Soroti Banjir Jakarta, Anggota DPRD Syafi Djohan Singgung Drainase dan Daerah Resapan

Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Syafi Djohan, menyoroti persoalan banjir yang melanda berbagai lokasi di wilayah ibu kota. Menurut dia, masalah itu bisa terjadi lantaran sistem drainase yang belum optimal dan berkurangnya daerah resapan air atau catchment area.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 27 Januari 2026, 10:33 WIB
Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Syafi Djohan, menyoroti persoalan banjir yang melanda berbagai lokasi di wilayah ibu kota. Menurut dia, masalah itu bisa terjadi lantaran sistem drainase yang belum optimal dan berkurangnya daerah resapan air atau catchment area. (Foto: Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Syafi Djohan, menyoroti persoalan banjir yang melanda berbagai lokasi di wilayah ibu kota. Menurut dia, masalah itu bisa terjadi lantaran sistem drainase yang belum optimal dan berkurangnya daerah resapan air atau catchment area.

"Dua faktor ini adalah biang keladi munculnya genangan genangan air baru, meskipun upaya pengurangan genangan lama di beberapa wilayah telah berhasil dilakukan," kata Syafi seperti dikutip dari siaran pers, Selasa (27/1/2026).

Karenanya, Syafi menitikberatkan perlunya sistem drainase yang lebih baik untuk penanggulangannya. Dia mengakui bahwa Operasi Modifikasi Cuaca dan rekayasa teknis lainnya turut berpengaruh dalam mengurangi durasi genangan di beberapa wilayah.

Hanya saja, permasalahannya tetap ada pada drainase. "Muncul genangan di area yang sebelumnya tak terdampak, bahkan di wilayah tinggi seperti Jakarta Barat. Tapi itu ada genangan pada tahun ini. Berarti perlu adanya upaya lainya lagi yang bisa diperbaiki bersama," kata Syafi.

 

Dorongan Evaluasi Drainase dan Solusi Jangka Menengah

Petugas Bina Marga memerlebar saluran air di Jalan TB Simatupang di kawasan Cilandak, Jakarta, Kamis (22/10/2020). Hal tersebut dilakukan guna memaksimalkan fungsi sistem drainase agar tidak terjadi genangan air saat menghadapi musim hujan. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Syafi pun meminta Pemprov Jakarta untuk segera melakukan perluasan sistem drainase juga area resapan. Hal itu dirasa sangat mendesak dan sudah saatnya semua pihak berkotribusi bersama menciptakan lingkungan yang bersih.

"Dampak besar dari air daerah atas yang volumenya terus membesar terjadi karena wilayah resapan air yang sangat minim (catchment area), menyebabkan air langsung mengalir deras ke dataran rendah dan membebani saluran-saluran yang sudah tersumbat sedimentasi. Dari wilayah atas itu kan air larian jumlahnya semakin besar, yang mengkanal di sungai-sungai itu sudah terlalu membludak,” terang Syafi.

Sebagai solusi jangka menengah, Syafi mendorong realisasi pembangunan sejumlah Setu di titik-titik strategis. Dia berharap, hal itu dapat berfungsi ganda, sebagai penampung air larian sekaligus menjebak sedimentasi (lumpur). 

 

Perlu Pelebaran Drainase

Pekerja saat membuat lubang untuk sumur rasapan di Jalan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (15/10/2021). Pemda DKI Jakarta menargetkan pembuatan 22.292 titik sumur resapan atau drainase vertikal sebelum memasuki puncak musim penghujan pada awal Januari. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Solusi lainnya, lanjut Syafi, adalah memperbaiki dan melebarkan saluran drainase, mengingat banyak saluran yang sudah overload, penuh sedimen, atau rusak.

“Saya mendorong agar dibangun beberapa titik setu untuk menangkap air larian beserta sedimentasinya, beserta lumpur yang dibawa. Karena catchment-nya kan sudah tidak ada ya. Jadi, pemprov mesti membangun beberapa titik setu di wilayah-wilayah yang sudah dikaji secara teknis,” dia menandasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya