Wall Street Beragam Setelah The Fed Tahan Suku Bunga

Indeks S&P 500 sempat menyentuh posisi 7.000 di wall street. Namun, akhirnya indeks S&P 500 melemah tipis setelah the Fed tahan suku bunga.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 29 Januari 2026, 07:14 WIB
Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi setelah the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS mempertahankan suku bunga.(AP Photo/Seth Wenig)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi setelah the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS mempertahankan suku bunga. Indeks S&P 500 sempat mencapai level penting pada Rabu, 28 Januari 2026, mencapai 7.000 untuk pertama kali.

Mengutip CNBC, Kamis (29/1/2026), indeks S&P 500 turun 0,01% menjadi 6.978,03. Indeks S&P 500 sebelumnya menguat 0,3% dan mencapai rekor tertinggi intraday sepanjang masa di 7.002,28.

Indeks Dow Jones melesat 12,19 poin atau 0,02% menjadi 49.015,60. Indeks Nasdaq menguat 0,17% menjadi 23.857,45.

Fed mempertahankan suku bunga acuannya tetap pada kisaran target 3,5% hingga 3,75%. Imbal hasil obligasi pemerintah naik setelah keputusan tersebut, karena pernyataan bank sentral mengungkapkan aktivitas ekonomi telah "berkembang dengan kecepatan yang solid" dan tingkat pengangguran telah "menunjukkan beberapa tanda stabilisasi."

"Saya pikir, dan banyak kolega saya berpikir, sulit untuk melihat data yang masuk dan mengatakan kebijakan tersebut sangat ketat saat ini," ujar Ketua Fed Jerome Powell selama konferensi persnya.

Berdasarkan interpretasi tersebut, Jed Ellerbroek dari Argent Capital Management memperkirakan bank sentral tetap mempertahankan suku bunga tetap hingga akhir masa jabatan Powell pada Mei.

"Ada sedikit ketegangan antara inflasi yang sedikit lebih tinggi dari yang mereka inginkan dan pengangguran yang meningkat, sehingga mereka berada dalam posisi yang kurang lebih netral, dan mereka nyaman berada di sana sampai data berubah dan memaksa mereka untuk memilih salah satu pihak," kata manajer portofolio tersebut.

"Bola sekarang berada di tangan Presiden Trump, karena dia akan menominasikan ketua Fed yang baru."

Kenaikan pasar secara keseluruhan sebelumnya didukung oleh kenaikan saham chip setelah hasil pendapatan yang menggembirakan. Saham Seagate Technology melonjak 19% setelah laba dan pendapatan kuartal kedua perusahaan infrastruktur penyimpanan tersebut melampaui ekspektasi analis, dengan CEO Dave Mosley menyebutkan permintaan yang kuat untuk penyimpanan data kecerdasan buatan.

 

Rilis Laporan Keuangan

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Selain itu, raksasa peralatan semikonduktor ASML melaporkan pesanan rekor dan mengeluarkan panduan optimistis untuk 2026 karena booming AI. Namun, saham tersebut membalikkan kenaikannya dari Rabu sebelumnya dan mencatat penurunan 2%.

“Kisah untuk tahun 2023, 2024, sebagian besar tahun 2025 adalah semikonduktor terkait AI, luar biasa, permintaan besar. Semua sumber permintaan semikonduktor lainnya, baik itu otomotif, industri, telekomunikasi, dan lainnya, lemah. Itu telah bergeser sekarang,” kata Ellerbroek kepada CNBC.

 “Permintaan jauh melebihi pasokan di mana-mana saat ini di sektor semikonduktor.”

Namun, reli tersebut gagal meluas melewati saham chip, karena S&P 500 akhirnya terseret lebih rendah menjelang penutupan.

Sementara itu, laporan keuangan dari sejumlah perusahaan teknologi besar akan segera dirilis. Microsoft, Meta Platforms dan Tesla dijadwalkan untuk mengumumkan hasil keuangan triwulanan mereka pada Rabu setelah penutupan pasar. Apple akan mengumumkan hasilnya pada Kamis.

Di luar sektor teknologi, saham Starbucks mengakhiri sesi perdagangan dengan penurunan 0,6%. Jaringan kedai kopi tersebut melaporkan laba bersih yang disesuaikan pada kuartal pertama yang meleset dari target, tetapi membukukan pendapatan yang melampaui ekspektasi.

Bank Sentral AS Tahan Suku Bunga

Suasana di wall street saat konferensi pers the Fed soal suku bunga pada Desember 2025. (Foto:AP/Seth Wenig)

Sebelumnya, bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga pada Rabu, 28 Januari 2026 waktu setempat. Langkah bank sentral AS atau the Fed itu mempertimbangkan pertanyaan mengenai independensi dan menanti pemimpin baru the Fed.

Mengutip CNBC, Kamis (29/1/2026), sesuai harapan pasar Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran 3,5%-3,75%. Keputusan ini menghentikan tiga penurunan suku bunga 0,25% yang disebut sebagai langkah mencegah potensi penurunan di pasar tenaga kerja.

Dengan memutuskan untuk mempertahankan suku bunga saat ini, komite meningkatkan penilaiannya terhadap pertumbuhan ekonomi. Komite juga mengurangi kekhawatirannya tentang pasar tenaga kerja dibandingkan dengan inflasi.

"Indikator yang tersedia menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi telah berkembang dengan kecepatan yang solid. Penambahan lapangan kerja tetap rendah, dan tingkat pengangguran menunjukkan beberapa tanda stabilisasi,” kata pernyataan pasca-pertemuan tersebut. “Inflasi tetap agak tinggi.”

Selain itu, pernyataan tersebut juga menghapus klausul yang meninjukkan komite melihat risiko yang lebih tinggi dari ancaman melemahnya pasar tenaga kerja ketimbang inflasi yang meningkat.

Hal itu akan mendukung penangguhan pemangkasan suku bunga dalam jangka pendek karena pejabat melihat tujuan ganda the Fed yakni inflasi rendah dan lapangan kerja penuh, lebih seimbang.

Hampir tidak ada petunjuk tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, dengan pasar memperkirakan Fed menunggu setidaknya hingga Juni sebelum menyesuaikan suku bunga acuannya lagi.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya