Anggota DPR Dorong Penguatan Mitigasi Bencana Banjir di Tanah Air: Keselamatan Warga Jadi Prioritas

Azis menegaskan penanganan darurat, penguatan mitigasi risiko, hingga pemulihan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh demi melindungi keselamatan warga.

oleh Tim NewsDiterbitkan 25 Januari 2026, 20:31 WIB
Pengendara terjebak banjir yang menggenangi jalan Bayangkara Pusdiklat, Kota Tangerang Selatan, Banten, Selasa (2/11/2021). Ada potensi hujan lebat dengan intensitas lebih dari 50 milimeter (mm) per hari. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi VIII DPR, Muhamad Abdul Azis Sefudin, mengingatkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah bergerak cepat dan terkoordinasi dalam menangani bencana banjir yang kembali melanda di beberapa titik wilayah tanah air.

Ia mendorong adanya penguatan mitigasi risiko, hingga pemulihan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh demi melindungi keselamatan warga.

“Penanganan darurat harus cepat, mitigasi harus diperkuat, dan recovery pascabencana tidak boleh diabaikan. Keselamatan warga adalah prioritas utama,” kata Azis dalam keterangan yang diterima, Minggu (25/1/2026).

Anggota DPR RI Dapil Kabupaten Cianjur–Kota Bogor ini menilai banjir yang terjadi berulang dan telah menelan korban jiwa menunjukkan perlunya langkah konkret dan kehadiran negara sejak fase pencegahan, bukan hanya saat bencana terjadi.

“Kalau banjir sudah berulang dan menimbulkan korban, artinya ada yang harus dibenahi dari hulu ke hilir. Negara tidak boleh datang terlambat,” ujarnya.

Politisi PDI Perjuangan tersebut juga mendorong pemerintah mengoptimalkan instrumen kebencanaan, mulai dari sistem peringatan dini, pemetaan wilayah rawan, hingga edukasi risiko kepada masyarakat, mengingat banjir di Jabodetabek merupakan persoalan lintas wilayah.

“Banjir di Jabodetabek ini saling terhubung. Karena itu penanganannya tidak bisa parsial, harus terintegrasi dan lintas daerah,” tegas Azis.

 

Langkah Antisipatif

Selain penanganan darurat, Azis meminta pemerintah mempertimbangkan langkah antisipatif seperti rekayasa cuaca sebagai bagian dari strategi mitigasi, terutama saat curah hujan ekstrem terus meningkat.

“Rekayasa cuaca bisa menjadi opsi mitigasi dalam kondisi tertentu, tentu dengan perhitungan yang matang dan koordinasi yang kuat antara pusat dan daerah,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, banjir yang menerjang Jakarta beberapa kali sejak awal tahun 2026 menelan empat korban jiwa. Tiga korban meninggal dunia akibat tersetrum listrik di rumahnya yang terendam banjir di Cilincing, Jakarta Utara, sementara satu korban lainnya meninggal dunia saat terjebak kemacetan akibat banjir di kawasan Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Infografis Banjir Jabodetabek. (Liputan6.com/Abdillah)

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya