IHSG Diprediksi Tembus 10.000, Intip Saham yang Bisa Jadi Pilihan

IHSG diprediksi menguat menuju level 10.000 dengan dukungan sektor perbankan, konsumsi, dan komoditas.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 23 Januari 2026, 19:20 WIB
Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Co-Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki arah kenaikan dengan potensi mencapai level 10.000 dalam 12 bulan ke depan. Meski demikian, pergerakan pasar saham nasional diperkirakan akan berlangsung dengan volatilitas yang sangat tinggi.

“Arah IHSG itu menuju 10.000, biarpun dengan bear case itu ke 7.500 dalam 12 bulan ke depan. Tapi, arahnya naik dengan volatilitas yang sangat tinggi,” ujar Hans dalam Edukasi Wartawan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait Arah IHSG di Tengah Tensi Geopolitik dan Potensi Bubble AI, Jumat (23/1/2026).

Hans menilai peluang kenaikan IHSG ditopang oleh kondisi pasar saham domestik yang kini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pergerakan investor asing. Ia menyoroti fenomena tahun lalu ketika aksi jual asing cukup masif, namun tidak diikuti oleh pelemahan tajam IHSG.

“Pasar saham kita itu berubah ya, dulunya kita sangat mengekor asing. Tahun lalu itu kita lihat asing itu kan rajin sekali jualan di pasar kita. Tapi buktinya IHSG kita kan nggak rontok sama sekali ya,” katanya.

 

BCA dan Astra Menarik?

Suasana di salah satu ruangan di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Sebelumnya, Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Menurut Hans, kondisi tersebut menunjukkan pasar saham Indonesia semakin bergerak secara independen. Dari sisi sektor, ia menilai saham-saham berkapitalisasi besar masih menarik untuk dicermati, khususnya perbankan, otomotif, dan telekomunikasi.

“Nah, yang kedua terkait dengan sektor ya, tadi sudah saya bahas ya, sektor big cap ini kemungkinan akan cukup menarik ya, seharusnya BCA, kemudian Astra, kemudian Telkom itu cukup menarik,” ujar Hans.

Selain big cap, Hans juga menyebut sektor konsumsi masih memiliki prospek positif seiring potensi perbaikan daya beli masyarakat. Beberapa saham konsumsi yang dinilai menarik antara lain Cimory, Mayora, MAPI, Indofood CBP, serta AMRT.

 

Sektor Komoditas

Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di sektor komoditas, Hans melihat saham emas masih berpeluang mencatatkan kinerja positif, seperti ANTM, BRMS, ARCI, MDKA, dan EMAS. Sementara itu, kebangkitan sektor batu bara dan pertambangan juga dinilai masih memberikan peluang, dengan saham-saham seperti ITMG, AADI, PTBA, ADMR, dan ADRO menjadi perhatian pelaku pasar.

Hans menegaskan, meskipun peluang penguatan IHSG tetap terbuka, investor perlu mencermati volatilitas tinggi yang berpotensi muncul seiring berbagai isu global dan domestik sepanjang 2026

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya