Bursa Saham AS Ditutup Beragam di Tengah Meredanya Ketegangan Terkait Greenland

Saham-saham Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan beragam pada hari Jumat.

oleh Septian DenyDiterbitkan 24 Januari 2026, 08:47 WIB
Pialang saham John Romolo bekerja di lantai Bursa Efek New York atau sering disebut Wall Street, Senin, 13 Oktober 2025. (Foto AP/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Saham-saham Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan beragam pada hari Jumat (Sabtu waku Jakarta), di mana indeks saham Nasdaq Composite bergerak naik turun. Hal ini memperluas keuntungannya di tengah meredanya kekhawatiran geopolitik

Sedangkan indeks saham Indeks Dow Jones Industrial Average mencetak kinerja buruk.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (24/1/2026), indeks saham Nasdaq yang didominasi saham teknologi naik 0,28% dan ditutup pada 23.501,24, sementara indeks Dow Jones yang didominasi saham unggulan kehilangan 285,30 poin, atau 0,58%, ditutup pada 49.098,71.

Saham Goldman Sachs mencatatkan penurunan hampir 4%. Hal ini membebani indeks 30 saham tersebut. Sedangkan indeks saham S&P 500 mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,03% dan berakhir di angka 6.915,61.

Nvidia dan emiten sejenis yang mendukung Nasdaq dan S&P 500, masing-masing naik 1,5% dan lebih dari 2%. Pergerakan ini terjadi setelah sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa CEO Nvidia, Jensen Huang, berencana mengunjungi China dalam beberapa hari mendatang. Nama-nama perusahaan teknologi lainnya seperti Microsoft juga ikut naik.juga mengalami peningkatan.

Sementara saham Intel anjlok sekitar 17% setelah produsen chip tersebut melaporkan prospek kuartal pertama yang mengecewakan.

Tiga indeks utama menguat untuk sesi kedua pada hari Kamis karena investor merasa lega dengan berita meredanya ketegangan perdagangan dan risiko geopolitik.

 

Indeks Saham Mulai Pulih

Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, 10 Agustus 2022. (AP Photo/Seth Wenig, file)

Indeks-indeks saham mulai pulih pada hari Rabu setelah Presiden Donald Trump membatalkan ancaman tarifnya terhadap impor dari delapan negara Eropa, yang seharusnya mulai berlaku pada 1 Februari, dan mengumumkan bahwa ia dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte telah mencapai kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland.

Ancaman tarif tersebut sempat memicu aksi jual aset AS karena investor beralih ke strategi “jual Amerika” di awal pekan perdagangan yang dipersingkat karena liburan.

Trump juga mengatakan bahwa pihaknya memiliki konsep kesepakatan dengan pulau Arktik tersebut.

“Para investor pekan ini menyambut baik istilah yang mulai muncul sekitar Hari Pembebasan atau tak lama setelahnya, perdagangan TACO ,” kata Direktur Pelaksana Kredit Korporasi Penn Mutual Asset Management, Scott Ellis.

“Mungkin investor akan mempertimbangkan hal itu di masa depan seiring Trump dan pemerintahan ini mulai mengurangi beberapa retorika untuk menyelesaikan kesepakatan," lanjut dia.

 

Kerangka Kerja

Pengunjuk rasa menilai kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, tersebut bukan hanya melanggar kedaulatan, tapi berpotensi mengganggu stabilitas politik dan iklim bisnis kawasan. Tampak dalam foto, sekelompok orang berjalan menuju konsulat Amerika Serikat untuk memprotes kebijakan Presiden AS Donald Trump terhadap Greenland di Nuuk, Sabtu 17 Januari 2026. (AP Photo/Evgeniy Maloletka)

Yang pasti, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen mengatakan pada hari Kamis bahwa dia tidak tahu apa isi kesepakatan kerangka kerja yang diumumkan Trump, menekankan bahwa kesepakatan apa pun harus menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Greenland.

Meskipun kenaikan gabungan pada hari Rabu dan Kamis telah menghapus kerugian Dow dari awal pekan, pergerakan pada hari Jumat membuatnya kembali merugi. Indeks Dow yang terdiri dari 30 saham turun 0,5% dalam seminggu.

Indeks saham S&P 500 kehilangan sekitar 0,4%, sementara indeks saham Nasdaq turun kurang dari 0,1% pada periode tersebut. Keduanya mencatat kerugian selama dua minggu berturut-turut. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya