Liputan6.com, Jakarta - PT Sinar Mas Asuransi Syariah resmi beroperasi sebagai perusahaan asuransi syariah mandiri setelah memperoleh izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Peresmian perusahaan hasil spin off ini menandai langkah strategis Sinar Mas Group dalam memperkuat kontribusi di industri asuransi syariah nasional.
Direktur Utama PT Sinar Mas Asuransi Syariah, Daniel Armagatlie, mengatakan bahwa izin usaha telah diterbitkan OJK pada 23 Desember 2025, sementara peresmian operasional dilakukan pada 29 Januari 2026. Menurutnya, jeda waktu tersebut merupakan bagian dari ketentuan transisi yang diberikan regulator.
Advertisement
“Sebetulnya izin usaha sudah keluar di akhir Desember. OJK memberikan waktu maksimal tiga bulan untuk mulai beroperasi, sehingga kami tidak bisa berlama-lama dan harus langsung merealisasikan operasional perusahaan,” ujar Daniel (26/01/26)
Daniel menjelaskan, spin off unit usaha syariah merupakan amanah Undang-Undang Penguatan dan Pengembangan Sektor Keuangan (P2SK) serta POJK Nomor 11 Tahun 2023. Sinar Mas Asuransi Syariah memilih untuk memulai lebih awal agar proses perizinan dan transisi tidak menumpuk menjelang tenggat waktu akhir pada 31 Desember 2026.
“Saat ini ada sekitar delapan perusahaan asuransi yang akan melakukan spin off. Kami memilih start lebih awal supaya tidak berebut perizinan di 2026. Proses pengurusan izin sendiri sudah kami mulai sejak Maret 2025,” jelasnya.
Dalam proses perizinan, tantangan utama terletak pada pengaturan kerja sama sharing service dengan perusahaan induk. OJK, kata Daniel, meminta kejelasan secara detail terkait ruang lingkup, tugas, dan tanggung jawab masing-masing pihak agar sejalan dengan visi dan misi perusahaan jangka pendek, menengah, dan panjang.
Meski demikian, Daniel menegaskan bahwa secara bisnis Sinar Mas Asuransi Syariah telah berjalan sejak 2004 sebagai unit usaha syariah. Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, transformasi menjadi perusahaan mandiri dinilai tidak mengubah model bisnis secara fundamental.
“Ini hanya transformasi legal. Kami ibaratkan seperti pernikahan, setelah menikah tentu harus mandiri dan tidak terus tinggal di rumah orang tua,” ujarnya.
Fokus Tahun Pertama
Untuk satu tahun pertama, Sinar Mas Asuransi Syariah akan memprioritaskan penyelesaian proses spin off, termasuk pengalihan portofolio dari unit usaha syariah ke perusahaan baru. Proses tersebut diperkirakan berlangsung selama tiga hingga enam bulan ke depan dan dilakukan secara paralel dengan operasional bisnis baru.
“Untuk polis baru, semuanya sudah langsung atas nama PT Sinar Mas Asuransi Syariah. Sementara portofolio lama masih menunggu persetujuan OJK untuk pengalihan penuh,” kata Daniel.
Ia menambahkan, sesuai ketentuan regulator, seluruh aset, liabilitas, dana tabarru’, hingga kewajiban lainnya harus dipindahkan sepenuhnya ke perusahaan baru tanpa menyisakan sedikit pun di perusahaan induk.
Selain itu, Sinar Mas Asuransi Syariah juga membuka peluang menerima pengalihan portofolio dari unit usaha syariah lain yang memutuskan untuk menutup operasionalnya. Hingga kini, perusahaan telah menerima pengalihan dari lima unit usaha asuransi.
“Dengan status full pledge, kami menjadi salah satu dari enam perusahaan asuransi syariah penuh di Indonesia. Ini membuka peluang pertumbuhan ke depan,” ujarnya.
Prospek Industri dan Kesiapan Modal
Daniel optimis terhadap prospek industri asuransi syariah di Indonesia, meski mengakui tantangan masih cukup besar. Ia menilai seleksi alam akan terjadi pada 2026 dan 2028, seiring peningkatan persyaratan permodalan dari Rp100 miliar menjadi Rp500 miliar.
“Untuk target permodalan 2026 dan 2028, kami tidak ada masalah. Equity kami sudah di atas ketentuan. Tantangan justru ada pada pemain lain yang belum siap,” jelasnya.
Produk Unggulan dan Digitalisasi
Dari sisi sumber daya manusia, Sinar Mas Asuransi Syariah masih memanfaatkan sharing service dengan induk, terutama untuk level operasional. Namun, untuk posisi manajerial ke atas, diwajibkan berasal dari SDM yang memiliki kompetensi syariah.
Saat ini, perusahaan memiliki empat cabang syariah penuh dan menargetkan penguatan di sekitar 25 cabang potensial dalam satu hingga tiga tahun ke depan, terutama di wilayah dengan pasar syariah yang kuat.
Dari sisi produk, Sinar Mas Asuransi Syariah mengandalkan lini properti dan kendaraan bermotor yang didukung sektor perbankan dan multifinance. Selain itu, perusahaan meluncurkan produk baru CIMA Super Cover, produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi.
Perusahaan juga mengembangkan produk khusus syariah seperti asuransi pembiayaan sukuk, emas, serta perlindungan untuk haji dan umrah guna memperkuat posisi produk di pasar.
Dalam mendukung efisiensi operasional, Sinar Mas Asuransi Syariah mengembangkan sistem digital berbasis AI untuk proses penilaian risiko, klaim, hingga rekrutmen SDM. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kecepatan layanan sekaligus mitigasi risiko kecurangan dan serangan siber.
Dengan dukungan sistem dan pengalaman perusahaan induk, manajemen optimis Sinar Mas Asuransi Syariah mampu tumbuh berkelanjutan dan berkontribusi positif bagi industri asuransi syariah nasional.