20 Januari 1987: Utusan Gereja Inggris Disandera di Lebanon Saat Negosiasi Pembebasan Tahanan

Seperti apa perjuangan Terry Waite dalam membebaskan para sandera yang diculik di Beirut?

oleh Fanny MarizkaDiterbitkan 20 Januari 2026, 06:00 WIB
Ilustrasi Penculikan. (Freepik)

Liputan6.com, Beirut - Seorang utusan Gereja Inggris sekaligus aktivis hak asasi manusia, Terry Waite, disandera pada 20 Januari 1987 di Beirut, Lebanon, saat menjalankan misi negosiasi pembebasan sandera Barat di tengah perang saudara Lebanon.

Waite dikenal berperan penting dalam upaya kemanusiaan selama bertahun-tahun, khususnya membantu membebaskan warga asing yang ditahan kelompok-kelompok bersenjata dengan tuduhan memiliki kaitan politik dalam konflik Lebanon. Pada 1986, ia tercatat berhasil mengamankan pembebasan para misionaris yang ditahan di Iran pasca-Revolusi Islam, sandera Inggris di Libya, serta warga Amerika Serikat di Lebanon.

Namun, dalam salah satu misinya, Waite justru ditangkap oleh kelompok bersenjata Syiah saat kembali ke Beirut untuk melanjutkan perundingan, sebagaimana dilaporkan History.com, Selasa (20/1/2026).

Sebelumnya, intelijen Amerika Serikat dan Inggris telah memperingatkan bahwa dirinya menjadi target penculikan. Meski demikian, Waite tetap melanjutkan perjalanan dan menghadiri pertemuan dengan perantara lokal serta perwakilan kelompok bersenjata.

Menurut laporan Los Angeles Times, Waite berpisah dari pengawalnya sebelum pertemuan tersebut dan sejak itu menghilang selama hampir lima tahun. Sejumlah pengamat menilai penyanderaan ini berkaitan dengan skandal Iran-Contra, operasi rahasia pemerintahan Presiden Ronald Reagan yang melibatkan penjualan senjata dengan imbalan pembebasan sandera.

Selama masa penahanan, Waite mengungkapkan dirinya kerap mengalami penyiksaan, termasuk ditutup matanya dan dirantai ke radiator. Kondisi kesehatannya juga memburuk akibat penyakit asma yang dideritanya. Waite menegaskan keterlibatannya dalam misi tersebut murni bersifat kemanusiaan dan tidak terkait agenda politik, meski perannya sempat disalahpahami oleh kelompok bersenjata di Lebanon.

Kebebasan Para Sandera Barat

Ilustrasi bendera Lebanon. (Unsplash/ Charbel Karam)

Namun, pada 18 November 1991, ia berhasil dibebaskan secara diam-diam melalui negosiasi tidak langsung, di mana ia tidak lagi menguntungkan bagi para penangkapnya. Pembebasan ini juga terjadi bersamaan dengan sandera Barat lainnya, yaitu tiga warga Amerika Serikat yang direncanakan akan dibebaskan pada Desember 1991, sementara dua warga Jerman menyusul pada Juni 1992.

Waite yang kembali muncul di depan media saat itu berusia 52 tahun dan mengatakan bahwa salah satu penyanderaannya menyatakan penyesalan saat tidak mencapai tujuan mereka.

"Ia juga berkata kepada saya yang mengatakan, kami meminta maaf karena telah menyandera Anda. Kami menyadari bahwa ini adalah tindakan yang salah, (di mana) menyandera tidak mencapai tujuan yang berguna dan konstruktif," ungkap Waite di hadapan wartawan di Damaskus yang berhasil bebas oleh bantuan Giandomenico Picco, mantan utusan PBB yang mempertaruhkan nyawanya untuk menegosiasikan pembebasan sandera Barat di Lebanon.

Secara keseluruhan para korban yang ditahan bersamanya sebanyak 96 yang disandera antara tahun 1982 dan 1992. Para korban sebagian besar adalah jurnalis, diplomat, atau guru. Namun, tidak memungkinkan seluruh korban selamat dari penahanan yang tidak adanya perawatan medis ketika mereka sakit, di mana sedikitnya 10 sandera meninggal.

Pada akhirnya, aksi penyanderaan ini menjadi sejarah kelam yang diakibatkan meyakini adanya hubungan Waite dengan kepentingan politik dan militer pihak asing sehingga menjadikan para sandera yang turut sebagai alat tekanan politik.

Bukan hanya itu saja, para sandera turut menjadi bagian aksi balasan terhadap Amerika Serikat dengan sekutunya, serta sebuah jaminan terhadap pembalasan terhadap Hizbullah, yang dianggap bertanggung jawab atas pemboman barak Marinis AS dan Kedutaan Besar di Beirut yang menewaskan lebih dari 300 orang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya