Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak menguat pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026. Kenaikan harga minyak dunia terjadi seiring harapan penghentian sementara produksi di ladang minyak Kazakhstan dan harapan pertumbuhan ekonomi global yang lebih kuat yang dapat mendorong permintaan bahan bakar.
Mengutip CNBC, Rabu (21/1/2026), investor terus memantau ancaman tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap negara-negara Eropa yang menentang upayanya untuk mengakuisisi Greenland.
Advertisement
Harga Brent berjangka naik 98 sen atau 1,53% dan ditutup ke posisi USD 64,92 per barel. Harga kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk Februari menguat 90 sen atau 1,51% dan ditutup ke posisi USD 60,34.
Produsen minyak Kazakhstan Tengizchevroil, yang dipimpin oleh Chevron, mengatakan pada hari Senin bahwa mereka telah menghentikan sementara produksi di ladang minyak Tengiz dan Korolev setelah masalah memengaruhi sistem distribusi listrik.
Ladang minyak Tengiz kemungkinan akan dihentikan produksinya selama tujuh hingga sepuluh hari lagi, sehingga mengurangi ekspor minyak mentah melalui Caspian Pipeline Consortium, menurut sumber yang dikutip Reuters pada hari Selasa.
"Tengiz termasuk salah satu ladang minyak terbesar di dunia, sehingga penghentian produksi ini tentu saja mengganggu aliran minyak mentah," ujar Direktur ICIS, Ajay Parmar.
"Namun, gangguan ini tampaknya bersifat sementara, dan jika retorika tarif terus berlanjut, kami memperkirakan harga akan turun kembali,” ia menambahkan.
Sementara itu, Analis IG Tony Sycamore menuturkan, pasar minyak juga mendapat dukungan dari data produk domestik bruto (PDB) kuartal keempat China yang lebih baik dari perkiraan yang dirilis pada Senin.
"Ketahanan di negara pengimpor minyak terbesar di dunia ini memberikan dorongan pada sentimen permintaan,” katanya.
Ekonomi China tumbuh 5% tahun lalu dan kapasitas pengolahan kilang minyak negara itu pada tahun 2025 naik 4,1% secara tahunan, data menunjukkan pada Senin. Produksi minyak mentah China juga tumbuh 1,5%.
Dolar AS Melemah
"Harga juga naik karena revisi ke atas estimasi pertumbuhan ekonomi global tahun ini oleh Dana Moneter Internasional serta harga diesel yang lebih kuat, " kata analis PVM, Tamas Varga.
Melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) juga mendukung harga, karena mata uang AS yang lebih lemah dapat meningkatkan permintaan minyak dengan membuat pembelian dalam denominasi dolar menjadi lebih murah.
Kekhawatiran akan perang dagang yang kembali memanas meningkat selama akhir pekan setelah Trump mengatakan dia akan mengenakan bea tambahan 10% mulai 1 Februari pada barang-barang yang diimpor dari negara-negara anggota Uni Eropa, yaitu Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda, serta Inggris dan Norwegia, yang akan meningkat menjadi 25% pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan mengenai Greenland yang tercapai.
Ancaman tarif Trump berdampak negatif pada harga minyak mentah karena bea masuk tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi global yang lebih rendah dan karenanya mengurangi pertumbuhan permintaan minyak, kata Parmar dari ICIS.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan pada Selasa kalau badan eksekutif blok tersebut sedang mengerjakan paket untuk mendukung keamanan Arktik dan bahwa tarif tersebut adalah sebuah kesalahan.
Lonjakan Harga Minyak
Sebelumnya, harga minyak naik sedikit pada Senin (Selasa waktu Jakarta), setelah kenaikan pada sesi sebelumnya, karena tindakan keras Iran yang mematikan terhadap protes meredam keresahan sipil. Hal ini mempersempit peluang serangan AS terhadap produsen utama Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan.
Dikutip dari CNBC, Selasa (20/1/2026), harga minyak mentah Brent diperdagangkan pada level USD 64,19 per barel, naik 6 sen atau 0,09%. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk Februari naik 9 sen, atau 0,15%, menjadi USD 59,53 per barel.
Tindakan keras Iran yang penuh kekerasan terhadap protes yang dipicu oleh kesulitan ekonomi, yang menurut para pejabat menewaskan 5.000 orang, meredam keresahan tersebut.
Presiden AS Donald Trump tampaknya menarik kembali ancaman intervensi sebelumnya, dengan mengatakan di media sosial bahwa Iran telah membatalkan hukuman gantung massal terhadap para demonstran, meskipun negara tersebut belum mengumumkan rencana semacam itu.
Kekhawatiran yang Berlebihan
Hal itu tampaknya menurunkan kemungkinan intervensi AS yang dapat mengganggu aliran minyak dari produsen terbesar keempat di antara Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Penurunan tersebut menandai kemunduran baru dari level tertinggi multi-bulan yang dicapai pekan lalu, meskipun harga minyak masih ditutup lebih tinggi pada hari Jumat. Namun, pergerakan militer AS ke Teluk menggarisbawahi kekhawatiran yang berkelanjutan.
“Penurunan harga tersebut terjadi setelah pelepasan cepat premium Iran yang telah mendorong harga melonjak ke level tertinggi dalam 12 minggu, dipicu oleh tanda-tanda pelonggaran tindakan keras Iran terhadap para pengunjuk rasa,” kata Analis Pasar IG, Tony Sycamore..