Jutawan Bitcoin Meningkat, Kebocoran Data Jadi Ladang Baru Kejahatan Kripto

Peretas memanfaatkan data belanja dan kontak untuk menipu investor kripto dan meraup jutaan dolar Amerika Serikat (AS).

oleh Muhammad IsmailDiterbitkan 21 Januari 2026, 18:38 WIB
Ilustrasi Jjutawan Bitcoin Meningkat ©Ilustrasi dibuat AI

Liputan6.com, Jakarta - Meningkatnya jumlah jutawan Bitcoin di seluruh dunia ternyata membawa konsekuensi serius di balik euforia aset digital. Di tengah lonjakan nilai kripto dan bertambahnya investor bermodal besar, kebocoran data pribadi kini menjadi pintu masuk baru bagi kejahatan kripto.

Para pelaku memanfaatkan basis data hasil peretasan untuk mengidentifikasi individu kaya, lalu menjadikan mereka sasaran empuk penipuan dan pencurian aset digital.

Dilansir dari BBC, Rabu (21/1/2026), pendiri prusahaan kripto Haven Matthew Jones menyebut hilangnya data pribadi telah menjadi masalah sistemik di era kripto. Menurut dia, semakin banyak jutawan Bitcoin, semakin besar pula nilai ekonomi dari data hasil peretasan.

"Ada basis data curian yang terus memperkaya daftar target," ujar dia.

Data tersebut kerap diperdagangkan secara ilegal dan dikombinasikan dengan sumber lain untuk memetakan individu beraset besar.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana kejahatan kripto tidak lagi bergantung pada peretasan teknologi tingkat tinggi semata. Justru, data konsumen dari sektor non-keuangan kini menjadi bahan bakar utama bagi penipuan kripto.

Informasi sederhana seperti kebiasaan belanja, alamat email, dan nomor telepon dapat berubah menjadi senjata yang mematikan bagi keamanan investor.

Di tengah minimnya perlindungan dan sulitnya pelacakan pelaku, investor kripto dihadapkan pada risiko berlapis, bukan hanya volatilitas harga, tetapi juga ancaman kriminal yang semakin terorganisir.

Salah satu contoh nyata adalah pelanggaran data di Kering, perusahaan induk merek-merek mewah seperti Gucci dan Balenciaga. Menurut seorang peretas, basis data hasil kebocoran tersebut tidak hanya berisi jutaan nama dan detail kontak pelanggan, tetapi juga menunjukkan berapa banyak uang yang dihabiskan seseorang di toko-toko mewah.

 

 

“Bukan Peretas, Hanya Cari Uang”

Pelaku sebut dirinya bukan peretas ia mengaku tertarik untuk menghasilkan uang. Ia mengklaim memiliki Bitcoin senilai USD 700 ribu yang berasal dari salah satu korbannya.

Informasi ini dinilai sangat berharga untuk memetakan individu kaya yang berpotensi menjadi pemilik aset kripto dalam jumlah besar.

Peretas tersebut mengaku membeli spreadsheet hasil peretasan itu seharga USD 300 ribu, sekitar Rp 5 miliar (kurs USD 1 = Rp 16.965). Data tersebut kemudian dipadukan dengan basis data curian lain untuk menargetkan pengguna kripto bernilai tinggi.

Ia mengklaim berhasil menipu sejumlah pengguna Coinbase dan meraup sedikitnya USD 1,5 juta, sekitar Rp 25 miliar dalam bentuk kripto.

Pelaku menolak mengungkap identitasnya, selain menyebut dirinya sebagai mahasiswa di sebuah universitas di Amerika Serikat. Ketika ditanya apakah ia menganggap dirinya peretas atau penipu, jawabannya singkat, “Bukan keduanya. Saya hanya tertarik menghasilkan uang.”

Untuk membuktikan klaimnya, pelaku menunjukkan kepada BBC ia memiliki Bitcoin senilai USD 700 ribu, sekitar Rp 11,8 miliar, yang menurut dia berasal dari salah satu korban. Ia menjelaskan modusnya dengan mencocokkan data dari berbagai kebocoran untuk memastikan target benar-benar kaya dan memiliki kontak terbaru.

"Saya membeli basis data hasil peretasan dan mencocokkannya dengan data lain untuk menemukan orang-orang kaya,” ujarnya. “Uang saya berlipat ganda dengan sangat cepat."

Respons Perusahaan dan Peringatan bagi Investor

Ilustrasi peringatan bagi para investor. (Photo created by mamewmy on www.freepik.com)

Kering tidak memberikan komentar langsung atas kasus ini, tetapi sebelumnya menyatakan, sistem TI mereka telah diamankan pascapelanggaran data. Perusahaan menegaskan tidak ada data sensitif seperti nomor rekening bank, kartu kredit, atau identitas pemerintah yang dicuri.

Meski demikian, para pakar menilai kasus ini menjadi peringatan keras bagi investor kripto, terutama mereka yang memiliki kekayaan besar.

Di era di mana data pribadi diperdagangkan layaknya komoditas, keamanan digital dan kerahasiaan informasi pribadi menjadi kunci penting untuk menghindari jeratan kejahatan kripto yang semakin canggih.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya