Menkeu Purbaya Klaim Dapat Tangani Rupiah dalam 2 Malam

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan, otoritas bank sentral untuk menangani rupiah.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 20 Januari 2026, 20:08 WIB
Sebelumnya, sampai 31 Agustus 2025, APBN mengalami defisit Rp 321,6 triliun. Realisasi itu setara dengan 1,35% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meyakini bisa meredam pelemahan nilai tukar rupiah atau kurs rupiah terhadap dolar AS dalam jangka waktu singkat. Ia mengaku tahu betul kenapa rupiah terus mengalami tekanan saat ini. 

Hanya saja, ia tidak mau terlalu melangkah lebih jauh dalam penanganan rupiah. Sebab menurut dia, itu jadi kewenangan Bank Indonesia (BI). 

"Kalau saya tahu betul alasannya kenapa, cara memperbaikinya dua hari semalam dua malam selesai itu. Tapi saya bukan bank sentral," ujar Purbaya saat ditemui di sekitar Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

"Coba tanya mereka, karena saya enggak bisa intervensi untuk kebijakan nilai tukar, itu otoritas bank sentral," dia menegaskan. 

Menurut dia, pelemahan rupiah saat ini terbilang masih rendah secara tahunan, di kisaran 2-3 persen. Purbaya pun mengklaim hal itu masih bisa dikendalikan. Terlebih ia menyebut pelaku pasar percaya bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini sudah kuat. 

"Yang penting adalah fondasi ekonomi kita arahnya berlawanan dengan nilai tukar pada saat ini. Jadi fondasi ekonomi membaik terus, sementara nilai tukar agak melemah, mungkin sebagian orang takut. Tapi saya pikir sih kalau dari market kelihatan sekali kan? Mereka percaya fondasi ekonomi kita baik," tuturnya.

 

 

Ini Dampaknya Jika Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah

Bank Indonesia (BI) juga menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah ini sejalan dengan pergerakan mata uang Asia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda, menilai pelemahan rupiah bisa berdampak signifikan terhadap sektor industri yang mengandalkan bahan baku impor.

"Sektor yang paling terdampak adalah sektor industri yang mengandalkan bahan baku impor. Akan ada kenaikan harga bahan baku impor yang cukup signifikan karena pelemahan rupiah," kata Nailul Huda kepada Liputan6.com, Selasa (20/1/2026)z

Menurut Nailul, dampaknya bisa terjadi imported inflation atau inflasi yang ditimbulkan oleh barang-barang impor atau bahan baku impor. Misalkan tempe dan tahu yang lebih mahal karena kedelai impor.

Lebih lanjut, ia membeberkan beberapa faktor eksternal dan internal yang sama-sama berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah. Faktor eksternal pertama adalah sikap the Fed dan beberapa bank sentral lainnya yang menahan suku bunga acuan. Arus dolar akan kembali ke AS dan negara maju. Permintaan dolar akan meningkat. 

Faktor eksternal lainnya adalah ketegangan di global, khususnya timur tengah (Iran) membuat harga minyak menguat. 

"Di tengah ketidakpastian yang tinggi, ada dua instrumen investasi yang cenderung aman, yaitu dolar AS dan emas," ujarnya.

 

Faktor Internal

Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sementara, untuk faktor internal adalah pengumuman kinerja APBN 2025 yang mencatatkan rapor merah. Dari sisi defisit fiskal yang membengkak memberikan sentimen negatif pada pengelolaan keuangan negara. 

Belanja yang boros namun penerimaan yang seret membuat kekhawatiran terkait anggaran yang sustainable. Alhasil investor melihat pengelolaan yang buruk sebagai sentimen negatif. 

"Kedua adalah hutang yang membengkak yang bisa meruntuhkan kondisi fiskal kita. Hutang yang menumpuk membuat kinerja fiskal tidak optimal dalam pembangunan," ujarnya.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya