10 Negara Ini Diprediksi Jadi Lokasi Paling Aman untuk Berlindung Jika Perang Dunia III Pecah

Faktor apa saja yang membuat kesepuluh negara ini dianggap sebagai tempat paling aman?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 21 Januari 2026, 19:30 WIB
Ilustrasi perang nuklir. (Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan kekhawatiran akan pecahnya Perang Dunia III, sejumlah analis keamanan dan pengamat internasional menyoroti negara-negara yang dinilai relatif paling aman untuk berlindung jika konflik berskala global benar-benar terjadi.

Faktor netralitas politik, isolasi geografis, kemandirian pangan dan energi, serta rendahnya nilai strategis militer menjadi indikator utama penilaian tersebut.

Berikut 10 negara yang diprediksi memiliki tingkat keamanan tertinggi dalam skenario konflik global besar, dikutip dari laman ET, Rabu (21/1/2026):

1. Swiss

Swiss selama berabad-abad dikenal dengan kebijakan netralitasnya, yang secara internasional diakui sejak Kongres Wina 1815.

Negara ini tidak terlibat dalam konflik bersenjata sejak lebih dari dua abad lalu. Selain itu, Swiss memiliki jaringan tempat perlindungan serangan nuklir yang mampu menampung seluruh penduduknya, kontrol wilayah udara yang ketat, serta ekonomi dan sektor pertanian yang stabil dan mandiri.

2. Selandia Baru

Terletak jauh di Pasifik Selatan, Selandia Baru berada di luar jalur utama konflik global. Negara ini menjaga hubungan diplomatik luas tanpa keterlibatan militer agresif.

Kebijakan anti-nuklir, kepadatan penduduk yang rendah, serta ketersediaan sumber daya alam dan energi terbarukan memperkuat ketahanannya dalam situasi krisis global.

3. Islandia

Isolasi geografis Islandia di Atlantik Utara membuatnya relatif tidak strategis dalam konflik internasional. Meski menjadi anggota NATO, Islandia tidak memiliki angkatan bersenjata tetap. Kemandirian energi dari panas bumi dan tenaga air, serta sektor perikanan yang kuat, menjadikan negara ini mampu bertahan secara mandiri.

4. Bhutan

Bhutan, yang terletak di kawasan Himalaya, dikenal dengan kebijakan Kebahagiaan Nasional Bruto yang menekankan perdamaian dan keberlanjutan.

Interaksi terbatas dengan kekuatan global dan medan pegunungan yang sulit diakses membuat negara ini kecil kemungkinannya menjadi target konflik. Bhutan juga relatif swasembada dalam pertanian tradisional.

5. Irlandia

Irlandia mempertahankan kebijakan netralitas dan tidak menjadi anggota NATO, sehingga dinilai memiliki risiko rendah dalam konflik global. Basis pertanian yang kuat dan iklim yang mendukung produksi pangan menjadi keunggulan tersendiri. Kedekatannya dengan negara-negara NATO memberikan perlindungan tidak langsung tanpa keterlibatan militer aktif.

6. Fiji

Negara kepulauan di Pasifik ini berada jauh dari pusat-pusat geopolitik dunia. Dengan infrastruktur militer yang terbatas, Fiji memiliki nilai strategis rendah dalam konflik global. Ketersediaan sumber daya laut dan pertanian, serta stabilitas politik yang membaik dalam beberapa tahun terakhir, meningkatkan tingkat keamanannya.

 

7. Kanada

Ilustrasi bendera Kanada (AFP/Geoff Robins)

Wilayah Kanada yang luas dan jarang penduduk, serta posisinya yang relatif terpisah dari Asia dan Eropa, menjadikannya salah satu negara paling aman. Kanada memiliki sumber daya alam melimpah, infrastruktur krisis yang baik, serta kemampuan pertahanan yang kuat tanpa sejarah agresi militer.

8. Australia

Australia diuntungkan oleh isolasi geografis dan kepadatan penduduk yang rendah. Negara ini memiliki cadangan pangan, energi, dan mineral yang besar, serta tata kelola pemerintahan yang stabil. Meski bersekutu dengan negara-negara Barat, Australia tidak berada di garis depan konflik global.

9. Norwegia

Meski anggota NATO, Norwegia memiliki keunggulan strategis berupa medan yang terjal, lokasi Arktik, dan populasi yang relatif kecil. Negara ini juga mandiri secara energi melalui tenaga air serta memiliki cadangan minyak dan gas yang signifikan. Pemerintahnya menekankan kesiapan sipil menghadapi krisis.

10. Chile

Chile terlindungi oleh hambatan alami berupa Pegunungan Andes dan Samudra Pasifik, serta letaknya yang jauh dari pusat konflik dunia. Negara ini relatif stabil secara ekonomi, mandiri dalam produksi pangan, dan minim keterlibatan dalam aliansi militer global. Pengalaman menghadapi bencana alam juga memperkuat ketahanan nasionalnya.

Meski prediksi ini bersifat analitis dan hipotetis, daftar tersebut mencerminkan negara-negara yang dinilai memiliki kapasitas terbaik untuk bertahan jika konflik global berskala besar benar-benar terjadi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya