Cerita Bocah 5 Tahun Asal Sukabumi Menembus Final Olimpiade Matematika Internasional

Ketertarikan Riza pada angka sudah terlihat sejak usia dua tahun.

oleh Fira SyahrinDiterbitkan 19 Januari 2026, 21:01 WIB
Bocah lima tahun asal Sukabumi jago matematika. (Liputan6.com/Fira Syahrin)

Liputan6.com, Jakarta - Riza Kalandara Alfatih, bocah berusia lima tahun asal Kota Sukabumi menorehkan prestasi gemilang. Dia berhasil menembus babak final Southeast Asian Mathematical Olympiad X (SEAMO) 2026. Keberhasilannya menyimpan cerita tentang ketelatenan seorang ibu dalam membangun fondasi berpikir sang anak.

Rizky Noorrahmi (31), sang ibu, membuktikan bahwa kecerdasan matematika tidak melulu soal rumus, melainkan soal rasa ingin tahu yang dirawat dengan kasih sayang.

Ketertarikan Riza pada angka sudah terlihat sejak usia dua tahun. Namun, alih-alih memberikan buku hapalan yang kaku, Rizky dan suaminya, Nur Ikhsan Azizudin (32), mengenalkan matematika melalui pola dan hubungan jumlah dalam kehidupan sehari-hari.

"Saya sebagai ibu membantu menjembatani konsep abstrak itu ke bentuk yang lebih konkret, seperti benda nyata dan aktivitas sehari-hari. Di titik itu, Riza sudah mengerti bagaimana angka-angka bekerja bahkan sebelum dia mengenal bentuk angka itu sendiri," ungkap Rizky saat dihubungi, Senin (19/1/2026).

Belajar Tanpa Paksaan

Sebagai lulusan Sarjana Seni, Rizky memahami pentingnya kenyamanan emosional. Ia sangat menghindari jadwal belajar yang mengekang.

Baginya, belajar haruslah terasa seperti permainan agar tidak meninggalkan trauma atau stres bagi anak seusia Riza.

Kunci keberhasilan Riza juga terletak pada cara orang tuanya menghadapi kesulitan. Saat Riza merasa jenuh menghadapi soal sulit, Rizky tidak langsung memberikan jawaban, melainkan mengajaknya berdialog lewat pertanyaan-pertanyaan kecil untuk memancing logikanya sendiri.

Menutup ceritanya, Rizky memberikan pesan reflektif bagi para orang tua lainnya agar tetap menjaga kebahagiaan anak di atas ambisi pribadi.

"Hati-hati dengan ambisi yang menyamar sebagai dukungan. Anak dengan minat kuat bukan berarti harus dipacu terus. Tugas kita bukan mempercepat, tapi membersamai dan membimbing jalannya agar mereka siap menghadapi dunia," imbuhnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya