Respons Kemenpar soal Pariwisata Indonesia Disebut Kalah Telak dari Vietnam

Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menyebut pengembangan sektor pariwisata Indonesia kini lebih fokus pada kualitas daripada kuantitas, walau diakui banyak persoalan mendasar yang belum bisa dibereskan.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 22 Januari 2026, 16:00 WIB
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa. (dok. Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Liputan6.com, Jakarta - Sektor pariwisata Indonesia disebut kalah telak dari Vietnam, khususnya terkait jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2024. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sebagai focal point sektor tersebut diminta membenahi strategi agar bisa kembali bangkit dengan positif.

Menanggapi hal itu, Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa tak secara gamblang mengakui kekalahan Indonesia dari negeri naga biru itu. Ia hanya fokus membandingkan capaian kunjungan wisman ke Indonesia dari tahun ke tahun selepas pandemi yang disebutnya 'lebih tinggi dari tahun sebelumnya'.

"Yang perlu diingat adalah kita saat ini bicaranya adalah quality over quantity. Kita tidak hanya bicara jumlah, tapi kita bicara bagaimana kualitas dari destinasi dan kualitas dari pengalaman berwisata untuk wisatawan. Itu yang sedang kita tingkatkan melalui berbagai program dan kolaborasi dengan pemerintah pusat maupun juga pemerintah daerah," ujarnya Ni Luh ditemui di TMII Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Ni Luh menyebut kenaikan kunjungan wisman ke Indonesia dari 2024 ke 2025 bisa 'diasumsikan bahwa kepercayaan dunia atau wisatawan ke Indonesia pulih'. Meski begitu, ia mengakui bahwa banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan Indonesia agar bisa memberikan pengalaman wisata yang lebih berkualitas.

"Pasti teman-teman udah tahu, sampah misalnya. Infrastruktur, konektivitas, masih jadi tantangan dan terus berupaya kita benahi sama-sama," sambungnya.

 

 

Perbaikan Pengelolaan Sampah dan Konektivitas

Ilustrasi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia via Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. (dok. Biro Komunikasi Publik Kemenpar)

Soal sampah, kata Ni Luh, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian terhadap hal itu. Ia menyebut program Waste to Energy yang akan diaplikasikan di tiga kota di tahap pertama per Maret 2026 diharapkan bisa mengatasi masalah tersebut.

"Mudah-mudahan kita harapkan itu bisa memecahkan satu tantangan, yaitu masalah sampah begitu," ujarnya.

Terkait masalah konektivitas, pihaknya terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk mengatasinya. "Karena itu tentu ranahnya di sana," ujarnya.

Satu lagi strategi meningkatkan pengalaman berwisata di Indonesia adalah membenahi keselamatan berwisata. Itu menjadi prrioritas jajarannya karena bertujuan menunjukkan dan memulihkan serta menguatkan kembali kepercayaan dunia terkait keselamatan berwisata di Indonesia.

"Melalui apa? Pelatihan, koordinasi, perbaikan SOP, dan lain sebagainya. Kita terus perkuat karena ini juga jadi concern kami luar biasa," ucap Ni Luh.

Apakah akan menerapkan penyeleksian wisman berkualitas lewat angka di rekening seperti yang diusulkan Pemprov Bali? "Ah itu nanti ya, soal itu. Karena tentu kan itu dari Pak Gubernur ya. Kita perlu bicara dan mendengarkan dari perspektif Pak Gubernur," jawab Ni Luh.

 

Lompatan Besar Vietnam di Sektor Pariwisata

Ilustrasi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia. (dok. Biro Komunikasi Publik Kemenpar)

Berdasarkan data ASEAN Statistics Division (ASEANStats) 2024, Indonesia berada di posisi kelima dalam hal kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) terbanyak pada 2024, tertinggal jauh di bawah Thailand, Malaysia, Vietnam, dan bahkan Singapura.

"Posisi pariwisata Indonesia kini tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga, terutama Vietnam yang telah berhasil menyalip posisi Indonesia selama dua tahun berturut-turut," ujar Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Minggu, 18 Januari 2026, dikutip dari laman nextindonesia.id, Selasa, 20 Januari 2026.

Dibandingkan Indonesia, Vietnam dinilai sangat agresif membangun ekosistem wisatanya. Hasilnya, Vietnam yang pada 2021 hanya mencatat 4.000 wisman, melonjak drastis hingga mencapai 17,6 juta pada 2024. Sementara, Indonesia hanya mampu mendatangkan 14,3 juta wisman pada periode yang sama.

Pangsa pasar Indonesia di ASEAN pun terus menciut, dari 13,51 persen pada 2022 menjadi hanya 11,28 persen pada 2024. Ketergantungan yang terlalu besar pada Pulau Bali juga dianggap sebagai risiko fatal bagi masa depan sektor ini.

"Kita tidak bisa lagi hanya sekadar merayakan angka pemulihan pariwisata jika pada saat yang sama pangsa pasar kita justru menciut," tegas Sandy.

Mengapa Pariwisata Vietnam Bisa Menyalip Indonesia?

Ilustrasi wisatawan mancanegara (turis asing) yang berkunjung ke Indonesia. (dok. Biro Komunikasi Publik Kemenpar)

Dengan kondisi Bali yang kian sesak dan jenuh, Indonesia dipaksa untuk segera mencari magnet baru agar tidak semakin ditinggalkan wisatawan mancanegara. Terlebih, mereka mulai mencari alternatif destinasi lain yang lebih segar dan terkelola dengan baik.

Keberhasilan Vietnam menyalip Indonesia merupakan hasil dari perencanaan infrastruktur yang ambisius. Salah satu bukti keseriusan mereka adalah pembangunan Bandara Long Thanh yang dirancang untuk menampung 100 juta penumpang per tahun.

"Vietnam bergerak sangat serius dengan pembangunan infrastruktur masif, sementara kita masih berkutat pada kendala konektivitas udara yang terbatas," tambah Sandy.

Hal ini diperparah dengan kegagalan Indonesia dalam merebut hati wisatawan dari Tiongkok, yang merupakan motor utama pemulihan pariwisata di kawasan Asia Tenggara. Pada 2024, hanya 1,2 juta warga Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia, jauh di bawah Thailand yang menyedot 6,7 juta orang atau Vietnam dengan 3,7 juta kunjungan.

Tanpa adanya perbaikan pada aksesibilitas dan strategi promosi yang lebih tajam, Indonesia akan terus menjadi penonton saat negara-negara tetangga menikmati "kue" ekonomi dari kembalinya turis Tiongkok ke panggung pariwisata global pascapandemi.

Infografis: 4 Unsur Wisata Ramah Lingkungan atau Berkelanjutan
Infografis Kasus Kecelakaan Bus Pariwisata Saat Study Tour.  (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya