Liputan6.com, Jakarta - Bank investasi global Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia menyusul peringatan dari MSCI terkait risiko keterinvestasian (investability risk). Langkah ini diambil setelah MSCI menyoroti persoalan transparansi dan membuka kemungkinan penurunan status pasar Indonesia menjadi frontier market.
Dalam laporan terbarunya pada Kamis, dikutip dari The Business Times, Kamis (29/1/2026), Goldman Sachs menyebut potensi arus dana keluar dari pasar saham Indonesia bisa mencapai miliaran dolar AS. Peringatan MSCI tersebut juga berdampak langsung ke pasar, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok 7,4 persen pada perdagangan Rabu, setelah MSCI membekukan pembaruan data terhadap sekuritas Indonesia.
Advertisement
“Kami memperkirakan pasar akan tetap berada di bawah tekanan dan tidak melihat kondisi ini sebagai titik masuk investasi,” tulis para analis Goldman Sachs. Seiring dengan itu, Goldman menurunkan peringkat saham Indonesia dari sebelumnya market weight menjadi underweight.
Dalam catatan riset terpisah, para analis Goldman memperkirakan arus keluar dana pasif sekitar USD 2,2 miliar, seiring penyesuaian terhadap porsi saham yang beredar bebas (free float). Mereka menilai skenario tersebut masih tergolong relatif ringan.
Namun, risiko yang lebih besar tetap membayangi pasar keuangan Indonesia.
Skenario Ekstrem
Goldman Sachs menambahkan, dalam skenario ekstrem berupa penurunan penuh status Indonesia menjadi frontier market—meski dinilai kecil kemungkinannya—arus dana keluar bisa membengkak hingga USD 7,8 miliar.
Peringatan dari MSCI ini menjadi tantangan terbaru bagi perekonomian terbesar di Asia Tenggara, yang saat ini masih dibayangi arus keluar dana asing, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kekhawatiran investor terhadap pelebaran defisit fiskal dan independensi bank sentral.
Data yang dihimpun LSEG menunjukkan investor asing telah melepas saham Indonesia senilai Rp13,96 triliun atau setara S$1,05 miliar sepanjang 2025. Angka tersebut menjadi yang terburuk sejak 2020, dengan tren penjualan masih berlanjut hingga Januari.
Pemerintah Indonesia dijadwalkan menggelar rapat dalam waktu dekat untuk membahas persoalan MSCI tersebut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pertemuan akan segera dilakukan.
Sementara itu, Rahul Ghosh, spesialis portofolio di T. Rowe Price Singapura, menilai peringatan MSCI dapat berdampak luas. Menurutnya, langkah lanjutan apa pun berpotensi menekan perekonomian jika membuat penghimpunan modal menjadi lebih sulit atau lebih mahal akibat meningkatnya premi risiko.
IHSG Hari Ini 29 Januari 2026 Anjlok 7,25%, Tinggalkan 8.000
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok pada perdagangan saham Kamis, (29/1/2026). IHSG hari ini kembali koreksi setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Selain itu, Goldman Sachs juga menurunkan peringkat Indonesia.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini dibuka anjlok 293 poin ke posisi 8.027,82. Pada pukul 09.07 WIB, IHSG turun 5,67% ke posisi 7.844. IHSG turun 7,25% ke posisi 7.715 pada pukul 09.21 WIB. Indeks saham L45 turun 5,36% ke posisi 768,29. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.
Pada awal sesi perdagangan, IHSG berada di level tertinggi 8.049,09 dan level terendah 7.833,59. Sebanyak 591 saham melemah sehingga bebani IHSG. 57 saham menguat dan 42 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 414.353 kali dengan volume perdagangan saham 5,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 5,6 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.757.
Seluruh sektor saham kompak tertekan. Sektor saham infrastruktur merosot 7,92%, dan pimpin koreksi. Sektor saham energi melemah 7,4%, sektor saham basic terperosok 5,27%, sektor saham industri melemah 4,7%, sektor saham consumer nonsiklikal turun 5,17%.
Selanjutnya sektor saham siklikal terperosok 6,3%, sektor saham kesehatan melemah 3,98%, sektor saham keuangan terpangkas 4,28%, sektor saham properti susut 5,63%. Lalu sektor saham teknologi susut 4,74%, sektor saham infrastruktur melemah 8,2% dan sektor saham transportasi terperosok 4,06%.