Potensi Bencana Masih Tinggi, Status Tanggap Darurat di Pati Diperpanjang hingga 6 Februari 2026

Plt Bupati Risma menjelaskan, perpanjangan status tanggap darurat dilakukan sebagai dasar hukum dalam penanganan bencana banjir, longsor, dan angin puting beliung yang hingga kini masih terjadi di Kabupaten Pati.

oleh Arief PramonoDiterbitkan 24 Januari 2026, 13:33 WIB
Bencana banjir di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. (Liputan6.com/Arief Pramono)

Liputan6.com, Jakarta - Potensi bencana berupa banjir, longsor dan angin puting beliung yang masih mengancam Kabupaten Pati, Jawa Tengah, memaksa Pemkab Pati memperpanjang status darurat bencana di wilayah setempat.

Perpanjangan status ini tertuang dalam Keputusan Bupati Pati Nomor 400.9.10.2/0062 Tahun 2026 tentang Perpanjangan Status Tanggap Darurat Bencana Alam, yang ditandatangani oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, pada Sabtu (24/1/2026).

Plt Bupati Risma menjelaskan, perpanjangan status tanggap darurat dilakukan sebagai dasar hukum dalam penanganan bencana banjir, longsor, dan angin puting beliung yang hingga kini masih terjadi di Kabupaten Pati.

Menurut Risma, perpanjangan status tanggap darurat itu ditetapkan untuk periode 24 Januari 2026 hingga 6 Februari 2026. Tujuannya  agar seluruh perangkat daerah serta unsur terkait, memiliki landasan yang kuat dalam melaksanakan langkah-langkah penanganan bencana secara terpadu.

“Perpanjangan status tanggap darurat ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah bergerak cepat dan terkoordinasi dalam menangani dampak bencana di lapangan,” ujar Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra.

Risma mengakui bahwa durasi status tanggap darurat tidak bersifat kaku. Selain itu, dapat disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan, baik diperpanjang kembali maupun diperpendek sesuai perkembangan situasi dan kebutuhan penanganan bencana.

“Status ini bisa saja kami perpanjang kembali atau justru kami perpendek, tergantung pada evaluasi dan kebutuhan penanganan di lapangan,” tegas Risma.

Melalui kebijakan tersebut, kata Risma, Pemkab Pati berharap proses penanganan bencana berjalan lebih efektif, responsif dan tepat sasaran.

 

Banjir Rendam Pantura Pati

Bencana banjir di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. (Liputan6.com/Arief Pramono)

Diketahui, Banjir masih menggenangi jalur Pantura Pati–Juwana. Meski demikian, Satlantas Polresta Pati memastikan arus kendaraan dari kedua arah tetap lancar dan terkendali.

Petugas melakukan pengaturan lalu lintas guna mencegah terjadinya kemacetan maupun kecelakaan di lokasi terdampak.

Kapolresta Pati melalui Kasat Lantas Polresta Pati Kompol Riki Fahmi Mubarok mengaku telah mengerahkan personel pengamanan dan pengaturan arus kendaraan di jalur utama Pantura tersebut.

“Sejak pagi anggota sudah kami siagakan di lokasi untuk memastikan arus lalu lintas tetap berjalan aman dan lancar,” kata Kompol Riki.

Kompol Riki menambahkan, Satlantas juga telah menyiapkan skema rekayasa lalu lintas apabila debit air meningkat dan mengganggu mobilitas pengguna jalan.

“Kami siapkan opsi pengalihan arus jika sewaktu-waktu kondisi memburuk,” jelasnya.

 

Banjir Masih Genangi 7 Kecamatan

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, mencatat jumlah desa terdampak banjir kini menjadi 60 desa yang tersebar di tujuh kecamatan. Sebelumnya, sebanyak 136 desa tersebar di 12 kecamatan.

Berdasarkan data dari BPBD Pati per Jumat (23/1/2026), jumlah desa terdampak banjir yang terjadi sejak 9 Januari 2026 berkurang menjadi 60 desa, karena banyak wilayah yang mulai surut.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Pati Martinus Budi Prasetya di Pati mengatakan, wilayah terdampak banjir di Kecamatan Pati sebanyak tujuh desa, Juwana 23 desa, Kayen 5 desa, Jakenan 8 desa, Sukolilo 3 desa, Dukuhseti 3 desa dan Kecamatan Gabus 11 desa.

Menurut Martinus, jumlah rumah terdampak 8.998 unit dengan 10.790 keluarga atau 29.712 jiwa. Jumlah pengungsi 563 keluarga atau 1.624 jiwa tersebar di tempat umum dan tempat saudara/kerabat yang tidak terdampak banjir.

Upaya penanganan bencana, kata Martinus, melaksanakan koordinasi dengan Forkopimda, kecamatan serta desa terkait dengan penyiapan tempat evakuasi untuk pengungsi.

"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dan menjaga warga keselamatan maupun kesehatan dikarenakan curah hujan yang masih tinggi," pinta Martinus. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya