Liputan6.com, Jakarta - Banjir setinggi satu meter merendam ratusan rumah di RT 16 RW 04, kawasan Bojong Kavling, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (29/1/2026). Ketua RT 16 Irah Rahayu pun merinci korban terdampak di kampungnya itu.
"Di sini itu ada 450 Kepala Keluarga (KK), dan 350 lebih bangunan. Sebagian besar rumah itu terendam, enggak lebih dari 50 rumah yang enggak (terendam)," kata Ketua RT 16 Irah Rahayu di kawasan Bojong Kavling, Jakarta Barat.
Advertisement
Genangan air yang masuk hingga ke dalam rumah itu melumpuhkan aktivitas masyarakat, termasuk para pelajar yang terpaksa mengurungkan niatnya untuk tidak berangkat ke sekolah.
Menurut Irah, hujan lebat sejak Rabu, 28 Januari 2026 malam hingga Kamis pagi, serta tanggul kali yang pecah membuat banjir yang menggenangi wilayah tersebut kian parah.
"Kebetulan lagi hujan besar, ya, lagi deras sekali. Kemudian, dipicu dengan ketinggian air sungai juga, dan kemudian di ujung kampung ini ada tanggul yang pecah," ujar Irah.
Kondisi tersebut, kata dia, membuat luapan air sungai dengan cepat membanjiri kawasan sekitar.
Meski demikian, sebagian warga tampak masih memilih bertahan di rumah masing-masing dari pada pindah ke tempat pengungsian.
Sirine Banjir di Bekasi
Ada yang tak biasa dialami warga Bekasi, Rabu (28/1/2026) malam. Bunyi sirine meraung-raung. Memecah keheningan malam. Untuk pertama kalinya, sirine itu berbunyi. Bukan sirine ambulans atau mobil patroli polisi. Sirine itu penanda ketinggian air mulai naik. Siap-siap banjir bisa datang sewaktu-waktu.
Malam itu, sekitar pukul 20.30 WIB, Christo Nove dikejutkan dengan bunyi sirine tersebut. Padahal, jarak dari rumahnya ke tempat sirine itu dipasang cukup jauh. Hampir 2,5 kilometer. Rumahnya berada di Kawasan Duren Jaya. Sedangkan sirine itu berada di Jalan Agus Salim, Kp Lebak Teluk Pucung Bekasi Utara.
“Sekitar 30 menit, tidak lebih dari satu jam bunyinya,” ungkap Christo saat berbincang dengan Liputan6.com, Kamis (29/1/2026).
Sebenarnya, Christo mengetahui bahwa suara itu berasal dari sirine yang dipasang di pintu air. Namun, karena ini baru pertama kali berbunyi, warga belum terbiasa.
“Kami agak kaget suara apa. Aduh suara apa, saya ingat sirine air. Dibayangin juga ngeri, berarti siap-siap banjir,” katanya.
Sirine Dipasang di Akhir 2025
Sirine itu dipasang pada akhir 2025. Sirine itu berbunyi otomatis setelah tinggi muka air pada Kali Bekasi di titik pertemuan Cikeas dan Cileungsi jam 20.00 mencapai 480 CM atau siaga 3. Batas normalnya, seharusnya hanya 350 cm.
Bagi warga, bunyi sirine malam itu membuat khawatir. Grup aplikasi percakapan WhatsApp tak berhenti berbunyi. Banyak warga menanyakan bunyi sirine dan langkah yang harus dilakukan.
“Warga komplek keluar rumah, tanya-tanya juga di grup WA. Ada info pintu air jebol.”
Christo yang mendengar bunyi sirine penanda ketinggian air naik, langsung ambil langkah cepat. Dia memindahkan mobil ke tempat yang lebih aman. “Kalau dibilang panik ya panik. Jadi terbayang kayak di medan perang kan suaranya,” ucapnya berseloroh.