Liputan6.com, Jakarta - Harga saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) menguat 19,42% pada sesi pertama perdagangan saham Senin, (19/1/2026). Kenaikan harga saham RLCO terjadi di tengah lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Mengutip data RTI, sesi pertama, harga saham RLCO ditutup terang 19,42% ke posisi Rp 7.225 per saham. Harga saham RLCO dibuka naik 200 poin ke posisi Rp 6.250 per saham. Saham RLCO berada di level tertinggi Rp 7.250 dan level terendah Rp 6.250 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 28.133 kali dengan volume perdagangan 300.423 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 210 miliar. Kapitalisasi pasar saham RLCO tercatat Rp 22,58 triliun.
Advertisement
Berdasarkan data google finance, harga saham RLCO menguat 44,50% dalam lima hari terakhir. Selama sebulan, harga saham RLCO meroket 443,23%. Pada 2025, harga saham RLCO terbang 3.096%.
Sementara itu, pada sesi pertama, IHSG naik 0,27% ke posisi 9.099,69. Indeks saham LQ45 bertambah 0,10% ke posisi 890,29. Pada sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 9.109,03 dan level terendah 9.025,99. Sebanyak 350 saham menguat sehingga angkat IHSG. 337 saham melemah. 116 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 2.520.449 kali dengan volume perdagangan saham 37,4 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 16,8 triliun.
Sektor saham bervariasi. Sektor saham energi naik 0,20%, sektor saham consumer nonsiklikal bertambah 0,36%, sektor saham consumer siklikal menguat 1,12%, dan sektor saham keuangan bertambah 0,08%. Lalu sektor saham properti menanjak 0,32% dan sektor saham infrastruktur melambung 0,48%.
Sementara itu, sektor saham basic dan kesehatan masing-masing tirin 1,09%. Lalu sektor saham teknologi melemah 0,48% dan sektor saham transportasi susut 0,81%.
RLCO Bakal Ekspor Produk Sarang Walet ke Thailand dan AS pada 2026
Sebelumnya, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) membidik pasar ekspor baru dari produk olahan sarang burung waletnya. Thailand dan Amerika Serikat (AS) akan dilakukan pada 2026, tahun depan.
Direktur Utama RLCO, Edwin Pranata mengatakan ada 4 negara yang memang dibidiknya. Vietnam menjadi negara pertama yang jadi tujuan ekspor dan dilakukan pada akhir 2025 ini.
"Nanti Thailand akan menyusul tahun depan dan ke Amerika," kata Edwin, di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/12/2025).
Adapun, ekspor ke Thailand akan direalisasikan pada kuartal II-2026, sedangkan pengiriman ke AS akan dilakukan di kuartal IV-2026 nanti. Pengirimannya merupakan produk olahan sarang burung walet atas penjualan secara online.
Edwin juga memberikan bocoran, perseroan membidik negara di kawasan Asia Tenggara. Filipina menjadi satu negara yang dinilainya potensial sebagai tujuan ekspor sarang burung walet.
"Mungkin Asia Tenggara ya, negara Asia Tenggara seperti Filipina itu salah satu yang kita sasar sebenarnya di tahun depan juga. Saat ini belum (ada negara di luar Asia), Amerika yang akan jadi salah satu pasar yang non-Asia yang akan kita sasar. Karena Amerika sendiri kan punya komunitas penduduk Asia yang sangat besar juga," jelas Edwin.
Resmi IPO
Sebelumnya, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) resmi tercatat di bursa efek Indonesia. Saham yang ditawarkan perusahaan melonjak hingga 34 persen di awal pembukaan perdagangan.
RLCO sendiri menetapkan harga penawaran di angka Rp 168 per saham. Saat pencatatan perdana saham atau initial public offering (IPO), saham RLCO melonjak 34,52% menjadi Rp 226 per saham.
Direktur Utama RLCO, Edwin Pranata menyampaikan ini menjadi babak baru bagi perseroan. Namun, tak hanya itu, IPO RLCO menjadi tonggak sejarah baru industri pengolahan sarang walet di Indonesia.
Babak Baru
"Pencatatan saham di BEI bukan hanya menandai babak baru bagi perudahaan tapi juga babak baru bagi masyarakat indonesia. Karena mulai hari ini kita tidak lagi hamya berbicara tentang prestasi sebuah perusahaan semata," kata Edwin dalam seremoni IPO PT Abadi Lestari Indonesia Tbk, di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (8/12/2025).
BEI mencatat, saham RLCO diserbu oleh 520.000 ribu pada proses penawaran umum. Sehingga menjadikan RLCO mencatatkan oversubcribed terbesar sepanjang sejarah.
"Kami ucapkan selamat atas IPO yang menjadi perusahaan tercatat ke 25 di tahun 2025. Menjadikan total perusahaan tercatat menjadi 955," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna.