Dibuka Menguat, Intip Prediksi Rupiah Sepanjang Hari Ini 28 Januari 2026

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari ini Rabu 28 Januari 2026 bergerak menguat 36 poin atau 0,21 persen.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 28 Januari 2026, 10:45 WIB
Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari ini Rabu 28 Januari 2026 bergerak menguat 36 poin atau 0,21 persen menjadi 16.732 per dolar AS dari sebelumnya 16.768 per dolar AS

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan mata uang rupiah akan kembali melemah direntang  Rp 16.760- Rp 16.790 pada penutupan perdagangan hari ini.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp 16.760 - Rp 16.790," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (28/1/2026).

Adapun pada perdagangan sore kemarin Selasa 27 Januari 2026, mata uang rupiah ditutup menguat 14 point sebelumnya sempat melemah 20 point dilevel Rp 16.768 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.782.

Ibrahim mengungkapkan sejumlah faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah yakni, pasar berfokus terhadap pertemuan kebijakan dua hari Federal Reserve, yang dijadwalkan berakhir pada hari Rabu, dengan pasar secara luas memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tetap stabil setelah tiga kali pemotongan berturut-turut dalam pertemuan sebelumnya. 

"Perselisihan Presiden AS Donald Trump dengan Ketua Fed Jerome Powell, yang telah menimbulkan kekhawatiran tentang independensi Fed dari campur tangan politik, juga akan menjadi sorotan," ujarnya.

Sebelumnya, kekhawatiran akan penutupan pemerintahan AS kembali muncul setelah anggota Senat dari partai Demokrat  berjanji untuk memblokir RUU pendanaan besar menyusul penembakan yang terjadi di Minneapolis baru-baru ini. 

Para anggota parlemen AS menghadapi tenggat waktu pada 30 Januari untuk menghindari Shutdown. Pasar prediksi Polymarket menunjukkan peluang penutupan melonjak tajam dari sekitar 8% pada hari Jumat menjadi hampir 78% pada hari Senin.

 

 

Ancaman Tarif

Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Selain itu, penarikan kembali ancaman tarif perdagangan terhadap banyak negara di Eropa oleh presiden AS pekan lalu setelah AS menguasai Greenland, dan dengan demikian memperoleh pengaruh strategis di Arktik. 

Kemudian, Trump mengancam akan memberlakukan tarif perdagangan terhadap beberapa sekutu AS, terutama embargo perdagangan efektif terhadap Kanada. Presiden menolak potensi perdagangan antara Kanada dan Tiongkok, dan mengancam akan memberlakukan tarif 100% terhadap Ottawa.

Pada Senin malam, Trump juga mengatakan akan menaikkan tarif perdagangan terhadap barang-barang Korea Selatan menjadi 25%, dengan alasan Seoul menunda pemberlakuan kesepakatan perdagangan baru-baru ini. 

"Pasar tetap waspada terhadap langkah-langkah lebih lanjut dari Trump. Ketegangan geopolitik yang meningkat di Iran dan Timur Tengah, seiring kedatangan kapal-kapal AS di wilayah tersebut, juga membuat pasar tetap waspada," ujarnya.

 

  Faktor Internal

Bank Indonesia (BI) menegaskan akan memastikan keseimbangan supply dan demand di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ibrahim memprediksi Pemerintah akan menghadapi tantangan berat dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan utang pada 2026. Meski target pembiayaan utang netto dalam RAPBN 2026 tercatat sebesar Rp 832,21 triliun, kebutuhan untuk menarik utang baru secara bruto jauh lebih besar, yakni mencapai Rp1.650 triliun. 

Angka tersebut meliputi kebutuhan untuk menutup defisit anggaran dan, yang lebih signifikan, untuk melunasi pokok utang lama yang jatuh tempo pada tahun berjalan.

Risiko utama yang mengemuka adalah risiko pembiayaan kembali (refinancing risk). Risiko ini menguat seiring dengan memendeknya tren rata-rata jatuh tempo utang (Average Time to Maturity/ATM), dari 9,73 tahun pada 2014 menjadi prakiraan 7,7 tahun pada 2026. 

"Artinya, risiko tidak dapat melakukan pembiayaan kembali atas utang yang jatuh tempo atau adanya potensi biaya utang yang tinggi pada saat refinancing," ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi risiko kekurangan (shortage risk) akibat ketidakpastian kondisi ekonomi makro dan pasar keuangan global yang membuat investor, khususnya asing, bersikap sangat hati-hati. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya