebijakan selanjutnya sepenuhnya menjadi kewenangan regulator, mengingat informasi terkait potensi perubahan status pasar sudah terbuka.

Dari sisi investasi, Danantara tetap menempatkan pasar modal sebagai salah satu fokus utama, terutama untuk mendorong pendalaman pasar keuangan domestik. Namun, Pandu mengakui bahwa dinamika likuiditas akan memengaruhi strategi penempatan dana ke depan, khususnya bila terjadi perubahan status pasar yang berpotensi memicu arus keluar dana asing dalam jumlah besar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya