Liputan6.com, Jakarta - Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi harga emas dunia dan logam mulia masih berpotensi bergerak fluktuatif pada pekan ini. Pergerakan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor teknikal dan tekanan sentimen global yang masih kuat.
“Saya melihat untuk harga emas dunia kemarin ditutup di USD 4.595, kemudian logam mulianya ditutup di Rp 2.688.000,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, dikutip Senin (19/1/2026).
Advertisement
Dari sisi teknikal, Ibrahim menjelaskan bahwa jika harga emas dunia mengalami koreksi, level support pertama berada di kisaran USD 4.553 per troy ons, dengan potensi harga logam mulia turun ke sekitar Rp 2.638.000. Apabila tekanan berlanjut hingga support kedua di USD 4.489 per troy ons, harga logam mulia berpeluang turun ke kisaran Rp 2.560.000.
Sebaliknya, jika terjadi penguatan, emas dunia berpeluang menguji resistance pertama di USD 4.655 per troy ons, yang diperkirakan mendorong harga logam mulia ke sekitar Rp 2.700.000. Pada resistance kedua, penguatan emas dunia berpotensi mencapai USD 4.706 per troy ons, dengan harga logam mulia berpeluang bergerak hingga Rp 2.820.000.
Ia menilai pergerakan harga emas dunia dan logam mulia tersebut turut dipengaruhi oleh kembali meningkatnya ketegangan perang dagang global. Kebijakan tarif antara Uni Eropa, Tiongkok, dan Amerika Serikat dinilai memperbesar ketidakpastian ekonomi global yang mendorong permintaan terhadap aset lindung nilai.
Selain itu, dinamika politik di Amerika Serikat serta eskalasi geopolitik di sejumlah kawasan seperti Eropa dan Timur Tengah juga memberi tekanan pada pasar keuangan global. Kondisi tersebut mendorong bank sentral global meningkatkan kepemilikan logam mulia sebagai langkah antisipasi risiko.
“Kondisi terjadi di Eropa, di Timur Tengah membuat Bank Sentral Global kembali melakukan pembelian terhadap logam mulia secara besar-besaran,” kata Ibrahim.
Ia menambahkan, di dalam negeri, pergerakan harga logam mulia juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah, sehingga harga emas domestik cenderung bergerak lebih sensitif terhadap tekanan eksternal.
Prediksi Harga Emas Pekan Ini Dibayangi Data Ekonomi AS
Ketegangan geopolitik global yang diikuti gejolak domestik mendorong harga emas menembus rekor tertinggi pekan lalu, seiring volatilitas yang kembali menguat di pasar logam mulia.
Melansir Kitco News, Senin (19/1/2026), harga emas spot mengawali pekan di level USD 4.529,89 per ons. Setelah kabar gugatan Departemen Kehakiman AS terhadap Federal Reserve merebak, harga emas melonjak tajam dan mencapai puncak USD 4.591,53 pada Minggu malam sekitar pukul 19.30.
Harga emas spot diperdagangkan sedikit di bawah USD 4.600 per ons. Setelah sempat terkoreksi ke area support penting di sekitar USD 4.582, pasar AS dibuka dengan sentimen baru terkait langkah pemerintahan Trump yang menyerang The Fed.
Volatilitas tinggi terlihat sejak awal perdagangan. Harga emas spot sempat menembus USD 4.600 dan menyentuh level tertinggi harian di kisaran USD 4.616. Namun, harga kemudian turun tajam ke sekitar USD 4.586 menjelang pembukaan bursa saham, sebelum kembali menguat hingga USD 4.630.
Proyeksi Emas Pekan Ini
Survei Emas Mingguan Kitco News terbaru menunjukkan pandangan analis Wall Street masih terbelah terkait arah harga emas dalam jangka pendek. Sementara itu, investor ritel justru semakin menguatkan pandangan mayoritas yang masih optimistis terhadap prospek emas.
Adam Button, kepala strategi mata uang di Forexlive.com, menilai prospek emas cenderung melemah. Menurutnya, komentar terbaru mengenai Kevin Hassett menegaskan meningkatnya taruhan terhadap independensi Federal Reserve.
Ia juga menilai keputusan Mahkamah Agung terkait tarif berpotensi berlawanan dengan kehendak Presiden. Button menekankan bahwa hingga ada kejelasan soal kebijakan tarif dan posisi Ketua The Fed, investor sebaiknya bersikap menunggu di pasar logam mulia.
“Naik. Aturan Pasar Newsom 1, jangan melawan tren, dan trennya adalah naik,” kata analis pasar senior di Barchart.com, Darin Newsom.