Sekjen NATO: Eropa Tak Mampu Bertahan Tanpa AS

Untuk mencapai kemandirian pertahanan, Rutte memperingatkan bahwa biayanya akan sangat besar.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 29 Januari 2026, 09:51 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menggelar pertemuan di sela ajang World Economic Forum (WEF) pada Rabu (21/1/2026). (Dok. AP/Evan Vucci)

Liputan6.com, Brussels - Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menegaskan bahwa Eropa tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri tanpa dukungan militer Amerika Serikat (AS). Menurutnya, jika Eropa ingin benar-benar mandiri dalam pertahanan, negara-negara di benua itu harus mengeluarkan biaya pertahanan lebih dari dua kali lipat target pengeluaran militer saat ini.

"Jika ada yang berpikir di sini bahwa Uni Eropa atau Eropa secara keseluruhan bisa mempertahankan diri tanpa AS, teruslah bermimpi. Itu tidak mungkin,” kata Rutte kepada para anggota parlemen Uni Eropa di Brussels pada Senin (26/1/2026) seperti dikutip dari Associated Press.

Ia menambahkan bahwa Eropa dan AS saling membutuhkan.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di internal NATO, menyusul ancaman Presiden Donald Trump dalam beberapa pekan terakhir untuk mencaplok Greenland, wilayah semiotonom milik sekutu NATO, Denmark.

Trump juga sempat menyatakan rencana pemberlakuan tarif baru terhadap Denmark dan negara-negara Eropa lainnya terkait Greenland. Namun, ancaman tersebut kemudian dibatalkan setelah tercapai sebuah "kerangka kerja" kesepakatan terkait pulau yang kaya sumber daya mineral itu, dengan bantuan Rutte. Hingga kini, hanya sedikit rincian kesepakatan yang diungkap ke publik.

NATO, yang beranggotakan 32 negara, terikat oleh klausul pertahanan bersama yang tercantum dalam Pasal 5 Traktat Washington, dokumen pendirian aliansi tersebut. Pasal ini mewajibkan setiap negara anggota untuk membantu membela sekutu yang wilayahnya berada di bawah ancaman.

 

"Penjamin Utama Kebebasan"

Dalam KTT NATO yang digelar di Den Haag pada Juli lalu, negara-negara sekutu Eropa — kecuali Spanyol — bersama Kanada menyetujui tuntutan Trump agar mereka menginvestasikan persentase produk domestik bruto (PDB) yang sama dengan AS untuk pertahanan dalam jangka waktu satu dekade.

Mereka berkomitmen untuk mengalokasikan 3,5 persen dari PDB untuk pertahanan inti dan tambahan 1,5 persen untuk infrastruktur terkait keamanan. Dengan demikian, total pengeluaran pertahanan ditargetkan mencapai 5 persen dari PDB pada 2035.

Namun, Rutte menilai angka tersebut masih belum cukup jika Eropa benar-benar ingin berdiri sendiri.

"Jika Anda benar-benar ingin berjalan sendiri," ujar Rutte, "lupakan bahwa Anda bisa mencapainya dengan 5 persen. Angkanya akan menjadi 10 persen. Anda harus membangun kemampuan nuklir sendiri. Itu membutuhkan biaya miliaran dan miliaran euro."

Prancis selama ini memimpin dorongan agar Eropa memiliki kemandirian dalam bidang pertahanan. Dukungan terhadap gagasan ini meningkat sejak pemerintahan Trump tahun lalu memperingatkan bahwa prioritas keamanan AS berada di tempat lain dan bahwa negara-negara Eropa harus mampu melindungi diri mereka sendiri.

"Tanpa AS," kata Rutte kepada para anggota parlemen, "Eropa akan kehilangan penjamin utama kebebasan kita, yaitu payung nuklir AS. Jadi, semoga beruntung."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya