Harga Bitcoin Berpeluang Balik ke USD 126.200, Simak Pola yang Jadi Sinyal!

Harga Bitcoin melemah di bawah USD 90.000, namun analis menilai tren bullish masih bertahan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 23 Januari 2026, 18:00 WIB
Analis kripto melihat pola harga Bitcoin masih membuka peluang reli ke USD 126.200. Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin kembali berada di bawah level USD 90.000, kondisi yang cukup membuat banyak pelaku pasar merasa tidak nyaman. Setelah gagal bertahan di area USD 95.000, sentimen pasar pun berubah. Kekhawatiran mulai muncul, disertai prediksi bahwa koreksi harga bisa berlanjut lebih dalam.

Dikutip dari Coinmarketcap, Jumat (23/1/2026), namun, tidak semua analis melihat pergerakan ini sebagai awal dari tren negatif yang lebih besar. Analis kripto Javon Marks justru menilai Bitcoin masih berada dalam struktur tren naik yang sehat jika dilihat dari kerangka waktu yang lebih panjang.

Melalui unggahan grafiknya, Marks menunjukkan bahwa Bitcoin masih mempertahankan pola higher low atau titik terendah yang lebih tinggi dibandingkan penurunan sebelumnya. Pola ini menandakan bahwa tren naik secara keseluruhan belum patah, meskipun dalam jangka pendek harga terlihat melemah.

Dengan kata lain, fluktuasi yang terjadi saat ini dinilai lebih sebagai koreksi wajar di tengah tren naik, bukan sinyal perubahan arah pasar secara drastis. Menurut Marks, selama Bitcoin masih mampu bertahan di atas area support kunci, peluang untuk kembali menguat tetap terbuka.

Analisis ini menjadi penyeimbang di tengah meningkatnya sentimen takut yang mulai mendominasi pasar kripto dalam beberapa hari terakhir.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi. 

Zona Support Penting

Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Dalam penjelasannya, Javon Marks menyoroti satu hal utama dari grafik harga Bitcoin. Jika ditarik ke belakang, setiap koreksi besar dalam beberapa siklus terakhir selalu berakhir di level yang lebih tinggi dari penurunan sebelumnya.

Artinya, pasar menemukan titik dukungan lebih cepat setiap kali harga turun.

"Itulah yang disebut pola higher low," jelas Marks dalam analisanya.

Dalam grafik tersebut, ia menunjukkan bahwa meskipun Bitcoin terkoreksi dari level tertinggi terbaru, harga tidak menembus zona support penting yang selama ini menjaga tren naik.

Alih-alih anjlok lebih dalam, harga justru stabil dan memantul dari level yang masih jauh di atas titik terendah besar sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa minat beli masih muncul lebih awal, yang sering kali menjadi tanda bahwa pelaku pasar besar masih melakukan akumulasi.

Berdasarkan pola tersebut, Marks memproyeksikan potensi pergerakan Bitcoin kembali menuju area USD 126.200 jika struktur ini terus bertahan. Dari posisi saat ini, target tersebut setara dengan potensi kenaikan sekitar 40%.

Meski terdengar agresif, proyeksi ini bukan tanpa dasar, karena didasarkan pada pola pergerakan Bitcoin di siklus-siklus sebelumnya.

 

Fase Menunggu

Ilustrasi Bitcoin (Ist)

Meski struktur harga jangka panjang dinilai masih konstruktif, pelemahan sentimen pasar saat ini bukan tanpa alasan. Bitcoin yang bertahan di bawah USD 90.000 jelas mengecewakan sebagian trader yang berharap harga segera mencetak rekor baru.

Tekanan eksternal juga turut berperan. Dalam pertemuan World Economic Forum di Davos, CEO Citadel Kenneth Griffin memperingatkan bahwa imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang mendekati 5% bisa menjadi tantangan serius bagi aset berisiko, termasuk kripto.

Ketika instrumen aman menawarkan imbal hasil tinggi, investor cenderung bersikap lebih defensif dan mengurangi eksposur ke aset volatil seperti Bitcoin. Hal ini membuat arus modal menjadi lebih berhati-hati.

Namun demikian, koreksi tidak selalu berarti perubahan tren. Selama Bitcoin tidak mencetak lower low atau titik terendah yang lebih rendah pada kerangka waktu besar, tren naik dinilai masih utuh. Saat ini, penurunan harga masih cenderung dimanfaatkan sebagai peluang beli, meski tidak seagresif sebelumnya.

Untuk menjaga skenario bullish, Bitcoin perlu bertahan di area support saat ini. Sebaliknya, jika harga mampu kembali menembus zona USD 95.000–USD 100.000, momentum penguatan bisa kembali berpihak pada pembeli.

Hingga saat itu, Bitcoin berada dalam fase menunggu: belum jatuh, namun juga belum melesat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya