Desain Fesyen Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan, Transformasi Ekonomi Kreatif Nasional

Penerapan konsep desain pakaian berkelanjutan dan penggunaan material ramah lingkungan menjadi kunci strategis untuk membangun masa depan industri fesyen.

oleh Ahmad KhuzaifiDiterbitkan 01 Februari 2026, 16:45 WIB
Model memperagakan busana saat peragaan busana bertajuk Diversity of Indonesia di Denpasar, Bali, Minggu (25/1/2026). Peragaan busana tersebut menampilkan berbagai ekspresi budaya Nusantara dalam kreasi karya busana dengan desain yang kreatif dan inovatif. (Dok. Antara)

Liputan6.com, Jakarta - Pakaian dalam fesyen adalah benda yang paling dekat dengan tubuh manusia, namun sering kali dan jarang dipikirkan dengan secara mendalam.

Baju tersebut digunakan setiap hari, menyertai aktivitas sosial, pekerjaan, dan juga peristiwa penting dalam kehidupan, tapi tetap diperlakukan sebagai sesuatu yang mudah diganti dan dilupakan.

Dibalik kebiasaan berpakaian tersebut, tersimpan persoalan yang lebih besar tentang bagaimana kita memakai desain, nilai guna, dan juga keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks ekonomi kreatif Indonesia, fesyen menepati posisi strategis. Sektor tersebut tidak hanya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, tetapi juga menjadi medium ekspresi budaya dan identitas bangsa.

Namun, tantangan yang terjadi di industri fresyen, bukan hanya semata-mata soal daya saing global atau inovasi visual. tetapi bagaimana desain busana dapat berkontribusi secara berkelanjutan bagi masyarakat dan masa depan ekonomi kreatif nasional.

Keberlanjutan dalam desain busana sering kali diartikan secara sempit bagaimana persoalan bahan atau teknologi produksi, secara lain keberlanjutan juga sangat ditentukan bagaimana sebuah pakaian dirancang untuk digunakan, dirawat, dan juga dipertahankan untuk jangka panjang.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep slow fashion, yang menekankan perubahan relasi antara manusia dan pakaian. Berdasarkan Kate Flatcher (2010), menjelaskan bahwa fesyen berkelanjutan menuntut pergeseran cara pandang diri konsumsi cepat menuju hubungan yang lebih sadar, personal, dan juga bertanggung jawab terhadap pakaian yang dikenakan. Dilansir dari Antara, Selasa 27 Januari 2026.

Pakaian tidak lagi dilihat sebagai produk sesaat, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang memiliki nilai guna dan juga makna berkelanjutan. Indonesia, sesungguhnya memiliki landasan budaya yang kuat untuk mengembangkan pendekatan tersebut.

Dalam tradisi busana Nusantara, pakaian batik tidak dirancang untuk penggunaan singkat. Kain batik, tenun, dan songket dibuat dengan ketelitian yang sangat tinggi, digunakan berkali-kali, dan juga sering kali diwariskan lintas generasi.

Hanya saja, dinamika industri fesyen modern membawa tantangan tersendiri, arus tren global yang bergerak cepat mendorong perubahan selera dan kebiasaan berpakaian, dan pakaian semakin diposisikan sebagai penanda gaya sesaat, bukan hanya benda yang dirancang untuk bertahan.

Transformasi Ekonomi Fesyen dari Produksi Massal Menuju Nilai Tambah dan Keadilan Sosial

Pada tahun 2001, Vielga Wennida lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Beberapa tahun kemudian, pada 2015, Vielga mengikuti program kursus singkat di jurusan Desain Mode di Esmod Institute. Vielga Wennida adalah seorang desainer fashion sekaligus direktur kreatif untuk mereknya sendiri, serta anggota Indonesia Fashion Chamber. [Adrian Putra/Fimela]

Peran desainer kini melampaui sekadar penciptaan estetika visual karena mereka dituntut merancang busana yang mampu bertahan melintasi waktu dan beragam konteks kehidupan. 

Mengacu pada perspektif Chapman (2005), ikatan emosional antara pengguna dan produk yang terbangun melalui kenyamanan, fungsionalitas, serta narasi budaya menjadi kunci utama dalam memperpanjang usia pakai busana. Dikutip dari Antara.

Paradigma ini menuntut pergeseran fundamental dalam model ekonomi fesyen nasional yang bergerak dari ketergantungan pada produksi massal dengan siklus tren cepat menuju ekonomi berbasis nilai tambah.

Pendekatan slow fashion seperti sistem made to order tidak hanya membuka peluang pendapatan baru bagi UMKM lewat layanan purna jual, tetapi juga mereduksi eksploitasi sumber daya alam. 

Transformasi ini membawa dampak sosial yang signifikan bagi jutaan tenaga kerja karena sistem produksi yang tidak dikejar tenggat waktu memungkinkan terciptanya ekosistem kerja yang lebih manusiawi, melestarikan keterampilan lokal, serta memastikan nilai ekonomi terdistribusi adil ke seluruh rantai produksi dan bukan hanya terkonsentrasi pada pemilik merek semata.

Urgensi Literasi Konsumen dan Dukungan Kebijakan Negara dalam Membangun Sinergi Ekosistem

Syal yang terbuat dari kulit kayu sedang melewati proses penjemuran di Bali (dok. Instagram @cintabumiartisans / https://www.instagram.com/p/COfP7aIAaYc/?utm_medium=copy_link / Dinda Rizky)

Keberlanjutan fesyen merupakan respon mendesak terhadap persoalan struktural lingkungan khususnya lonjakan limbah tekstil akibat dominasi fast fashion global dan minimnya infrastruktur daur ulang. 

Dalam situasi ini memperpanjang masa pakai busana menjadi solusi paling realistis untuk menunda limbah dan menghemat energi. Namun strategi ini mustahil berhasil tanpa perubahan perilaku konsumen melalui peningkatan literasi agar masyarakat mampu menghargai kualitas ketimbang tren sesaat. 

Di sinilah peran pendidikan desain dan dukungan negara menjadi hal yang penting, di mana pemerintah wajib hadir melalui insentif kebijakan, riset material, dan penguatan inkubator bisnis agar fesyen berkelanjutan tidak sekadar menjadi praktik eksklusif. 

Meski dihadapkan pada tantangan daya beli dan budaya konsumtif, Indonesia memiliki peluang strategis untuk memimpin pasar global dengan memadukan kearifan lokal dan desain adaptif karena masa depan ekonomi kreatif nasional bergantung pada kemampuan menjadikan kualitas dan nilai budaya sebagai fondasi industri yang berdaulat dan tangguh.

Infografis desainer Indonesia di pentas fesyen dunia (Liputan6.com/Trie Yasni))

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya