Penyebab Kebakaran Mobil Listrik Tak Melulu dari Baterai

Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) menyebut sejumlah insiden kebakaran mobil listrik justru dipicu faktor eksternal, seperti instalasi kelistrikan dan wall charger non-sertifikasi.

oleh Azkal Azkia NurrohmatDiterbitkan 25 Januari 2026, 08:07 WIB
Ketua Umum KOLEKSI Arwani Hidayat ungkap penyebab kebakaran mobil listrik hingga ekosistem SPKLU di Indonesia (Lipuran6/Azkal Azkia)

Liputan6.com, Jakarta - Isu kebakaran mobil listrik masih kerap memunculkan kekhawatiran di masyarakat, terutama di tengah tren adopsi kendaraan listrik yang terus meningkat di Indonesia.

Berbagai insiden yang terjadi sering kali langsung dikaitkan dengan baterai, meski penyebab pastinya belum tentu berasal dari komponen tersebut.

Menanggapi hal itu, Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) menegaskan tidak semua insiden kebakaran kendaraan listrik disebabkan oleh baterai.

Pasalnya, berdasarkan pengamatan di sejumlah kejadian, sumber kebakaran justru dipicu oleh faktor eksternal.

Ketua Umum KOLEKSI, Arwani Hidayat, mengungkapkan mayoritas produsen baterai mobil listrik saat ini telah mengantongi sertifikasi internasional dengan standar keselamatan tinggi. Menurutnya, penyebab kebakaran perlu dilihat secara lebih menyeluruh.

“Kalau baterai yang terbakar, gejalanya berbeda. Biasanya seperti petasan ke bawah dan tidak berhenti, tapi di beberapa kejadian yang kami lihat, kebakaran justru bermula dari instalasi listrik luar,” ujar Arwani pada Sabtu (24/1/2026) di TMII, Jakarta.

Ia menjelaskan, pemasangan perangkat tambahan seperti audio, lampu modifikasi, maupun sistem kelistrikan yang tidak sesuai standar kerap menjadi pemicu awal kebakaran. Selain itu, sumber api juga ditemukan berasal dari wall charger atau instalasi listrik rumah yang tidak tersertifikasi.

Arwani mencontohkan insiden kebakaran mobil listrik di Bandung. Secara kasat mata, kondisi baterai kendaraan tersebut relatif aman, tetapi bagian mobil lainnya hangus terbakar.

Temuan serupa juga terlihat dari sejumlah video kebakaran mobil listrik yang beredar di kalangan komunitas.

“Yang terbakar itu instalasi di atas, bukan baterainya. Bisa dari wall charger, bisa dari listrik, dan ada juga mobil listrik yang tidak dibekali wall charger, akhirnya pengguna membeli yang murah tanpa sertifikasi,” jelasnya.

Ia pun menyoroti pentingnya peran tenaga instalatir yang kompeten. Pemasangan wall charger oleh tenaga non-profesional, ditambah penggunaan perangkat yang tidak memenuhi standar keselamatan, dinilai berpotensi menimbulkan risiko serius. 

“Kalau barangnya tidak kompeten, yang masang juga tidak kompeten, risikonya besar. Di situ awalnya api muncul,” kata Arwani.

Fenomena Thermal Runway dan Ekosistem SPKLU

Terkait fenomena thermal runaway, Arwani menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan sekadar kebakaran, melainkan pelepasan energi listrik dari baterai akibat suhu ekstrem. Meski kasusnya tergolong sangat jarang, thermal runaway memang sulit dipadamkan jika sudah terjadi.

Thermal runaway itu problem. Ada yang harus diceburkan ke air, ada juga metode pakai blanket khusus, tapi itu jarang terjadi,” ujarnya.

Ia menambahkan, sejumlah produsen baterai kini mulai mengembangkan teknologi yang mampu mencegah penyebaran energi ke sel baterai lain jika terjadi kerusakan.

Dalam kesempatan tersebut, Arwani juga mengajak pengguna mobil listrik, termasuk insan media, untuk lebih jeli dan tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kebakaran kendaraan listrik.

“Sering kali kita hanya heboh di beritanya saja. Padahal, mobil listrik itu pada dasarnya aman. Yang perlu diperhatikan adalah instalasi di rumah dan cara penggunaannya,” tegasnya.

Dari sisi penggunaan harian, Arwani menyarankan pola pengisian daya yang lebih bijak, yakni menjaga kapasitas baterai di kisaran 10 hingga 80 persen untuk pemakaian sehari-hari. 

Selain aspek keselamatan, Arwani juga menyinggung perkembangan ekosistem pengisian daya di Indonesia. Menurutnya, jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) saat ini relatif memadai untuk kebutuhan harian, meski antrean masih berpotensi terjadi saat musim liburan.

"Jadi kalau normal day tidak ada masalah, di manapun kalau ada peak season akan ngantri, tetapi kita harapannya semakin banyak populasinya (SPKLU)," jelas Arwani.

Sebagai komunitas, KOLEKSI terus mendorong edukasi publik terkait penggunaan mobil listrik yang aman dan bertanggung jawab. Mulai dari pemahaman bahwa area pengisian bukanlah tempat parkir, hingga pentingnya segera mencabut charger setelah proses pengisian selesai.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya