Liputan6.com, Beijing - Pemerintah Tiongkok secara resmi telah menahan dan menyelidiki dua pemimpin militer paling senior Zhang Youxia dan Liu Zhenli, langkah yang mencerminkan gejolak politik dan upaya konsolidasi kekuasaan di pucuk tentara negara itu.
Berita ini mengejutkan banyak pihak karena kedua perwira tersebut selama ini dianggap sebagai tokoh sentral dalam struktur komando militer Tiongkok dan sekutu kuat Presiden Xi Jinping dalam beberapa dekade terakhir.
Advertisement
Zhang Youxia, yang menjabat sebagai Wakil Ketua pertama Komisi Militer Pusat (CMC) dan merupakan salah satu anggota Politbiro Partai Komunis Tiongkok (PKT), kini secara resmi menjadi subjek penyelidikan karena dituduh melakukan “pelanggaran disiplin dan hukum yang serius”, istilah dalam bahasa resmi Tiongkok yang biasanya merujuk pada tuduhan korupsi atau pelanggaran partai.
Tuduhan sejenis juga dilayangkan kepada Liu Zhenli, Kepala Staf Departemen Staf Gabungan CMC yang bertanggung jawab atas perencanaan dan kesiapan operasi militer, dikutip dari laman foreignpolicy.com, Selasa (27/1/2026).
Pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Tiongkok menyatakan bahwa keputusan penyelidikan ini diambil setelah deliberasi oleh Komite Sentral PKT, badan tertinggi partai di luar Komite Tetap Politbiro.
Meski begitu, otoritas belum merinci secara jelas bukti yang mendukung tuduhan tersebut, dan media negara cenderung menggunakan ungkapan umum seperti “pelanggaran disiplin dan hukum” tanpa spesifikasi lebih jauh.
Namun, konteks politik di balik langkah ini terlihat lebih luas dan kompleks daripada sekadar kasus korupsi biasa. Redaksi harian militer PLA Daily menuduh Zhang dan Liu telah “secara serius meremehkan dan merusak sistem tanggung jawab tertinggi yang ada di tangan ketua CMC”, sebuah frasa yang secara politis bermuatan keras dan mengisyaratkan tuduhan merongrong otoritas Presiden Xi.
Tanggapan Analis
Para analis menilai penggunaan bahasa semacam itu jarang terjadi bahkan dalam kasus-kasus militer sebelumnya, menunjukkan adanya keretakan dalam hubungan antara pimpinan militer dan kepemimpinan partai.
Langkah ini merupakan bagian dari kampanye anti-korupsi yang lebih luas di bawah pemerintahan Xi sejak 2012, yang telah menghantam berbagai sektor, termasuk angkatan bersenjata. Sejak awal kampanye tersebut, lebih dari ratusan ribu pejabat, termasuk sejumlah perwira tinggi, telah dibidik. Pengusutan terhadap dua jenderal ini digolongkan sebagai salah satu upaya paling signifikan dan sensitif dalam sejarah militer Tiongkok modern, bahkan dibandingkan reformasi masa lalu seperti pada era Mao Zedong.
Selain itu, laporan dari sumber internasional menyebut dugaan yang lebih serius seperti tuduhan bahwa Zhang diduga membocorkan informasi terkait program senjata nuklir Tiongkok kepada Amerika Serikat dan menerima suap untuk memfasilitasi promosi perwira tertentu, meskipun tuduhan ini belum dikonfirmasi oleh pihak berwenang Tiongkok.
Tuduhan semacam itu, jika benar, akan menempatkan kasus ini pada skala yang jauh lebih besar daripada sekadar pelanggaran disiplin internal.
Reaksi eksternal atas penahanan dua jenderal ini cukup signifikan. Taiwan, yang terus memantau dinamika militer Tiongkok, menyatakan keprihatinannya terhadap perubahan tidak biasa di puncak militer Beijing, namun menegaskan bahwa ancaman dari Tiongkok tetap tinggi dan mereka tidak akan mengurangi kesiapan pertahanan.
Kontrol Xi Jinping
Penyelidikan terhadap Zhang dan Liu terjadi di tengah upaya Xi untuk memperkuat kontrol partai atas militer menjelang kongres partai besar berikutnya, dan analis politik mengatakan bahwa ini menunjukkan betapa pentingnya loyalitas absolut dalam struktur kekuasaan PKT.
Meski penjelasan resmi berfokus pada istilah teknis soal pelanggaran disiplin, banyak pengamat internasional memandang langkah ini sebagai bagian dari konsolidasi kekuasaan Xi dan sinyal tegas terhadap jajaran militer bahwa otoritas politik partai tidak dapat ditantang.
Dampak jangka panjang dari penyelidikan ini masih belum jelas, tetapi langkah tersebut telah mengguncang institusi militer yang sangat rapuh terhadap dinamika internal dan eksternal.
Analisis sementara menunjukkan bahwa penghapusan figur selevel Zhang dan Liu bisa berdampak pada moral dan stabilitas pimpinan di dalam Angkatan Bersenjata Tiongkok, terutama pada saat negara itu sedang meningkatkan modernisasi militernya dan menghadapi ketegangan regional yang terus meningkat.