Usai Trading Halt, Analis Lihat Peluang Kenaikan IHSG

Analis pasar modal Hendra Wardana menilai, IHSG masih berada dalam tekanan dan bergejolak setelah trading halt, tetapi masih ada peluang menguat.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 29 Januari 2026, 11:43 WIB
Analis pasar modal Hendra Wardana, menilai tekanan hebat yang melanda pasar saham Indonesia pada perdagangan 28 Januari 2026 justru mulai membuka ruang bagi potensi rebound besar.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Analis pasar modal Hendra Wardana, menilai tekanan hebat yang melanda pasar saham Indonesia pada perdagangan saham 28 Januari 2026 justru mulai membuka ruang bagi potensi rebound besar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat terjun hingga 7,35 persen dan memicu trading halt mencerminkan kondisi pasar yang sangat emosional, di mana kepanikan dan kebutuhan likuiditas mendominasi keputusan investor.

Hendra menjelaskan, ketika tekanan jual mencapai titik ekstrem, justru di situlah benih pemulihan mulai terbentuk. Seiring meredanya kepanikan, pasar memiliki kecenderungan untuk melakukan penyesuaian kembali harga saham menuju nilai intrinsiknya, membuka peluang terjadinya rebound yang cepat dan signifikan.

"Meskipun IHSG saat ini masih berada dalam tekanan dan bergerak volatil pasca trading halt, kondisi tersebut tidak menutup peluang terjadinya rebound besar dalam waktu relatif cepat ketika pasar sudah lebih tenang dan rasional," kata Hendra dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026).

Dia menilai, koreksi tajam yang terjadi lebih mencerminkan krisis sentimen dan tata kelola pasar, bukan pelemahan fundamental ekonomi.

Jika kejelasan arah perbaikan kebijakan mulai terlihat dan tekanan jual mereda, IHSG berpeluang kembali dinilai berdasarkan kekuatan fundamentalnya, membuka ruang pemulihan yang lebih terukur dan berkelanjutan.

Pemicu Trading Halt di Pasar Saham RI

Peristiwa trading halt yang terjadi pada 28 Januari 2026, mencerminkan tekanan jual ekstrem yang bersumber dari krisis kepercayaan pasar, bukan dari memburuknya fundamental ekonomi nasional.

"Trading halt menjadi penanda bahwa mekanisme pasar telah memasuki fase dislokasi, di mana emosi dan kebutuhan likuiditas mengalahkan pertimbangan rasional," ujarnya.

Pemicu utama gejolak ini adalah keputusan terbaru MSCI yang menahan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor, tidak menambah bobot saham Indonesia, serta meniadakan rebalancing Februari 2026.

Keputusan tersebut secara langsung mematahkan ekspektasi masuknya dana pasif global yang selama ini menopang saham-saham berkapitalisasi besar.

Trading halt pun kembali terjadi pada perdagangan Kamis, 29 Januari 2026. Hal ini setelah IHSG melemah 8%. Pada pukul 11.38 WIB, IHSG berusaha mengurangi koreksi. 

 

 

Peluang Rebound

Kinerja saham emiten bank jumbo seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kompak ambrol. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Hendra menjelaskan, dalam kondisi pasar yang sangat emosional, harga saham sering kali jatuh jauh di bawah nilai wajarnya. Ketika sentimen didominasi rasa takut, pasar cenderung mengabaikan fakta fondasi ekonomi Indonesia relatif solid, kinerja emiten secara agregat masih terjaga, serta harga komoditas utama seperti emas, tembaga, dan minyak berada di level tinggi.

"Rebound berpotensi terjadi ketika pelaku pasar mulai memisahkan dampak jangka pendek keputusan MSCI terhadap aliran dana pasif dengan risiko fundamental jangka menengah," ujarnya.

Menurut dia, keputusan MSCI memang berdampak pada persepsi dan arus dana, tetapi tidak serta-merta mengubah prospek bisnis emiten maupun daya tahan ekonomi nasional. Pada fase ini, investor institusi dan investor jangka panjang cenderung kembali masuk secara bertahap, memanfaatkan valuasi yang sudah terdiskon tajam akibat koreksi berlebihan.

 

Pembukaan IHSG pada 29 Januari 2026

Pekerja menunjuk layar sekuritas di Jakarta, Senin (1/8). Pada perdagangan preopening, IHSG bergerak menguat 64,216 poin (1,23%) ke 5.280,210. Sementara indeks LQ45 bergerak naik 16,105 poin (1,80%) ke908.947. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok pada perdagangan saham Kamis, (29/1/2026). IHSG hari ini kembali koreksi setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Selain itu, Goldman Sachs juga menurunkan peringkat Indonesia.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini dibuka anjlok 293 poin ke posisi 8.027,82. Pada pukul 09.07 WIB, IHSG turun 5,67% ke posisi 7.844.  IHSG turun 7,25% ke posisi 7.715 pada pukul 09.21 WIB. Indeks saham L45 turun 5,36% ke posisi 768,29. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.

Pada awal sesi perdagangan, IHSG berada di level tertinggi 8.049,09 dan level terendah 7.833,59. Sebanyak 591 saham melemah sehingga bebani IHSG. 57 saham menguat dan 42 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 414.353 kali dengan volume perdagangan saham 5,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 5,6 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.757.

Seluruh sektor saham kompak tertekan. Sektor saham infrastruktur merosot 7,92%, dan pimpin koreksi. Sektor saham energi melemah 7,4%, sektor saham basic terperosok 5,27%, sektor saham industri melemah 4,7%, sektor saham consumer nonsiklikal turun 5,17%.

Selanjutnya sektor saham siklikal terperosok 6,3%, sektor saham kesehatan melemah 3,98%, sektor saham keuangan terpangkas 4,28%, sektor saham properti susut 5,63%. Lalu sektor saham teknologi susut 4,74%, sektor saham infrastruktur melemah 8,2% dan sektor saham transportasi terperosok 4,06%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya